Laboratorium Alam Karongsong, Pusat Belajar dan Budidaya Mangrove

By National Geographic Indonesia, Kamis, 28 Maret 2019 | 10:41 WIB
Belajar langsung ke lapangan. (Amri Rachman)

Nationalgeographic.co.id – Mengunjungi Arboretum Mangrove menjadi salah satu pelajaran yang paling disukai murid Sekolah Mangrove. Karena di sini murid bisa belajar sambil bermain. Tempat ini dibuat oleh Pertamina RU VI Balongan sebagai pusat pembelajaran keanekaragaman hayati dan budidaya mangrove.

Dengan luas kawasan 2 hektare, Arboretum Mangrove menjadi pusat pembibitan 2.428 pohon dari 29 flora pantai dan habitat dari 33 spesies burung. Sebagai penunjang, laboratorium alam ini dilengkapi kincir angin dan panel surya sebagai energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan. Tumbuhan yang ada di Arboretum Mangrove diberi keterangan nama dan informasi yang berguna bagi para pengunjung.

Rabu (10/10/2018), sebanyak tiga Sekolah Mangrove mengadakan kunjungan ke Arboretum. Kunjungan ini memang menjadi salah satu pelajaran di Kurikulum Muatan Lokal PLH Tematik Mangrove. Sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan murid dari tiga sekolah dasar itu tiba di lokasi. Masing-masing sekolah terdiri dari 25 orang, termasuk dua guru pembimbing.

Baca Juga : Jaich Maa, Rumah Bagi Ekosistem Baru di Dasar Laut yang Gelap

SDN Paoman IV diwakili murid kelas IV. Mereka kompak mengenakan seragam berwarna merah. SDN Singaraja 1 membawa murid kelas V dengan seragam berwarna kuning. Sedangkan murid kelas VI diwakili SDN Pasekan 1 dengan balutan seragam berwarna hitam. Gurat tawa terlihat di wajah mereka. Senang dan bahagia.

Tak menunggu lama, empat buah perahu datang dan bersandar di bibir dermaga. Dibantu oleh pemandu, satu per satu, murid SD binaan Pertamina RU VI Balongan itu menaiki perahu dengan muatan maksimal sebanyak 20 orang tersebut. Sambil bernyanyi dan meneriakan yel-yel, tawa riang mereka mengiringi perjalanan menyusuri hutan bakau. 

Masing-masing perahu kemudian menepi diiringi suara riuh para peserta didik. Sambil tersenyum, seorang pemandu dengan sigap menuntun mereka melintasi celah dermaga berukuran kecil itu. 

Untuk mencapai lokasi, siswa menggunakan perahu. (Amri Rachman)

Para murid langsung berlarian, seakan sudah tahu apa yang hendak mereka kerjakan. “Kita memang sudah memberi mereka tugas dan pengarahan di sekolah. Jadi, di sini tinggal implementasinya saja,” terang Yayan, Wali Kelas VI SDN Pasekan 1.

Membaur dengan Alam

Murid-murid kemudian membaur dengan alam. Ada yang sibuk mengamati, ada pula yang mencatat satu per satu jenis flora dan fauna yang ada di sana. Sementara murid yang  lain memberi arahan. “Kami diberi tugas mencatat flora dan fauna apa saja yang ada di Arboretum,” kata murid SDN Singaraja 1 dengan kompak. Kelompok mereka terdiri dari lima orang.

Ada pula sekelompok murid yang terlihat kesulitan mengeja nama latin dari beberapa tumbuhan yang ada di sana. Mereka kelompok murid SDN Pasekan 1. “Tugas kita mencari nama-nama tumbuhan, ciri-ciri dan nama latinnya,” ujar salah satu murid kelas VI. Seorang pemandu lantas menghampiri lima murid perempuan tersebut. “Ini namanya tanaman cantigi. Bahasa latinnya phempis acidula,” kata Indra, salah satu pemandu yang bertugas mendampingi rombongan murid Sekolah Mangrove.

Kelompok murid SDN Paoman IV tidak kalah bersemangat. Sambil berlarian, delapan murid laki-laki itu berpindah-pindah lokasi. “Tugas kami membuat laporan hasil pengamatan flora dan fauna di arboretum,” ucap mereka kompak.

Membaur dengan alam. (Amri Rachman)

Setelah menyelesaikan tugas, para murid kemudian membentuk barisan. Secara bergantian, mereka menyanyikan lagu dan yel-yel yang berkaitan dengan bakau. Salah satunya seperti lagu “Lagi Syantik” yang liriknya diubah menjadi lirik bakau. Seru. Penuh semangat dan kegembiraan.

“Yuk, sekarang kita kumpul di sana,” kata Makrus, Bendahara Kelompok Pantai Lestari dan guru SDN Pasekan 1 sambil menunjuk ke arah gazebo. Letaknya tidak jauh dari bibir pantai. Di gazebo yang terbuat dari kayu itu, para rombongan beristirahat sembari menikmati makanan ringan.

Sekitar pukul 10.30 WIB, kegiatan belajar mengajar kembali dilanjutkan. Rombongan murid dan guru Sekolah Mangrove berjalan menyusuri pantai Karangsong menuju lokasi ekowisata. Tepat di depan sebuah gazebo berukuran besar, mereka berhenti.

Di bangunan dua lantai itu, para murid membentuk lingkaran. Masing-masing perwakilan sekolah memaparkan tugas yang telah dikerjakan. Ada yang lantang, ada juga yang malu. Sesekali, murid pemalu itu tersipu sembari melihat ke arah guru. “Jawabannya benar semua,” kata Mumun, guru SDN Singaraja 1, diiringi tepuk tangan para murid.

Gapura Arboretum Mangrove. (Amri Rachman)

Selesai pemaparan, Makrus menginstruksikan murid-murid untuk bermain di sekitar ekowisata. “Asyik,” teriak mereka. Sejurus kemudian, mereka berhamburan. Ada yang bermain ayunan, perosotan, dan berlarian. Ada pula yang duduk sambil melihat pemandangan. “Senang sekali bisa ke sini. Kita bisa belajar sambil bermain,” kata Firna Aulia, murid SDN Pasekan 1. “Iya, kita juga bisa tahu macam-macam hewan dan tumbuhan,” sahut Eva Kurneva yang duduk di sebelah Firna.

Baca Juga : Atasi Kekumuhan, Warga Desa Doudo Ubah Sampah Jadi Sesuatu yang Bernilai

Sudah 30 menit waktu yang diberikan berjalan. Sekitar pukul 11.30 WIB, semua murid berkumpul dan membuat barisan. Kali ini, Yayan yang memberi arahan. Ditutup dengan berdoa, kegiatan belajar mengajar di Arboretum Mangrove pun selesai. Para murid kemudian menuju dermaga dengan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari anyaman bambu. Suasana begitu rindang lantaran dikelilingi berbagai tanaman mangrove. Tak ada gurat lelah yang terpancar di wajah murid-murid Sekolah Mangrove itu.

Penulis: Agus Wahyudi