Studi: Lapisan Es Antartika Menipis Lebih Cepat Dibanding Sebelumnya

By Gita Laras Widyaningrum, Jumat, 17 Mei 2019 | 13:34 WIB
Ilustrasi lempeng es di Antartika. (goinyk/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id – Menurut sebuah penelitian terbaru yang mempelajari data satelit selama 25 tahun, seperempat luas lapisan es di Antartika Barat saat ini sedang tidak stabil.

Beberapa gletser terbesarnya mengalami penipisan lebih dari 120 meter. Selain itu, es juga mencair lima kali lebih cepat dibanding tahun 1990-an.

Baca Juga: Menyedihkan, Video Ini Tunjukkan Badak yang Sekarat Setelah Culanya Dipotong

Saat iklim menghangat, naiknya permukaan laut menjadi salah satu ancaman paling signifikan yang dihadapi umat manusia. Hilangnya lapisan es di Antartika Barat saja dapat meningkatkan permukaan air laut hingga lima meter.

“Kita bisa melihat dengan jelas sekarang bahwa gelombang penipisan telah menyebar dengan cepat di beberapa gletser Antartika yang paling rentan,” kata Andy Shepherd, pemimpin penelitian dari University of Leeds.

“Bersama-sama, hilangnya es di Antartika Barat dan Timur sudah menyumbang kenaikan laut global sebanyak 4,6 milimeter sejak 1992,” tambahnya.

Menurut studi yang dipublikasikan pada jurnal Geophysical Letters, para ilmuwan menggambarkan suatu

Para ilmuwan mendeskripsikan sebuah wilayah dengan kata ‘tidak stabil’ ketika es mencair dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding saat mereka terisi kembali dengan salju.

Para ilmuwan dari UK Centre for Polar Observation and Modelling menggunakan data satelit dari European Space Agency untuk melacak perubahan salju dan lapisan es di seluruh benua. Mereka membuat lebih dari 800 juta pengukuran secara total.

Studi yang lebih detail memungkinkan mereka mengetahui perubahan mana yang disebabkan oleh pola cuaca dan mana yang dari perubahan iklim jangka panjang.

Fluktuasi salju yang turun menciptakan ketidakseimbangan gletser yang telah bertahan selama beberapa dekade.

Profesor Shepherd mengatakan: “Mengetahui berapa banyak salju yang berkurang benar-benar membantu kami mendeteksi perubahan mendasar pada gletser es di dalam catatan satelit.”

Peneliti memperkirakan, dampak kenaikan permukaan laut akan membahayakan ratusan juta orang pada akhir abad ini.

Baca Juga: Setelah Plastik, Radioaktif Sisa Nuklir Perang Dingin Ditemukan Pada Hewan Laut Dalam

Dr Marcus Engdahl, wakil pemimpin penelitian dari European Space Agency mengatakan, studi ini menunjukkan betapa pentingnya misi satelit dalam membantu mereka memahami bagaimana planet berubah.

“Wilayah kutub adalah lingkungan ekstrem yang susah diakses dari daratan. Oleh sebab itu, citra dari luar angkasa merupakan hal penting dalam melacak efek perubahan iklim,” pungkasnya.