Hal-hal yang Perlu Anda Tahu Tentang Korea Utara dan Program Nuklirnya

By Gita Laras Widyaningrum, Selasa, 12 Juni 2018 | 10:51 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyaksikan peluncuran sebuah misil balistik dari kapal selam. (EPA/Telegraph via Kompas.com)

Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, di Singapura menjadi perhatian dunia. Kedua pemimpin yang telah lama bersitegang ini, akhirnya bertatap muka pada Selasa (12/6).

Salah satu agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas tentang denuklirisasi. AS meminta Korut untuk menghapus senjata nuklirnya dengan imbalan berupa jaminan keamanan dan bantuan ekonomi.

Terkait hal tersebut, berikut hal yang perlu Anda ketahui tentang Korea Utara dan senjata nuklirnya:

Warisan Perang Dingin

Jepang menguasai semenanjung Korea pada 1910. Negara tersebut menghabiskan waktu 35 tahun di bawah pemerintahan militer Jepang. Saat Jepang kalah dari AS pada Perang Dunia II, pasukan AS mulai menempati wilayah selatan semenanjung Korea, sementara Soviet menguasai bagian utara.

(Baca juga: Bukan Ilyushin 62M, Kim Jong Un Gunakan Pesawat Lain ke Singapura)

Ketika komunisme mengambil alih Korea Utara, Kim Il-Sung (kakek Kim Jong-Un), muncul sebagai perdana menteri pertama Republik Demokratik Rakyat Korea yang baru didirikan pada 1948.

Sementara itu, Majelis Umum PBB menyetujui pemilihan umum di Korea Selatan. Mereka membuat konstitusi dan meresmikan Republik Korea, dengan Seoul sebagai ibu kotanya.

Terpisah akibat Perang Korea

Ketegangan antara Utara dan Selatan mencapai puncaknya dengan meletusnya Perang Korea pada 1950. Kala itu, Soviet membantu pasukan Korea Utara untuk menyerang Selatan.

Perang Korea – yang menelan 2,5 juta korban – berakhir pada Juli 1953 dengan semenanjung yang tetap terbagi menjadi dua. Zona demiliterisasi seluas 2,5 mil memisahkan Korea Utara dengan Korea Selatan.

Didirikan sesuai ketentuan gencatan senjata, zona tersebut saat ini merupakan cagar alam yang tertutup oleh hutan, muara, dan lahan basah. Ia menampung ratusan spesies burung, ikan, dan mamalia.