Disebut Jadi Calon Ibu Kota Baru, Apakah Benar Sejarah Kota Pontianak Berhubungan dengan Kuntilanak?

By Nesa Alicia, Senin, 6 Mei 2019 | 20:45 WIB
Sungai Kapuas, Pontianak. (sk8lovers/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id - Pada setiap 23 Oktober, Pontianak merayakan hari jadinya. Ibu kota provinsi Kalimantan Barat, ini berusia ke-247 tahun. Meskipun tergolong sebagai kota yang tidak muda, tetapi belum banyak orang yang mengetahui asal-usul kota ini. Kini, Pontianak disebut sebagai salah satu calon ibu kota baru untuk Indonesia.

Bahkan, berbagai sumber pun seringkali memaparkan latar belakang yang cukup berbeda. Salah satunya berhubungan dengan sosok hantu perempuan yang ada karena meninggal saat melahirkan, kuntilanak.

Berikut ini adalah latar belakang yang kami temukan. Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan pembukaan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar. Tempat tersebut pada kemudian hari berdiri balai dan rumah tinggal.

Kemudian, pada tahun 1778 (1192 H), Syarif diangkat menjadi Sultan Pontianak pertama. Berdirinya Masjid Jami', yang kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman dan Istana Kadariah yang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur menjadi penanda letak kekuasaannya. 

Baca Juga : KIsah Masa Lalu, Awal Ramadan 1973 Mesir Berikan Israel Kado Pahit

Dalam buku "Borneos Wester Afdeling", V.J. Verth, seorang sejarawan Belanda menuliskan sejarah kota Pontianak yang isinya sedikit berbeda dengan cerita yang banyak beredar saat ini. 

Sebuah kanal di perkampungan Pontianak, sekitar 1920-an. (Mahandis Yoanata Thamrin)

Menurut Verth, Belanda masuk ke Pontianak pada tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia. 

Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman merupakan putra ulama dari Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie, atau dalam versi lain dikenal sebagai Al Habib Husin. Syarif meninggalkan kerajaan Mempawah dan mulai hidup merantau. 

Saat berada di wilayah Banjarmasin, Syarif menikah dengan adik sultan Banjar, Sunan Nata Alam dan dilantik sebagai Pangeran. Ia berhasil dalam kegiatan berdagang dan mengumpulkan modal yang cukup banyak untuk mempersenjatai kapal pelancang dan perahunya. 

Wisma Residen Pontianak pada 1940-an. Barangkali Ida Pfieffer menginap di rumah ini. Dia diterima ol (Mahandis Yoanata Thamrin)

Tidak lama setelah itu, ia memulai perlawanannya terhadap penjajahan Belanda. Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif berhasil membajak kapal Belanda yang berada di dekat Bangka serta kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir.