Singkap Ketimpangan Gender di Balik Tudung Kepala Wanita Joseon

By Tri Wahyu Prasetyo, Kamis, 8 Februari 2024 | 13:00 WIB
Sseugae-chima, yang secara harfiah berarti rok penutup kepala, wajib dikenakan oleh setiap wanita di era Dinasti Joseon. (Via Gwangju News)

Nationalgeographic.co.id—Dalam drama maupun film Korea bertema kerajaan, kita sering menyaksikan wanita mengenakan kain untuk menutupi kepala dan tubuh mereka. Kain yang disebut sseugae-chima–secara harfiah berarti tudung kepala–adalah bentuk pembatasan kaum wanita di era Dinasti Joseon. Namun, ini bukanlah satu-satunya.

Aturan sosial seperti “jarak antar gender” atau “nae-oe beop” merupakan norma-norma yang telah lama dipegang oleh masyarakat Korea, terutama selama periode Dinasti Joseon. Hal ini, menempatkan kebebasan wanita Joseon dalam belenggu.

Dalam tradisi Korea yang dipengaruhi oleh ajaran Konfusius, anak laki-laki dan perempuan dilarang untuk duduk bersama setelah mencapai usia tujuh tahun. 

Tradisi tersebut membentuk sebuah kebiasaan dan sistem yang secara ketat mengatur atau melarang kontak antar jenis kelamin.

Larangan ini juga beriringan dengan “jalan tiga kepatuhan” atau “Sam-jong-ji-do”, sebuah konsep Konfusianisme yang menekankan tiga kewajiban utama bagi wanita. Prinsip-prinsip ini mencakup tunduk pada ayah sebelum menikah, mematuhi suami setelah menikah, dan mematuhi putra setelah kematian suami."

Menurut Profesor Shin Sang-soon, dilansir dari laman Gwangju News, aturan jarak antar gender merupakan aturan sosial tidak tertulis yang sangat efektif untuk membatasi kebebasan wanita selama Dinasti Joseon.

“Aturan menjaga jarak antar gender ini terus berlaku bahkan setelah Reformasi Kabo pada tahun 1894, yang menghapuskan perbedaan kelas antara yangban (kelas elit) dan rakyat jelata,” jelas Shin.

Pasca Reformasi Kabo, diizinkan bagi “wanita untuk menanggalkan selendang wanita mereka (sseugae-chima) yang digunakan untuk menutupi kepala dan tubuh bagian atas ketika keluar rumah, mirip dengan kerudung wanita Muslim.”

Ketimpangan Gender di Era Joseon

Sebuah lukisan yang menunjukan wanita dan pria di era Dinasti Joseon. (Public Domain/Wikimedia Commons)

Shin menjelaskan, bahwa di era Joseon, laki-laki dan perempuan telah diperlakukan berbeda sejak masa anak-anak. 

“Ketika seorang anak laki-laki lahir, ia dibaringkan di atas meja dan disuruh bermain dengan mainan batu giok, dan ketika seorang anak perempuan lahir, ia ditinggalkan di lantai dan disuruh bermain dengan genteng,” jelas Shin.