Seni Membayangkan Mutasi Tubuh Hewan Masa Depan Akibat Kerusakan Alam

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Senin, 22 April 2024 | 19:00 WIB
Ragam kolase hasil karya pengunjung anak-anak di Kids Arena Museum MACAN. Kolase ini merupakan ajang untuk membayangkan perubahan mutasi di masa depan pada hewan akibat kerusakan ekologi dan lingkungan. (Donny Fernando/National Geographic Indonesia)

Nationalgeographic.co.id—Pernahkah Anda membayangkan seperti apa rupa hewan di masa depan? Sejak ribuan tahun, kita telah mengubah alam, termasuk merebut bentang alam dan habitat satwa. Kita pun mencemarinya dengan berbagai zat berbahaya.

Bukan hal yang tidak mungkin jika kerusakan ini berdampak pada perubahan besar berbagai spesies dunia hewan. Mungkin bentuk mereka berubah karena terkontaminasi zat berbahaya yang dibuang oleh manusia, atau perilakunya yang berbeda karena harus beradaptasi pada lingkungan yang sulit.

Hal inilah yang diimajinasikan Rega Ayundya Putri, seniman asal Bandung, lewat proyeksi seni Fauna Wastopia di Museum MACAN, Jakarta. Karya seninya itu dipamerkan sejak 18 November 2023 dan diakhiri Minggu, 21 Februari 2024, sebagai bagian dari pameran seni bertema Voice Against Reason.

Karya yang Rega tampilkan bertema fiksi spekulatif akan gambaran terburuk masa depan. Ragam gambar itu ditempel pada tembok. Gambar tersebut bak jendela yang membawa ruang tempat berdiri menuju masa depan distopia ketika kerusakan lingkungan tak terhentikan.

Proyeksi seni ini ini diadakan di Ruang Seni Anak, sebagai upaya memberikan aktivitas yang interaktif pada pengunjung anak-anak. Ketika Fauna Wastopia diusung Museum MACAN sebagai proyeksi interaktif di Ruang Seni Anak, Rega sempat tidak yakin. Pasalnya, gambar-gambar yang dibuatnya dirasa mengerikan untuk anak-anak.

Proyeksi seni partisipatoris ini memberikan kesempatan kepada pengunjung anak-anak untuk ikut membuat karya. Rega tidak menyangka, justru banyak anak-anak pengunjung membuat hewan mutasi yang dinilai lebih mengerikan daripada karyanya sendiri.

"Alih-alih sekadar merasa senang, mereka (anak-anak) itu malah kayak imajinasinya liar aja gitu. Kayak yang jadi lebih bagus dari apa yang aku pesan ke mereka," Rega berpendapat. "Mungkin konsep takut itu ada lebih banyak di orang dewasa. Anak-anak belum mengenal rasa takut seluas itu."

Dalam kegiatannya, pihak Museum MACAN menyediakan peralatan kesenian seperti potongan kertas kolase dari bagian tubuh hewan. Anak-anak dapat menempelkan potongan secara bebas, sehingga menciptakan spesies baru hewan yang telah bermutasi. Hasil karya anak-anak ditempelkan di dinding Kids Arena.

Isu Ekologi dalam Seni

Isu ekologi yang diangkat Rega berasal dari keresahannya terhadap lingkungan sekitarnya. Dia melihat ada banyak perilaku masyarakat yang abai dalam menjaga keasrian alam.

"Waktu aku mulai tinggal sendiri, setelah menikah, itu melihat dengan mata kepala sendiri, gimana orang-orang di lingkungannya, behavior mereka itu tidak seperti apa yang kita expect, cara mereka buang sampah, cara mereka treat tempat sampah, dan banyaknya hal-hal ignorant yang aku temui," jelasnya.

Mutasi kucing dengan leher seperti kadal kadal berjumbai bisa sangat mungkin ada di masa depan. Hewan ini digambar oleh Rega Ayundya Putri, seniman yang menaruh perhatian pada isu ekologi dan lingkungan dengan gaya fiksi spekulatif. (Donny Fernando/National Geographic Indonesia)