Peran Wanita Kekaisaran Ottoman di Masa Pemerintahan Suleiman Agung

By Sysilia Tanhati, Senin, 30 Januari 2023 | 10:00 WIB
Di era pemerintahan Suleiman Agung dari Kekaisaran Ottoman, wanita turut berperan dalam urusan eksternal dan internal kekaisaran. (French School)

Nationalgeographic.co.id—Di zaman pemerintahan Suleiman Agung, wanita turut berperan dalam banyak hal. Masa ini dikenal dengan sebutan Kesultanan Wanita (Kadınlar Saltanatı). Periode ini dimulai pada tahun 1520 dan berlangsung hingga Turhan Sultan meninggal pada 1683. Periode ini menandai sejarah Kekaisaran Ottoman dengan meningkatnya peran wanita baik dalam urusan internal maupun eksternal. Peran wanita meluas ke politik. Harem, tempat yang disediakan untuk istri, selir, dan pelayan wanita, menjadi tempat yang memengaruhi keputusan kekaisaran. Bagaimana peran wanita selama masa pemerintahan Suleiman Agung di Kekaisaran Ottoman?

Kesultanan Wanita di Kekaisaran Ottoman

Kesultanan Wanita berlangsung pada paruh kedua abad ke-16 dan ke-17 Kekaisaran Ottoman atau Kesultanan Utsmaniyah. Periode ini kira-kira bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Suleiman I (1494-1566). “Sebutan Kesultanan Wanita berasa dari pengaruh yang diperoleh wanita di dalam istana kekaisaran Suleiman,” tulis Anisia Iacob di laman The Collector.

Sebelum pemerintahan Suleiman I atau Suleiman Agung, perempuan memainkan peran tradisional sebagai istri dan ibu. Mereka terbatas pada peran dalam rumah tangga dan tidak memiliki kesempatan untuk memengaruhi politik.

Selama periode ini, istri sultan (Haseki Sultan) atau ibu sultan (Valide Sultan) mulai mencampuri bidang-bidang yang berada di luar pengaruh tradisional harem.

Kehidupan dan peran perempuan biasa sangat bergantung pada status sosial mereka di Kekaisaran Ottoman. Secara umum, wanita menjalani kehidupan terpencil karena pemisahan berdasarkan jenis kelamin dipraktikkan secara luas di kekaisaran. “Wanita menikmati kebersamaan dengan wanita lain,” tambah Iacob. Namun, selama pemerintahan Suleiman, perempuan dapat menikmati status yang lebih egaliter.

Valide Sultan dan pengaruhnya yang luar biasa di Kekaisaran Ottoman

Di antara para wanita istana, ibunda sultan memegang kekuasaan dan pengaruh luar biasa dengan gelar Valide Sultan. Gelar ini dipegang oleh ibu dari seorang sultan yang berkuasa di Kekaisaran Ottoman. Gelar ini pertama kali digunakan oleh Hafsa Sultan, permaisuri Selim I dan ibu dari Suleiman I. Dalam kasus-kasus khusus, nenek dan ibu tiri dari sultan yang sedang berkuasa juga dapat menggunakan gelar ini.

Posisi ini sangat menonjolkan peran perempuan pada masa Kesultanan Wanita karena merupakan posisi terpenting kedua di Ottoman. Valide Sultan memiliki pengaruh besar pada urusan kekaisaran, pengadilan, dan staf kekaisaran. Dia juga memiliki sumber daya ekonomi berlimpah yang memungkinkannya untuk memulai proyek arsitektur yang besar.

Valide Sultan sering terlibat dalam proyek amal, membangun rumah sakit untuk warga sipil, dan juga pelindung seni. Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan di kekaisaran juga meluas ke ranah sosial.

Suleiman I dan wanita di Kekaisaran Ottoman

Suleiman Agung adalah salah satu penguasa paling sukses dalam sejarah Kekaisaran Ottoman. Selama masa pemerintahannya, Kekaisaran Ottoman berada di puncak kemakmuran ekonomi, militer, dan politiknya. Masa kemakmuran ini berdampak pada peran perempuan. Perempuan diperbolehkan untuk berperan dalam banyak hal di luar harem.

Perempuan memainkan peran penting dalam kehidupan Suleiman. Ibunya, Hafsa Sultan, adalah pengaruh saat ini di bagian pertama pemerintahannya. Sementara Hurrem Sultan menandai urusan pribadi dan politiknya.

Sudah menjadi tradisi bagi sultan untuk memiliki harem dan banyak pasangan. Dengan cara ini, sultan akan tetap netral dan tidak dipengaruhi oleh satu wanita pun.

Harem Suleiman I hanya berisi 17 wanita. Namun salah selirnya berhasil memberikan pengaruh besar dalam hidupnya. Ia adalah Hurrem. Suleiman I bahkan melanggar tradisi dan menikahinya.

Pernikahan ini juga menganugerahkan status tinggi kepada Hurrem sehingga dia hampir setara dengan sultan. Maka tidak heran jika wanita di lingkungan istana berhasil naik ke tampuk kekuasaan pada masa pemerintahan Suleiman I.

Hurrem Sultan

Sebagai salah satu dari dua permaisuri Suleiman I, Hurrem terus naik ke tampuk kekuasaan. Ia adalah wanita pertama dalam sejarah Kekaisaran Ottoman yang ikut campur dalam urusan kekaisaran.

Kasus Hurrem Sultan mungkin yang paling menggambarkan peran perempuan dan kekuasaan mereka selama Kesultanan Perempuan.

“Hurrem juga bertindak sebagai penasihat Suleiman I, memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri dan politik internasional,” ujar Iacob.

Selain politik, dia sangat terlibat dalam pekerjaan amal. Hurrem sangat peduli dengan orang miskin dan sering memberikan sedekah yang murah hati. Pengaruhnya pun jadi berlipat ganda karena memengaruhi lingkungan kekaisaran melalui politik dan masyarakat lewat amalnya.

Mihrimah Sultan

Mihrimah, putri Hurrem dan Suleiman I, adalah putri paling berkuasa dalam sejarah Kekaisaran Ottoman. Putri kesayangan Suleiman, Mihrimah menikah dengan Rustem Pasha, yang kemudian menjadi Wazir Agung Sultan. Wazir Agung adalah posisi tertinggi di dewan penasehat.

Sebagai putri sultan dan istri Wazir Agung, Mihrimah memperoleh kekuasaan dan pengaruh yang besar.

Mihrimah Sultan, Putri Hurrem Sultan dan Suleiman Agung, yang memiliki pengaruh besar di Kekaisaran Ottoman. (Tiziano Vecelli)

Setelah kematian ibunya, ia menjadi penasihat Suleiman I, orang kepercayaan, dan kerabat terdekat sultan. Mihrimah juga menangani urusan luar negeri karena dia sangat populer. Putri Ottoman itu terkenal baik di timur maupun di barat karena sering bepergian.

Sama seperti ibunya, Mihrimah terlibat dalam proyek amal. Ia mensponsori pembangunan kompleks masjid yang kemudian akan didedikasikan untuk ayahnya.

Mihrimah Sultan memainkan peran unik selama Kesultanan Wanita. Pasalnya, ia tidak naik ke tampuk kekuasaan dengan menjadi istri atau favorit sultan. Garis keturunan kekaisaran langsung yang menjamin peluang politik sang putri.

Baca Juga: Dua Abad Sebelum Berakhir, Kekaisaran Ottoman Dijuluki Pesakitan Eropa

Baca Juga: Hürrem Sultan, Budak Rusia yang Jadi Permaisuri di Kekaisaran Ottoman

Baca Juga: Misterius dan Terasing, Begini Kehidupan di Harem Kekaisaran Ottoman

Baca Juga: Harem Kekaisaran Ottoman, Bukan Sekadar Wanita Cantik Belaka

Akhir pemerintahan perempuan di Kekaisaran Ottoman

Berakhirnya Kesultanan Wanita ditandai dengan masa pemerintahan dua Valide Sultan. Mereka adalah Kosem Sultan dan Turhan Sultan.

Kosem Sultan adalah Valide selama 62 tahun, mengawasi pemerintahan enam sultan yang berbeda.

Turhan, menantu Kosem, adalah Valide Sultan yang terakhir. Dia dianggap sebagai sultan wanita paling kuat karena dia benar-benar berbicara dalam rapat alih-alih hanya di balik layar. Setelah kematian Turhan, kekuasaan Valide Sultan mulai berkurang karena Wazir Agung menjadi lebih berpengaruh dalam politik Kekaisaran Ottoman.

Wazir Agung adalah kepala penasihat dari dewan penasehat dan memiliki pengaruh langsung terbesar atas sultan. Oleh karena itu, peran perempuan dalam urusan kesultanan dan politik perlahan-lahan padam. Kehidupan perempuan Ottoman pun kembali ke situasi yang lebih tradisional yang ada sebelum Kesultanan Wanita.