Selidik Zaman Klasik: Kehidupan Multikulturalisme di Majapahit

By Mahandis Yoanata Thamrin, Kamis, 16 Juni 2022 | 13:03 WIB
Litografi reruntuhan Candi Menak Jingga, Majapahit, karya Auguste van Weissenbruch, 1852. Berkat kerajaan adikuasa masa klasik, kita bisa mendapatkan teladan multikulturalisme, menghargai hidup rukun bersama beragam budaya dan agama. (KITLV)

Nationalgeographic.co.id—Majapahit dibentuk dalam budaya multikultur,” ungkap Guru Besar bidang arkeologi Hariani Santiko sambil membelai kucing persia kesayangannya sementara kucing-kucing lainnya seolah berlomba mencari perhatian. Meskipun telah pensiun sebagai dosen di Universitas Indonesia, hingga kini dia masih terlibat aktif dalam berbagai penelitian.

Pada masa keemasan dalam takhta Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanagara yang didampingi Mahapatih Gajah Mada, Majapahit telah berhasil dalam menghimpun kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Meski sang mahapatih hanya mendampingi selama 14 tahun, keberhasilan ini tidak hanya dalam hal politik atau keamanan regional, tetapi juga dalam perdagangan.

Majapahit berkepentingan mengamankan wilayah kerajaan-kerajaan lain karena kerajaan adikuasa itu membutuhkan pasar untuk menjual hasil buminya, sekaligus membutuhkan sumber daya dari kerajaan lain yang berpotensi untuk perdagangan.“Dengan adanya konsep politik Gajah Mada, maka terjadilah hubungan dagang,” ungkapnya, “sehingga masyarakat Majapahit menjadi multikultur.”  Majapahit berkembang menjadi sebuah metropolitan, tempat beragam budaya dan agama bertemu dan membentuk kehidupan kota.

Koin Cina dari Sung Selatan sekitar 1237-1240, dikeluarkan pada periode Chia Hsi. Koin ini ditemukan di permukiman kuno Sentonorejo, Trowulan, tatkala para ahli arkeologi melakukan penggalian. Sentonorejo diperkirakan bagian dari Keraton Majapahit. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

Gambaran ragam budaya yang hidup bersama di Majapahit dituliskan oleh Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama pada 1365, “Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jumbudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana, Campa, dan Goda, serta  Saim. Mereka mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta, semua merasa puas, menatap dengan senang.”

Hariani menambahkan, walaupun belum sebagai  “poli bangsa” di Kerajaan Majapahit, pendatang asing telah menjadi perhatian Rajasanagara.  “Mungkin para pendatang dari berbagai bangsa itu bertempat tinggal di Trowulan,” ungkap Santiko, “Hayam Wuruk mengangkat seorang pejabat yang disebut Juru Kling untuk mengatur para pendatang.”

Rajasanagara telah “menempatkan rumah ibadah yang akhirnya membentuk tata kota Majapahit:  Sebelah timur untuk Siwa, sedangkan sebelah Barat untuk Buddha,” kata Hariani. Untuk menjaga hegemoninya, setiap tahun sang raja juga berkeliling ke tempat-tempat yang berbeda, dari kota pelabuhan hingga tempat pertapaan pendeta Siwa di gunung-gunung.

   

Baca Juga: Jejak Majapahit di Bromo: Suku Tengger dan Kehidupan Sosial-Budayanya

 Baca Juga: Gayatri: Wanita di Balik Suksesnya Raden Wijaya Membangun Majapahit

 Baca Juga: Kampung Manjopaiq: Mencari Jejak Sejarah Majapahit di Sulawesi Barat

 Baca Juga: Prasasti Mpu Sindok Ditemukan di Situs Gemekan, Apakah Isinya Kutukan?