Dunia Hewan: Ketika Seekor Burung Beo Menyelamatkan Bahasa yang Punah

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Kamis, 8 Juni 2023 | 10:00 WIB
Karena kemampuannya mengikuti kata-kata manusia, secara tidak langsung burung beo pernah menyelamatkan bahasa suku pedalaman yang hampir punah. 40 kata dicatat oleh Alexander von Humboldt. (Lynnm Stone/National Geographic)

Humboldt sempat berjumpa dengan masyarakat adat suku Guahibo di sebuah perkampungan pelosok dekat air terjun sekitar Sungai Orinoco, Venezuela. Mereka menceritakan bahwa ada suku bernama Atures pernah bertikai dengan suku Karib.

Lukisan cat minyak sosok Alexander von Humboldt, naturalis dan geografer berkebangsaan Jerman (1769-1859). Dia menemukan burung beo penutur bahasa yang telah punah. (Friedrich Georg Weitsch)

"Orang-orang Atures yang suka berperang, yang dikejar oleh suku Karib, melarikan diri ke bebatuan yang menjulang di tengah Katarak Basar; dan di sana bangsa itu, yang sebelumnya begitu banyak jumlahnya, berangsur-angsur punah, begitu pula bahasanya," tulis Humboldt. Keluarga terakhir dari suku Atures diyakini masih ada pada tahun 1767.

"Selama perjalanan kami, seekor burung beo tua diperlihatkan di Maypures, yang menurut penduduknya—dan faktanya layak untuk diamati—bahwa mereka tidak mengerti apa yang dikatakannya, karena itu berbicara bahasa Atures," simpulnya.

Meski terkesan unik cerita perjumpaan Humboldt dengan burung beo penutur bahasa yang punah, ahli bahasa menganggap kisah ini adalah menunjukkan bahwa bahasa sangat rapuh dalam kepunahan. Oleh karena itu, penting bagi ahli bahasa dan pegiat pelestarinya untuk melakukan perekaman.

Sayangnya, konflik manusia sudah ada sejak dulu. Ada banyak bahasa yang punah sebelum alat perekaman suara mengumpulkannya, seperti bahasa Mesir kuno dan Sumeria kuno yang mungkin telah kehilangan penuturnya lebih dari 19 abad sebelumnya.

Lagi pula, burung beo bukan perekam bahasa manusia yang baik. Walaupun burung beo bisa mengikuti apa yang diucapkan manusia, dan juga mengeluarkan respon dengan konteks kejadian tertentu pada saat kata harus diucapkan, mereka tidak akan memahami artinya.

Ada banyak bahasa yang belum beraksara seperti masyarakat Venezuela saat dikunjungi Humboldt. Meskipun mungkin masyarakat suku adat yang berada di dalamnya bersebelahan, keragaman bahasa bisa membuat kata-kata dan fonetik tertentu punya arti yang beda.

UNESCO saat ini mencatat bahwa ada 3.000 bahasa terancam punah di akhir abad ke-21. Alat perekam suara dan tulisan yang memuat, mungkin bisa menyelamatkan bahasa yang punah untuk tetap diabadikan.

Namun, bahasa-bahasa tersebut adalah milik masyarakat adat yang mulai meninggalkan penuturannya. Pelestarian dari pemiliki bahasa diperlukan. Sebab, bahasa adalah salah satu penemuan manusia dalam evolusinya untuk membangun peradabab.