Seteru Athena dan Arachne, Hingga Menentang Dewa-Dewa Mitologi Yunani

By Ricky Jenihansen, Senin, 11 Maret 2024 | 12:00 WIB
Arachne menenun karya yang dianggap menantang para dewa-dewa mitologi Yunani. (Art Station)

Arachne Marah dengan nasihat ini dan tidak menyadari bahwa yang diajak bicara adalah Athena, Arachne menyuruh wanita tua itu untuk meninggalkannya sendirian dan menyatakan bahwa dia bertekad untuk menghadapi Athena.

Arachne bertanya mengapa Athena belum muncul menghadapnya. Athena memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan penyamarannya.

Karena kesombongannya, Arachne tidak mau mengakui bahwa kemampuan menenunnya merupakan anugerah dari Dewi Athena. (Diego Velázquez/Museo del Prado)

Saat para Nimfa dan wanita memberi penghormatan kepada Athena, Arachne tetap memasang wajah datar, menolak panik dan menarik diri dari tantangan.

Arachne dan Athena mulai bekerja di alat tenun dengan kerumunan orang yang menontonnya dengan penuh semangat.

Athena merangkai kisah epik para dewa dan dewi Olympia, menggambarkan masing-masing dalam cahaya yang indah: Jove (Zeus) yang agung, Neptunus (Poseidon) yang perkasa, dan Athena (Athena) yang berkilau.

Athena juga membuat detail di setiap sudut permadani, menunjukkan manusia yang telah menguji kehendak para dewa dan akibatnya dihukum.

Terakhir, Athena menyelesaikan permadaninya dengan menambahkan pinggiran cabang pohon zaitun – simbol perdamaian dan pohon yang dikeramatkan baginya.

Sebagai balasannya, permadani Arachne menampilkan kisah-kisah manusia, terutama perempuan, yang telah dianiaya.

Ada wanita-wanita yang telah ditipu oleh para dewa: Europa, Leda, Antiope, Danaë dan Alcmene yang menjadi korban para dewa.

Kemudian Zeus, Neptunus dan Saturnus digambarkan bertransformasi dari satu sosok ke sosok lainnya mengejar wanita fana. Perwujudan penipuan dan kelicikan.

Untuk menyelesaikan permadaninya, Arachne menambahkan bunga dan tanaman ivy pada pinggiran permadani.

Permadani Arachne sungguh menakjubkan. Bahkan Athena pun tak bisa menyangkal bukti bakatnya saat itu tepat di hadapannya.

Namun, Arachne telah berani menyinggung para dewa dan menggambarkan mereka secara negatif, sehingga dia dihukum karenanya.

Sementara interpretasi yang lebih modern melihatnya dari sudut pandang feminis, Arachne menentang masyarakat patriarki yang begitu lazim di dunia kuno, khususnya dalam mitologi Yunani.

Permadani Arachne secara terang-terangan mengkritik Olympus dan kekuatan yang diwakili Athena.

Daripada menggambarkan kelahiran dan kisah heroik para dewa mitologi Yunani yang sangat digemari dan populer, Arachne menenun kejahatan para dewa tanpa malu-malu.

Athena tersinggung dengan permadani Arachne. Ia melihatnya sebagai pesan yang secara langsung menantang otoritas para dewa Olympian.