Membatasi Cahaya Biru Selama Satu Minggu Dapat Mengatasi Masalah Tidur

By Ricky Jenihansen, Senin, 27 Juni 2022 | 12:00 WIB
Paparan cahaya biru yang berlebihan pada waktu tidur secara negatif mempengaruhi kualitas tidur (Getty Images)

Nationalgeographic.co.id—Tim ilmuwan gabungan di Benlanda mencoba menyelidi paparan cahaya biru pada remaja yang umumnya berasal dari layar gawai seperti ponsel pintar, tablet. Mereka menemukan bahwa membatasi paparan cahaya biru selama seminggu dapat meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi gejala kelelahan, kurang konsentrasi dan suasana hati yang buruk pada remaja.

Seperti diketahui, paparan cahaya biru yang berlebihan pada waktu tidur secara negatif mempengaruhi kualitas tidur, suasana hati, dan konsentrasi di kalangan remaja. Di masa akan datang, gangguan tidur juga dikaitkan dengan masalah obesitas, diabetes hingga penyakit kardiovaskuler.

Untuk itulah para peneliti dari Netherlands Institute of Neuroscience, the Amsterdam Universitair Mediche Centra, dan the Dutch National Institute for Public Health and the Environment bekerjasama untuk menyelidikan efek paparan cahaya biru.

Menurut para peneliti, paparan cahaya biru dapat mempengaruhi jam otak dan produksi hormon tidur melatonin. Sebagai akibatnya, waktu dan kualitas tidur terganggu.

Sejumlah kumpulan penelitian yang sudah ada sebelumnya juga menemukan bahwa cahaya biru yang dipancarkan dari ponsel pintar dan tablet dapat mengganggu jam internal tubuh.

Oleh karena itu, studi kali ini telah mengungkapkan bahwa masalah ini dapat dibalik setelah hanya satu minggu membatasi penggunaan layar di malam hari. Temuan mereka ini dipresentasikan di European Society of Endocrinology annual meeting.

Kurang tidur tidak hanya menyebabkan gejala jangka pendek seperti kelelahan dan kurang konsentrasi, tetapi juga meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang yang serius termasuk penyakit jantung, diabetes dan obesitas.

Tidur cukup dan berkualitas memiliki banyak dampak positif. (Eight Sleep / Emily Bertha)

Para peneliti menyelidiki efek paparan cahaya biru pada remaja di rumah. Mereka menatap layar lebih dari 4 jam setiap harinya, memiliki rata-rata 30 menit waktu tidur yang lebih lambat serta gejala kurang tidur dibandingkan mereka yang hanya menatap layar satu jam setiap harinya.

Tim peneliti kemudian melakukan uji coba terkontrol secara acak untuk menilai efek memblokir cahaya biru dengan kacamata dan tidak ada waktu layar pada malam hari pada pola tidur 25 pengguna. Baik cahaya biru yang diblokir dengan kacamata, membatasi penggunaan layar, gejala tidur kemudian dilaporkan satu minggu kemudian.

"Remaja sering menghabiskan waktu menatap layar perangkat mereka dan dan keluhan tidur sering terjadi pada kelompok usia ini. Penelitian ini menunjukkan dengan sangat sederhana bahwa keluhan tidur ini dapat dengan mudah diselesaikan," kata rekan peneliti, Dirk Jan Stenvers dari departemen Endokrinologi dan Metabolisme di Amsterdam Universitair Mediche Centra.

Ia menjelaskan, pada penelitian ini mereka menunjukkan dengan sangat sederhana bahwa keluhan tidur ini dapat dengan mudah diatasi dengan meminimalkan penggunaan layar malam hari atau paparan cahaya biru. Membatasi cahaya biru dalam 1 minggu dapat mengatasi masalah tidur pada remaja.

"Berdasarkan data kami, ada kemungkinan bahwa keluhan tidur remaja dan waktu tidur yang tertunda setidaknya sebagian dimediasi oleh cahaya biru dari layar."

Para peneliti sekarang berencana untuk mengeksplorasi berapa lama efek pengurangan waktu layar dapat bertahan, dan apakah efek yang sama dapat ditemukan pada orang dewasa.

"Gangguan tidur dimulai dengan gejala ringan kelelahan dan konsentrasi yang buruk tetapi dalam jangka panjang kita tahu bahwa kurang tidur dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung," kata Stenvers.

"Jika kita dapat memperkenalkan langkah-langkah sederhana sekarang untuk mengatasi masalah ini, kita dapat menghindari masalah kesehatan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang."