Sejarah Kecerdasan Buatan: Perjalanan Terjal Mewujudkan Gagasan AI

By Galih Pranata, Minggu, 27 Agustus 2023 | 14:00 WIB
Nina Schick, seorang pakar AI Generatif yang berkaca dari perkembangan sejarah kecerdasan buatan untuk merekonstruksi AI sebagai problem solver dalam kompleksitas manusia modern di masa mendatang. (Motivational Speakers Agency)

Nationalgeographic.co.idPada paruh pertama abad ke-20, fiksi ilmiah memperkenalkan dunia pada konsep robot dengan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Sejarahnya dimulai dengan Tin-man "tak berperasaan" dari Wizard of Oz.

Pada tahun 1950-an, dunia memiliki generasi ilmuwan, matematikawan, dan filsuf yang memperkenalkan konsep kecerdasan buatan (AI) yang berasimilasi secara budaya dalam pikiran mereka.

Salah satu tokoh ilmuwan tersebut adalah Alan Turing, seorang polimatik muda Inggris yang mengeksplorasi kemungkinan matematis dari kecerdasan buatan. Turing memperkenalkan konsepsi kecerdasan buatan yang dapat mempermudah manusia.

Ia memperkenalkan konsep "agar manusia memanfaatkan teknologi informasi dan akal mereka untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan," tulis Rockwell Anyoha kepada portal berita ilmiah Harvard University.

Ia menulisnya dalam sebuah artikel berjudul "The History of Artificial Intelligence" yang diterbitkan pada 28 Agustus 2017. Turing memperkenalkan konsep AI dalam makalahnya di tahun 1950, berjudul "Computing Machinery and Intelligence".

Tulisan ilmiah dalam makalahnya "membahas cara membuat mesin cerdas dan cara menguji kecerdasannya," imbuh Rockwell. Gagasan dan konsepnya luar biasa, sempat menggemparkan dunia akademis kala itu.

Nahas, Turing berhenti dengan gagasannya yang cemerlang. Ia tidak sepenuhnya mewujudkan konsep gemilangnya menjadi kenyataan. Lantas, apa yang membuat Alan Turing berhenti untuk meneruskan gagasannya?

Pertama, komputer perlu melakukan perubahan mendasar. Sebelum tahun 1949, komputer tidak memiliki prasyarat utama untuk kecerdasan: mereka tidak dapat menyimpan perintah, hanya menjalankannya.

"Dengan kata lain, komputer dapat diberitahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak dapat mengingat apa yang dilakukannya," terusnya. Kesukaran ini menjadi kendala pertama yang menggugurkan kesempatan Turing mewujudkan konsepnya.

Kedua, perangkat komputasi sangat mahal. Pada awal tahun 1950-an, biaya sewa komputer mencapai $200.000 per bulan. Hanya universitas bergengsi dan perusahaan berbasis teknologi bonafit yang mampu memberikan fasilitas memadai untuk mewujudkan gagasan ini.

"Bukti konsep serta advokasi dari orang-orang terkemuka diperlukan untuk meyakinkan [Turing] sebagai sumber pendanaan bahwa kecerdasan buatan berbasis mesin layak untuk dilakukan [diwujudkan]," terusnya.

Potret yang diambil pada 1958 menggambarkan sejumlah teknisi Inggris yang mengoperasikan komputer digital pertama dari gagasan komputasi kecerdasan buatan rintisan Alan Turing. (Walter Nurnberg)