Ainu, Suku Misterius di Jepang yang Hidup dalam Persembunyian

By Gregorius Bhisma Adinaya, Senin, 21 Mei 2018 | 10:17 WIB
Oki Kano adalah musisi Ainu dan pendiri Oki Dub Ainu Band di Nemuro, Hokkaido, Jepang. (Washington Post)

Nationalgeographic.co.id - Jepang memiliki suku asli yang hidup dalam persembunyian. Mereka adalah suku Ainu, yang pada 2017 jumlahnya diperkirakan berkisar sekitar 25 ribu. Perkiraan jumlah ini mengundang perdebatan panjang bahwa sebenarnya jumlah mereka lebih dari itu, hanya saja mereka hidup tersembunyi.

Baca Juga: Aktif Melawan Perburuan, Pangeran Harry Memilih Bulan Madu di Afrika

Lebih lanjut, dugaan dibalik kehidupan tersembunyi mereka adalah karena mereka telah hidup dalam diskriminasi selama berabad-abad. Diskriminasi ini membuat mereka menyembunyikan segala identitas dan atribusi—atau bahkan tidak menyadari identitasnya sendiri.

Di luar dugaan-dugaan tersebut, ada satu fakta menarik yang seakan membenarkan berbagai cerita yang ada. Pemerintah Jepang baru mengakui keberadaan suku Ainu sebagai penduduk asli Jepang pada tahun 2008. Sebelum tahun itu, mereka seakan hidup sebagai orang asing di Jepang.

Meski bahasa, budaya, dan praktik keagamaan mereka yang berbeda telah bertahan selama ribuan tahun, namun bahasa asli suku Ainu tidak terkait dengan bahasa lain yang dikenal di planet ini.

Meski begitu, mereka tetap belajar dan bisa berbahasa Jepang. Hal ini dilakukan agar mereka tetap dapat berbaur dengan masyarakat Jepang pada umumnya.

Demikian pula dengan agama dan budaya mereka yang tidak memiliki banyak kaitan dengan budaya tetangga terdekat mereka.

Suku Ainu (Whasington Post)

Baca juga: Karena UFO, NASA Ajak Pria Asal Surabaya Ikuti Pelatihan Hidup di Mars

Secara fisik, mereka memang terlihat berbeda dibandingkan dengan sebagian besar populasi Jepang. Suku Ainu memiliki rambut tebal dan keriting, dengan warna yang cenderung pirang atau merah. Mata mereka berwarna coklat atau biru, dan kulit mereka pun lebih pucat.

Seperti yang sering terjadi bila seseorang atau kelompok dengan perbedaan fisik yang mencolok, mereka pun mengalami ketidakadilan.

Ketika negara Jepang semakin tumbuh, suku Ainu juga semakin terdorong lebih jauh ke utara. Hingga akhirnya mereka terdegradasi hampir seluruhnya ke pulau Hokkaido yang dingin.