Total Football Tak Cocok untuk Timnas Indonesia, Ini Evolusi Taktik Sepak Bola Lawas hingga Modern

By Utomo Priyambodo, Selasa, 25 Maret 2025 | 18:15 WIB
Timnas sepak bola Indonesia dianggap tidak cocok menerapkan gaya atau taktik total football ala Belanda.
Timnas sepak bola Indonesia dianggap tidak cocok menerapkan gaya atau taktik total football ala Belanda. (Timnas Indonesia/Wikimedia Commons)

Pertama, sulit merekrut pemain dengan kondisi fisik yang tepat. Kedua, pemain tidak dapat melewati musim tanpa kemerosotan. Dan ketiga, taktik ini akan bekerja dengan sempurna dalam beberapa pertandingan, tetapi tidak dalam musim yang panjang.

Dalam permainan modern, total football hanya digunakan dalam pertandingan yang paling penting. Dengan komposisi pemain yang idel, ini mungkin bisa menjadi skema yang ideal untuk membingungkan lawan dan memenangkan pertandingan penting.

Taktik Modern: Tiki-taka vs Parkir Bus

Ada banyak pemain yang kuat secara teknis dalam sepak bola modern. Namun, tim yang lebih lemah juga perlu menemukan cara untuk mengalahkan tim tersebut. Itulah sebabnya hampir semua tim terbagi dalam skema bermain parkir bus dan tiki-taka.

Tiki-taka terutama digunakan oleh tim yang kuat secara teknis, misalnya timnas Spanyol 2008-2014. Ini didasarkan pada pergerakan bola yang konstan, mengendalikannya, dan menggunakan umpan pendek. Lawan hanya mengejar pemain tim dan sangat melelahkan untuk bermain sepak bola tanpa bola.

Selama beberapa tahun, sangat sulit untuk melawan tim-tim seperti itu hingga taktik yang sangat defensif muncul. Tim-tim bertahan di setengah lapangan mereka dan tidak membiarkan lawan mereka mendekati area penalti.

Akibatnya, para pemain yang bermain tiki-taka menggulirkan bola di sekitar lapangan, tetapi mendekati gawang tidak dapat berbuat apa-apa. Satu-satunya yang tersisa adalah menendang gawang dari jauh, dan itu tidak selalu memberikan hasil.

Taktik defensif ini disebut parkir bus. Taktik ini sangat sering digunakan melawan tim-tim teknis oleh Jose Mourinho.

Secara skematis, taktik ini adalah 6-2-2. Karena adanya beberapa garis, taktik ini juga disebut bus tingkat. Meski terlihat tidak indah dilihat, taktik ini memungkinkan Mourinho memenangkan Liga Champions dua kali.

Seperti yang Anda lihat, dunia sepak bola telah banyak berkembang secara taktis. Di suatu tempat transformasi tersebut dipengaruhi oleh perubahan aturan. Namun, sebagian besar adalah keputusan pelatih untuk menemukan penawar bagi komposisi pemain lawan yang secara teknis lebih kuat.