Hasilnya mengejutkan: ngengat dan capung cenderung menjaga posisi punggung mereka tetap menghadap ke cahaya — bahkan beberapa di antaranya terbalik, dengan posisi tubuh menghadap ke bawah.
Dari total 477 video yang mencakup 10 ordo serangga, para peneliti menemukan bahwa semua spesies yang diamati membalikkan tubuhnya saat cahaya buatan dinyalakan.
Temuan ini melahirkan teori baru: bahwa sebagian serangga menggunakan cahaya sebagai penanda arah. Biasanya, cahaya berarti atas, dan gelap berarti bawah. “Sulit bagi mereka menggunakan gravitasi untuk tahu posisi tubuhnya, karena mereka seperti sedang ‘berenang’ di udara,” ujar Owens.
Dengan adanya cahaya buatan, “tiba-tiba setengah bagian dunia yang terang tidak lagi berada di tempat yang seharusnya.”
Eksperimen Sondhi dan tim memang memberi penjelasan mengapa serangga tetap berada di sekitar cahaya setelah tiba di sana, tetapi belum menjawab bagaimana mereka bisa mendeteksi cahaya dari kejauhan, atau mengapa sebagian bisa terjebak sementara yang lain tidak.
Owens mencatat bahwa capung juga menunjukkan perilaku membelakangi cahaya saat uji coba, tetapi dalam kenyataan jarang terlihat berputar-putar di sekitar lampu. Ngengatlah yang sering melakukannya.
Menurutnya, masih ada pertanyaan besar: mengapa ngengat bisa sampai di sana sejak awal? Ia ingin menguji kembali teori bahwa ngengat menggunakan bulan sebagai kompas pada skala bentang alam, meski teori ini dianggap kurang relevan untuk jarak dekat.
Perkembangan teknologi seperti kamera yang lebih sensitif dan metode analisis yang lebih canggih mungkin segera memungkinkan hal itu. “Dunia penelitian ini akhirnya mendapatkan alat yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini,” kata Owens.
Sementara itu, temuan Sondhi mendukung saran untuk menghindari pencahayaan dari bawah ke atas (up lighting), yang terbukti membingungkan serangga. “Kalau lampunya dipasang di lantai dan mengarah ke atas, serangga bisa benar-benar terbalik dan jatuh,” ujar Owens. “Selama ini kita tidak menyadarinya.”
Sondhi menyarankan untuk mengurangi pencahayaan luar ruangan, tidak mengarahkannya ke atas, serta menggunakan lampu berwarna kemerahan yang cahayanya kurang menarik bagi serangga. Dan bila memungkinkan, matikan lampu luar saat malam hari. “Kalau dimatikan saat masih gelap, banyak serangga yang bisa pulih dan terbang pergi,” katanya.
Sebagai solusi sederhana, Owens menyarankan agar acara makan malam musim panas diselesaikan sebelum benar-benar gelap.
“Nikmati saja matahari terbenam, karena ritme matahari turun sejalan dengan penyesuaian mata kita,” tuturnya. “Kita masih bisa melihat dengan baik.” Ia menambahkan, “Kalau halaman rumah tetap gelap, kemungkinan nyamuk menemukannya pun lebih kecil.”
--
Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat! Dapatkan berita dan artikel pilihan tentang sejarah, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui WhatsApp Channel di https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News di https://shorturl.at/xtDSd. Jadilah bagian dari komunitas yang selalu haus akan ilmu dan informasi!
Source | : | Live Science |
Penulis | : | Ricky Jenihansen |
Editor | : | Utomo Priyambodo |
KOMENTAR