Ilmuwan Gunakan Beras Untuk Mencegah HIV, Bagaimana Caranya?

By Gita Laras Widyaningrum, Rabu, 1 Agustus 2018 | 11:01 WIB
Beras bisa menjadi pengganti obat HIV. (pisittar)

Nationalgeographic.co.id - Penelitian terbaru menyatakan bahwa beras hasil modifikasi genetik dapat menyediakan cara untuk mencegah HIV.

Dalam studi yang dipublikasikan pada Proceedings of the National Academy of Sciences, para ilmuwan dari AS, Inggris, dan Spanyol, mengembangkan teknik modifikasi genetik padi untuk memproduksi protein yang menetralkan HIV. Ini adalah temuan terbaru dari pertempuran panjang melawan epidemi virus tersebut.

Menurut World Health Organization (WHO), pada akhir 2017, ada sekitar 37 juta orang di dunia yang hidup dengan HIV, dengan usia antara 15-49 tahun.

Afrika menyumbang hampir 2/3 dari total tersebut. Artinya, satu dari 25 orang di sana mengidap HIV.

Sementara itu, masih di tahun yang sama, sekitar 940 ribu orang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan HIV.

Baca juga: Kecerdasan Buatan Dapat Menebak Kepribadian Anda Hanya Lewat Tatapan

Meskipun jumlahnya tinggi, namun banyak kemajuan yang sudah dilakukan untuk melawan HIV. Di AS misalnya, infeksi HIV menurun dari 135 ribu pada 1985, menjadi 50 ribu di 2010.

Vaksin, bagaimana pun juga, belum tersedia untuk HIV. Oleh karena itu, obat-obatan oral dan peningkatan pengetahuan mengenai penularan virus ini menjadi pertahanan diri terbaik. Namun, obat-obatan oral tidak terlalu tersedia di negara berkembang sehingga pilihan lain tetap dibutuhkan.

Jenis beras yang baru dikembangkan peneliti ini, mengandung protein penetral HIV yang hampir sama dengan obat oral. Kemungkinan menjadi potensi baru untuk memberantas HIV.

Di dalamnya, terdapat dua tipe protein dan satu antibodi yang dapat mengikat virus HIV. Beras dapat dibuat menjadi krim -- dapat dioleskan ke kulit sehingga protein menyerap ke dalam tubuh dan melindungi individu dari HIV.

Baca juga: Seperti Manusia, Lebah Ternyata Bisa Stres Karena Pekerjaannya

Ini merupakan opsi yang baik bagi negara-negara berkembang, terutama pada wilayah agraris. Dengan begitu, pengidap HIV tidak perlu ke luar negeri hanya untuk mendapatkan obat-obatan (yang kadang tidak tersedia).

Nantinya, wilayah dengan tingkat infeksi yang tinggi memiliki pilihan untuk mengembangkan perawatan HIVnya sendiri tanpa bergantung dengan suplai obat-obatan dari negara maju.

Sebelum beras hasil modifikasi genetik ini digunakan, para ilmuwan perlu memastikan bahwa ia benar-benar tidak berbahaya bagi tubuh. Selain itu, mereka juga harus menyusun peraturan sebelum beras ini diperkenalkan.