Inilah Alasan Sains Mengapa Banyak Orang Bahagia dan Suka Bepergian

By Utomo Priyambodo, Sabtu, 29 Oktober 2022 | 12:00 WIB
Banyak orang yang bahagia dan suka bepergian. Ternyata ada alasan sains soal kecintaan sebagian orang pada traveling. (Vladimir Vladimirov/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id - Bayangkan Anda perlahan menjauh dari meja kerja dan bersiap untuk bepergian ke tempat baru. Membeli tiket, mengalami budaya yang berbeda dan mencicipi rasa yang berbeda.

Masing-masing langkah ini sepertinya cukup menjadi alasan untuk membuat Anda bersemangat dan bahagia. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perjalanan memberi kita kebahagiaan karena alasan biologis.

Hormon dopamin, yang sangat penting bagi tubuh dan otak, adalah bahan kimia yang secara langsung memengaruhi suasana hati orang dan melepaskan adrenalin. Ketika disekresikan dalam jumlah melimpah, perasaan bahagia dan senang terpicu. Adapun tingkat dopamin yang rendah mengurangi motivasi pada orang.

Menurut penelitian, sebagaimana dikutip dari Daily Sabah, orang yang memiliki kadar dopamin tinggi dianggap memiliki gen DRD4 yang telah dikaitkan dengan berbagai kecanduan. Oleh karena itu, ada hubungan antara kelebihan dopamin di otak dan kecenderungan seseorang—atau kecanduan—untuk berpartisipasi dalam tindakan berbahaya dan impulsif seperti bepergian.

Justin Garcia, seorang ahli biologi di Kinsey Institute, Indiana University, telah menyarankan bahwa tingkat dopamin yang tinggi dan gen DRD4 adalah alasan mengapa orang-orang primitif meninggalkan rumah mereka dan menemukan daerah baru dengan harapan mencari makanan, pasangan, dan tempat tinggal. Meskipun kebutuhan bertahan hidup tidak lagi digunakan di dunia sekarang ini, latar belakang biologis, yaitu tingkat dopamin yang tinggi dan gen DRD4, mungkin menjadi alasan mengapa orang suka bepergian di dunia modern saat ini.

Dengan demikian, Garcia menyatakan bahwa gen DRD4 adalah penjelasan penting mengapa beberapa orang menganggap bepergian sebagai hal yang menyenangkan dan yang lainnya menakutkan.

Singkatnya, mereka yang memiliki kelebihan dopamin dan gen ini mungkin lebih tertarik pada perjalanan dan menerima perubahan atau petualangan.

Baca Juga: Catatan Perjalanan Kuno: Bagaimana Cara Orang Romawi Bepergian?

Baca Juga: Catatan Pelancong tentang Rumah Candu di Pontianak Masa Hindia Belanda

Baca Juga: Membuat Bahagia dan Produktif, Ini Manfaat Traveling Bagi Kesehatan Mental 

Garcia pernah membahas soal gen DRD4 ini dengan seorang narablog perjalanan terkenal, Nomadic Matt. Menurut penjelasannya, gen nafsu berkelana ini berasal dari puluhan ribu tahun yang lalu ketika manusia bermigrasi keluar dari Afrika dan masuk ke wilayah lain dunia.

Tindakan migrasi ini terkait dengan "keingintahuan dan kegelisahan." Temuan ini menunjukkan bahwa kerinduan kita untuk bepergian, menjelajahi tempat-tempat baru dan memulai petualangan baru mirip dengan nenek moyang kuno kita.

Justin Garcia lebih lanjut menjelaskan, “Orang-orang berbicara tentang DRD4 dalam hal pengambilan risiko. Namun ada dorongan untuk mengubah itu. Karena kita tidak tahu apakah gen ini benar-benar tentang mengambil risiko, atau tentang menempatkan diri Anda dalam situasi di mana Anda dapat berinteraksi dengan rangsangan dan lingkungan baru, yang merangsang sistem saraf dengan cara tertentu,” katanya.

“Beberapa orang tampaknya benar-benar membutuhkan kebaruan itu, dan mereka mencarinya di mana pun mereka bisa mendapatkannya.”

Kebaruan atau pengamalan baru lewat bepergian itu tidak sepenuhnya buruk. Mereka yang memiliki gen ini mungkin lebih cenderung menerima perubahan dan petualangan. Yang jelas, dengan adanya gen ini, Anda jadi cenderung bersemangat pada hal-hal yang terkait dengan perjalanan.