Peserta melaporkan sendiri berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk melakukan aktivitas seperti duduk, melihat layar, berolahraga dan bagaimana perilaku tersebut dibandingan dengan masa pra-pandemi. Menggunakan skala klinis standar, mereka menunjukkan perubahan pada kesejahteraan mental mereka, misalnya depresi, kecemasan, perasaan stress, dan kesepian.
“Kami tahu kapan aktivitas fisik dan screen time (waktu yang digunakan untuk berinteraksi dengan komputer, televisi, ponsel, dll) berubah, itu terkait dengan kesehatan mental mereka secara umum, tetapi kami belum benar-benar melihat data populasi besar seperti ini sebagai respons terhadap perubahan mendadak sebelumnya,” tutur Jacob Meyer.
Data survei menunjukkan peserta yang memenuhi Pedoman Aktivitas Fisik Amerika Serikat yakni 2,5 hingga 5 jam aktivitas fisik sedang hingga berat setiap minggu sebelum pandemi, rata-rata mengurangi aktivitas fisik mereka sebesar 32 persen, tidak lama setelah pembatasan terkait COVID-19 mulai berlaku. Peserta yang sama melaporkan merasa lebih tertekan, cemas dan kesepian.
Baca Juga: Benarkah Bahwa Facebook Abaikan Kesehatan Mental Pengguna Remajanya?
Hasil studi ini telah dipublikasikan di frontiers in Psychiatry dengan judul High Sitting Time Is a Behavioral Risk Factor for Blunted Improvement in Depression Across 8 Weeks of the COVID-19 Pandemic in April-May 2020 pada 1 Oktober 2021 sebagai kelanjutan untuk melihat apakah perilaku dan kesehatan mental para peserta berubah dari waktu ke waktu. Peserta mengisi survei yang sama, setiap minggu antara bulan April dan Juni.
“Dalam studi kedua, kami menemukan bahwa rata-rata orang melihat kesehatan mental mereka meningkat selama periode delapan minggu. Orang-orang menyesuaikan diri dengan kehidupan di masa pandemi. Tetapi bagi orang-orang yang waktu duduknya tetap tinggi, gejala depresi mereka rara-rata tidak pulih dengan cara yang sama seperti orang lain,” jelas Jacob Meyer.
Jacob Meyer juga menekankan bahwa menemukan hubungan antara duduk dan kesehatan mental tidak sama dengan mengatakan lebih banyak duduk menyebabkan depresi. Beliau mengatakan mungkin saja orang yang lebih tertekan, lebih banyak duduk atau orang yang lebih banyak duduk menjadi lebih tertekan. Atau mungkin ada beberapa faktor lain yang tidak diidentifikasi oleh para peneliti.
“Ini tentu layak untuk diselidiki lebih lanjut. Saya pikir menyadari beberapa perubahan yang telah kita buat selama pandemi dan bagaimana mereka mungkin bermanfaat atau merugikan sangat penting ketika kita melihat ke sisi lain dari kehidupan pandemi,” jelasnya.
Adapun data survei dari bulan Juni 2020 hingga Juni 2021 akan dipublikasikan segera. Memulai atau menghentikan kebiasaan itu sangat sulit, bahkan ketika seseorang ingin mengubah perilakunya. Namun, Jacob Meyer berharap lebih banyak orang akan menyadari bahwa sedikit gerakan dapat meningkatkan suasana hati dan kesehatan mental mereka serta mencoba menemukan cara untuk membangunnya dalam keseharian mereka.
Lebih lanjut, Meyer merekomendasikan orang untuk beristirahat saat duduk dalam waktu lama. Misalnya dengan berjalan-jalan sebentar sebelum dan sesudah panggilan Zoom. Bagi orang yang bekerja dari rumah dapat mencoba berjalan di sekitar blok sebelum dan sesudah hari kerja untuk meniru perjalanan sebelum pandemi. Kegiatan tersebut menurutnya dapat bermanfaat secara fisik dan mental.
Baca Juga: Mengapa Media Sosial Berpengaruh Buruk pada Mental Orang Indonesia?
Source | : | Science Daily |
Penulis | : | Maria Gabrielle |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR