Candu, Perbudakan, dan Kebobrokan Kolonial di Pontianak Abad Ke-19

By Mahandis Yoanata Thamrin, Rabu, 10 Juli 2019 | 12:24 WIB
Ida Laura Reyer Pfeiffer (1797-1858), pelancong perempuan pertama di Hindia Belanda. Relief yang menampakkan raut wajah Ida, yang menajdi penanda makamnya di Wina, Austria. (Vienna History Tour)

Kota Pontianak terletak sekitar 20 kilometer dari bibir pantai. Sehamparan dataran, tanpa tanaman padi, dan terlindung dari pepohonan rapat. Di dekat kota terdapat sebuah benteng yang dikelilingi dinding tanah, yang dijaga sekitar 130 serdadu. Pemerintahan Eropa dibentuk oleh residen, yang didukung sekitar enam pejabat, beberapa perwira militer, dan seorang dokter. Ketika Ida bertandang ke Pontianak, penduduk kota itu sekitar enam ribu jiwa.

“Tempat tinggal Sultan menghadap pantai,” demikian kata Ida, yang mungkin maksudnya adalah tepian Sungai Kapuas yang bermuara di lautan lepas. Dia juga membandingkan para pangeran di India dan pangeran Kalimantan. Satu-satunya perbedaan. menurutnya, pangeran di Kalimantan meminta bantuan Belanda atas kemauan mereka sendiri, yang sejatinya bertentangan dengan keinginan mereka.

“Para pangeran Borneo tidak memiliki kekuatan,” ungkapnya. “Di satu sisi untuk menyelesaikan perselisihan antara warga Melayu, Cina, dan Dayak; sementara di sisi lain mengurangi konspirasi yang kerap terjadi dalam keluarga mereka sendiri.” Oleh karena itu, demikian ungkap Ida, mereka rela menerima beban atau kewajiban dari pemerintah Hindia Belanda untuk melindungi kepentingan mereka. "Banyak sultan dan pangeran yang mendapatkan pensiun dari Belanda, sebagai kompensasi hak mereka yang telah dicabut."

“Mereka meninggalkan kedamaian di tanah mereka lewat berbagai pajak, pencucian emas dan tambang intan di wilayah mereka,” demikian ungkapnya. “Namun, Belanda mengklaim punya monopoli garam dan penerimaan dari opium, juga komoditi lainnya”

Baca juga: Sang Sultan Yogya dan Tamansari dalam Catatan Perempuan Eropa Abad Ke-19

Rumah Residen Pontianak sekitar 1867. Kemungkinan, Ida Pfeiffer menginap di rumah ini. (JA Messen/KITLV)
Di Pontianak pertengahan abad ke-19, selain kelas ningrat, ada juga kelas budak. Ida memaparkan bahwa para budak diambil dari tahanan perang, dan para pengutang yang tak melunasi hutangnya. Juga bagi siapa saja yang selama tiga tahun tidak membayar pajak kepada sultan akan menjadi budaknya, catat Ida.“Menurut hukum yang barbar,” ungkap Ida menggambarkan, “pengutang harus bersedia mengabdikan dirinya sebagai budak kepada pemberi utang, sampai utangnya lunas.” Kemudian Ida menambahkan, “Apabila pengutang tadi mati sebelum lunas, istri, anak, atau keluarga dekatnya akan menggantikan posisinya.”  Kisah ini merupakan cuplikan dari A Lady's Second Journey Round the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, Etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States, Volume 1. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan Ida Laura Reyer Pfeiffer yang terbit di London pada 1855.

Ida Laura Reyer Pfeiffer mengenakan syal dan kain renda. Ida sangat ingin mengatasi keterbatasannya sebagai seorang wanita dari abad ke-19, tetapi dia tidak sepenuhnya menentang kodratnya. Globe di latar belakang menambah sentuhan ilmiah. (Mary Somers Heidhues/Archipel/Wikimedia)

 
 
Dia berkesempatan mengunjungi sebuah rumah candu pada suatu malam di pecinan Pontianak. Di rumah itu pengunjung bisa menikmati isapan candu. Di dalamnya tampak para pecandu yang duduk atau berbaring di alas. Di sebelah mereka terdapat sebuah lampu api untuk menyalakan pipa candu. Di beberapa rumah candu, beberapa perempuan hadir untuk sekadar menambah gairah bagi pengunjung yang semuanya lelaki.
 
Bagaimana komentarnya tentang rumah-rumah candu di Pontianak?
 
“Kejahatan lain, bahkan lebih hebat, yang berdampak tak hanya pada perorangan, melainkan juga seluruh bangsa adalah,” kata Ida, “pemakaian candu.” Namun, dia melanjutkan kisahnya, pemerintah Hindia Belanda tidak berusaha memberangus. “Sebaliknya, tampak pemerintah justru menggunakan kuasa untuk membesarkannya.”
 
Kadang candu memiliki efek menggembirakan untuk beberapa saat, demikian catat Ida. Dalam pengaruh barang sialan itu mereka bisa mengobrol dan tertawa lepas sampai tak tersadar, namun begitu terbangun mereka seolah bersukacita dalam mimpi yang menyenangkan.

“Saya tidak dapat menggambarkan lagi, betapa mereka yang tak lagi punya kesadaran, namun masih bisa mengikis atom candu yang tersisa dengan tetap berhati-hati,” ungkapnya. “Sebuah gambaran mengerikan yang dapat disaksikan di tempat-tempat itu.”

Baca juga: Misi Penjelajah Norwegia Mencari Ras Manusia Berekor di Kalimantan

Sosok Ida Laura Reyer Pfeiffer dalam busana melancong dari kain linen warna kelabu. Litografi karya Adolf Dauthage, 1825–1883. (Adolf Dauthage, 1825–1883)

Di Kalimantan, candu memberikan bagian pendapatan yang besar bagi pemerintah Hindia Belanda. Ketika Ida berkunjung di kawasan itu, pemakaian candu memang sedang marak, jumlah pemakai meningkat setiap tahun.

Dalam catatan perjalanannya, dia memberikan tanggapan atas situasi di Pontianak saat itu, yang tampaknya menjadi gambaran umum untuk Hindia Belanda. "Ini benar-benar aneh," ungkap Ida. "Pemerintah Eropa membentuk di satu sisi sebuah koloni dan negara, sebagaimana yang mereka katakan, untuk menyebarkan peradaban dan agama Kristen. Namun di sisi lain, mereka mendukung tujuan baru dalam kejahatan yang secara langsung bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Kristen dan kemajuan peradaban."