Dunia Hewan: Penemuan Spesies Baru Burung di Pulau Terisolasi

By Ricky Jenihansen, Sabtu, 17 September 2022 | 15:06 WIB
Rayadito subantartika (Aphrastura subantarctica). (Rozzi et al.)

Nationalgeographic.co.id—Para ahli ornitologi telah mendeskripsikan spesies baru burung yang ditemukan di pulau terisolasi di Amerika Selatan. Spesies baru burung ini ditemukan di Kepulauan Diego Ramirez yang terletak 100 kilometer dari Cape Horn, Chili Selatan.

Kepulauan Diego Ramirez merupakan gugus pulau-pulau paling selatan Amerika Selatan. Penemuan ini telah membuat para ahli biologi takjub bagaimana burung yang dikenal dengan "rayadito subantartika" ini terdapat di sana.

Temuan ini menyoroti pentingnya mengamati beberapa tempat paling terpencil di bumi. Laporan penemuan dan deskripsi lengkap temuan ini telah dipublikasikan di scientific reports.

Makalah tersebut merupakan jurnal akses terbuka. Jurnal ini bisa didapatkan dengan judul "The Subantarctic Rayadito (Aphrastura subantarctica), a new bird species on the southernmost islands of the Americas."

Dijelaskan, burung ini berwarna coklat, bertubuh kecil, dengan berat sekitar 16 gram atau kira-kira setengah ons dan memiliki corak hitam dan kuning bersama dengan paruh besar.

Spesies ini berbeda dari rayadito ekor duri dengan paruhnya yang lebih besar, tarsi yang lebih panjang, ekor yang lebih pendek, dan massa tubuh yang lebih besar.

Ia bergerak pada jarak yang lebih pendek dari permukaan tanah, dan bukannya bersarang di rongga di pohon, ia berkembang biak di rongga di tanah, mencerminkan sejarah kehidupan yang berbeda.

Burung kecil berwarna cokelat ini memiliki berat sekitar 16 gram dengan paruh besar. (University of Magallanes)

"Perbedaan genetik, morfologis, dan ekologis dari populasi rayadito subantarktika, yang mungkin dihasilkan dari isolasi di sebuah pulau dengan habitat yang berbeda, mungkin merupakan proses evolusi yang sedang berlangsung," kata para penulis.

"Karena ukuran kecil pulau Diego Ramírez dan potensi kedatangan predator mamalia eksotis, sangat mendesak untuk melindungi spesies endemik baru ini dari kepunahan."

Kepulauan Diego Ramirez tidak hanya terisolasi secara geografis, tetapi juga tidak memiliki predator mamalia darat dan tanaman berkayu, menurut studi tersebut.

Kelompok kecil pulau-pulau sub-Antarktika memiliki iklim tundra, yang berarti bahwa pertumbuhan pohon di gugus kepulauan terhambat oleh suhu yang pekat dan musim tanam yang pendek.

 Baca Juga: Dunia Hewan: Misteri Berabad-abad Distribusi Terbatas Burung Gunung

 Baca Juga: Dunia Hewan: Warna Mencolok Burung Penyanyi Membuat Mereka Berisiko

 Baca Juga: Dunia Hewan: Mengapa Burung Flamingo Berdiri dengan Satu Kaki?

Ada hewan yang bertahan hidup di lingkungan yang keras itu, jelas mengejutkan. Penemuan ini mengejutkan karena burung itu ditemukan bersarang di tempat tanpa tanaman berkayu, menyerupai spesies rayadito yang menghuni hutan Patagonia selatan dan hidup di rongga batang.

"Tidak ada semak-semak dan tidak ada spesies hutan, secara harfiah di tengah lautan seekor burung hutan berhasil bertahan hidup," Ricardo Rozzi, seorang akademisi dari University of Magallanes di Chili dan University of North Texas, ia mengatakan kepada kantor berita Reuters.

Rayadito subantartika (Aphrastura subantarctica). (Rozzi et al.)

Magallanes juga merupakan direktur Pusat Internasional Cape Horn untuk Studi Perubahan Global dan Konservasi Biokultural (CHIC).

Selama penelitian, yang berlangsung selama enam tahun, para ilmuwan menangkap dan mengukur 13 individu di pulau itu.

"Burung-burung dari populasi Diego Ramirez secara signifikan lebih berat dan lebih besar (dengan paruh yang lebih panjang dan lebih lebar dan tarsi yang lebih panjang), tetapi mereka memiliki ekor yang jauh lebih pendek," menurut penelitian tersebut.

Dengan temuan tersebut, para peneliti mengatakan penelitian tersebut menekankan "perlunya untuk memantau dan melestarikan kepulauan yang masih asli ini tanpa spesies eksotis" yang dibawa dari tempat lain, biasanya oleh manusia, yang kemudian sering memangsa fauna lokal.

Pada tahun 2017, pemerintah Chili mengumumkan pembuatan Taman Laut Jalur Kepulauan Diego Ramírez-Drake, yang melindungi Kepulauan Diego Ramirez.

Taman ini mencakup 140.000 kilometer persegi perairan selatan Chili, mulai dari Cape Horn dan meluas ke selatan hingga 200 mil dari zona ekonomi Chili menuju Antarktika.