Berada di Era Antroposen, Jutaan Spesies Terancam Punah Akibat Ulah Manusia

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 25 April 2019 | 12:10 WIB
Studi tahun 2015 melaporkan bahwa kepunahan massal keenam yang telah lama diprediksi sudah mulai terlihat. (Thinkstock)

Nationalgeographic.co.id – Selamat datang Antroposen, sebuah era di mana aktivitas manusia memengaruhi ekosistem Bumi. Menurut laporan terbaru dari PBB, pada bab terakhir era baru ini, akan ada 500 ribu hingga satu juta spesies Bumi yang menghadapi kepunahan akibat ulah manusia.

Data tersebut menunjukkan, tingkat hilangnya keanekaragaman hayati mencapai puluhan hingga ratusan kali lebih tinggi di atas rata-rata selama sepuluh juta tahun terakhir.

“Setengah hingga satu juta spesies diperkirakan akan punah dalam beberapa dekade,” tulis peneliti.

Baca Juga : Di Tengah Ancaman Kepunahan, Ini Foto-foto Menakjubkan Satwa Liar di Habitatnya

Laporan yang dibuat oleh Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), memaparkan keadaan keanekaragaman hayati di Bumi melalui penelitian ilmiah yang independen. Kemudian, delegasi dari semua negara anggota PBB akan berkumpul di Paris pada 29 April untuk menyempurnakan rancangan akhir tersebut sehingga bisa dirilis ke publik pada 6 Mei mendatang.

Sejauh ini, kesimpulan dari laporan itu cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, keanekaragaman hayati dunia menghadapi banyak ancaman yang terkait dengan perilaku manusia. Mulai dari perubahan iklim, perusakkan habitat akibat alih fungsi lahan, polusi, hingga eksploitasi berlebihan.

Temuan kunci lain dari laporan ini adalah bahwa 75% permukaan daratan, 40% lingkungan laut, dan 50% perairan dalam sudah "sangat berubah" selama 50 tahun terakhir.

Akibatnya, hampir setengah dari semua ekosistem darat dan laut mengalami kerugian.

Seperti yang sudah dijelaskan beberapa studi, termasuk yang disebutkan pada laporan baru ini, dunia baru saja memulai peristiwa kepunahan massal keenam.

Kepunahan massal sebelumnya–di mana asteroid memusnahkan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu–disebabkan oleh bencana alam seperti dampak asteroid, aktivitas gunung berapi, serta pergeseran kondisi atmosfer dan samudra.

Kini, di peristiwa kepunahan massal terbaru yang sedang berlangsung, sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia–terutama perubahan iklim yang disebabkan perilaku manusia dan perusakkan habitat.

Masa depan keanekaragaman hayati di Bumi ini sangat bergantung pada seberapa banyak gas rumah kaca yang terus kita keluarkan dan sejauh mana pemanasan global berlangsung.

Baca Juga : Semakin Mengkhawatirkan, Gletser Pegunungan Alpen Bisa Benar-benar Hilang

Rata-rata suhu global sendiri telah menghangat 1°C di atas tingkat praindustri. Saat ini, kita dihadapkan pada dua skenario: kenaikan hingga 1,5°C atau 2°C. Meskipun tampaknya perbedaan 0,5°C tidak terlalu banyak, tapi efeknya kepada alam liar bisa sangat besar.

Laporan PBB lainnya, yang dipublikasikan pada Oktober 2018, menemukan fakta bahwa 6% serangga, 8% tanaman, dan 4% vertebrata diperkirakan akan terkena dampak negatif dari pemanasan global 1,5°C: yakni adanya penyusutan rentang geografis alami mereka.

Dan pada skenario 2°C, diduga akan ada 18% serangga, 16% tanaman, dan 8% vertebrata yang punah.