“Umbi garut sangat mudah ditanam, bahkan saat disimpan dalam karung dalam waktu lima bulan, ia dapat tumbuh sendiri. Cara penanamannya pun sederhana, misalnya umbi dipotong sekitar 5 cm, ditanam mendatar, lalu ditimbun tanah setebal 5 cm agar tidak kering oleh sinar matahari langsung,” bebernya.
Dia menambahkan, di bawah naungan pola agroforestri, tanaman ini mampu tumbuh dengan baik. Menghasilkan umbi yang dapat diolah menjadi tepung pati, emping, keripik, sereal, kukis, dan produk olahan lainnya.
“Kami berharap masyarakat mengetahui cara budidaya umbi garut, pemanfaatan dan pengolahan hasil panennya agar memiliki nilai tambah dan daya jual tinggi. Saat ini, produk pangan berbasis umbi garut sudah berkembang di Yogyakarta, Sragen, dan Jawa Tengah,” ungkapnya.
Dona berharap, Bogor juga bisa mengembangkan lebih lanjut. “Kuncinya adalah kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan umbi garut, yang tidak hanya bernilai ekonomi tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan,” tegasnya.
Murniati, peneliti PREE BRIN lainnya, juga menegaskan bahwa umbi garut berperan dalam mendukung program ketahanan pangan pemerintah.
Dia menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan berbagai manfaat umbi garut serta pengolahannya menjadi produk turunan. Dari sekian banyak produk yang dapat dihasilkan, alih teknologi kali ini berfokus pada pengolahan umbi garut menjadi emping dan tepung pati garut.
“Satu setengah tahun lalu, di tempat ini juga telah dilakukan budi daya umbi garut dalam sistem agroforestri, yakni dengan menanamnya di bawah tegakan pohon jati. Program ini merupakan kerja sama antara BRIN dan Perhutani KPH Bogor, dengan plot penelitian yang berlokasi di petak 28B, RPH Maribaya, BKPH Parung Panjang, KPH Bogor,” ujarnya.
Murniati mengatakan penelitian tersebut telah selesai. Tanaman telah dipanen dan kini hasilnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
“Semoga pelatihan ini memberikan manfaat dan pengolahan umbi garut dapat menjadi nilai tambah bagi masyarakat Barengkok,” ujarnya.
Kepala Desa Barengkok, Hermawan, menyampaikan kegiatan yang sedang berlangsung merupakan tindak lanjut dari upaya pengelolaan umbi garut yang telah dipanen lima bulan lalu.
“Melalui sosialisasi dan pelatihan yang diberikan oleh para narasumber, diharapkan peserta dapat memahami proses pengelolaan dan produksi umbi garut hingga berhasil,” harapnya.
Hermawan juga meneritakan bahwa sejak lama umbi garut telah menjadi produk unggulan Desa Barengkok, berkat inisiasi BRIN dalam pengembangannya.
“Kini, kualitasnya semakin meningkat, dan diharapkan masyarakat dapat membudidayakannya secara lebih luas. Kami berkomitmen untuk mendukung penuh program ini,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BKPH/Asper Parung Panjang, Ihsan, menjelaskan bahwa umbi garut memiliki berbagai manfaat, di antaranya dapat membantu mencegah diabetes serta mendukung program diet. Selain itu, umbi garut dapat diolah menjadi beragam produk seperti keripik, tepung, dan sereal.
“Kami berharap, masyarakat Desa Barengkok dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh ilmu dari peneliti BRIN. Mulai dari teknik budidaya di lahan hutan jati, pengelolaan dan produksi, hingga potensi pasarnya," ujar Ihsan lagi.
"Dengan demikian, umbi garut diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian masyarakat."
Penulis | : | Utomo Priyambodo |
Editor | : | Utomo Priyambodo |
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari, program KG Media yang merupakan suatu rencana aksi global, bertujuan untuk menghapus kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.
KOMENTAR