Toko Djoen: Mencecapi Rasa Khas Roti Lawas di Ketandan Yogyakarta

By Agni Malagina, Kamis, 22 Agustus 2019 | 16:06 WIB
Dapur toko roti Djoen beroperasi setiap hari membuat roti segar. Tiga serangkai personelnya memulai kegiatan meracik, membuat adonan dan memanggang sejak pukul 9 pagi. Setidaknya mereka telah bekerja dan menjadi bagian dari keluarga toko Djoen sejak 40 tahun silam. (Sigit Pamungkas)

Nationalgeographic.co.id- Bagi warga senior Yogyakarta penggemar roti-roti lawas, tersebutlah sebuah toko roti legendaris yang dianggap toko roti tertua di Yogyakarta. Toko Djoen namanya, kini terkenal dengan nama Djoen Lama, terletak di Jalan Margo Mulyo No. 78, Yogyakarta atau tepat berada di ruas jalan kawasan Malioboro. Bangunan toko itu menjadi satu-satunya bangunan yang memiliki lantai dua berupa lantai tembok, berbeda dengan bangunan sekitarnya dengan lantai dua berbahan kayu.

Memasuki toko Djoen Lama seolah waktu berhenti, interior bernuansa ‘jadul’nya masih kental, rak toko kayu yang telah berganti wajah dengan warna merah jambu, demikian pula dengan wangi roti yang baru diangkat dari tungku oven!  Siang itu saya menjumpai empunya toko Djoen Lama, Emak Hardinah (83) yang menyambut saya dengan senyum. Tak banyak tamu yang berkunjung lama, pengunjungnya datang dan pergi setelah memilih roti dan bertransaksi. Saya saja yang membandel berlama-lama di tepi rak roti sambil sesekali mencecapi roti hangat – roti pisang!

 

Interior Toko Roti Djoen di Jalan Malioboro, Ketandan Yogyakarta. Pengunjungnya dipastikan pelanggan tetap toko Djoen yang sepia membeli produk Djoen turun temurun. (Sigit Pamungkas)

Roti pisang menjadi salah satu andalan toko Djoen. Roti pisang legendaris itu diluncurkan pada tahun 1959 tepat setelah Emak (Hoo Ren Pin) menikah dengan Haryono Waluyojati (Tan Ing Hwat) pada tahun yang sama.

“Aku ditembung (diminta dijodohkan). Dulu sebelum nikah di Semarang, aku yo suka roti pisang. Pas nikah di sini, ya terus bikin roti pisang. Sebelumnya cuma ada roti gula Jawa yang spekuk itu, roti sobek, roti rol,” ujar Emak sambil berdiri santai melayani tamu sekaligus bercerita tentang toko Djoen yang diduga sudah ada sejak tahun 1930an. Ia mengaku tidak pandai meracik dan membuat adonan roti resep Djoen dan suaminya.

“Sing mbumboni ya Enkong. Aku mbumboni taun pitung puluh enem pas Engkong ninggal,” ujar Emak. (yang membuat bumbunya ya Engkong. Aku baru membuat bumbu tahun 1976 setelah Engkong meninggal)

“Dulu toko roti ini besar, sekarang dibagi dua gedungnya. Dulu rak-rak ini banyak sampai toko sebelah. Isinya macem-macem, selain roti ada toples isi gula-gula, sampai tujuh puluh toples. Rotinya macam-macam, juga jual sabun, odol,”ujar Emak berkisah.

Berbagai kenangan tentang toko roti jadul itu pun keluar melalui celoteh Emak. “Dulu toko ini ya bikin roti banyak, dijual sampai Wonosari, Klaten, Sleman, Muntilan. Dibawa naik kol (mobil), nganter kue keliling,” kata Emak Hardinah yang menceritakan juga perkembangan aneka produk toko Djoen.

Awalnya, Tan Lian Ngau, ayahanda Tan Ing Hwat membeli toko roti Djoen beserta peralatannya pada tahun 1930an. Tak ada catatan pastinya tentang tanggal pembelian ini selain dari memori keluarga. Toko Djoen masih memproduksi roti lawasnya seperti: Onbitjkoek (roti rempah ala Belanda), roti sobek polos, roti rol polos, roti semir. Semua roti itu diproduksi sebelum era kemerdekaan. Setelah tahun 1959, toko Djoen mengeluarkan beberapa varian baru legendaris selain roti pisang Emak. Tahun 1969, toko Djoen merilis biscuit Bagelen Roomboter dengan merk Meila Chandra.

“Meila itu artinya ‘nyempluk’, ‘nyenengke’, panggilan buat Widowati,”ujar Emak menceritakan asal usul nama kue bagelennya yang berasal dari nama panggilan putrinya.

“Tahun 1970 bikin roti buaya, karena banyak yang pesan untuk nikahan, ya bikin yang besar dan yang kecil,” kenang Emang. Dalam kesehariannya, ia dibantu putrinya yang bernama Widowati. Terkadang putra putri Widowati pun turut membantu menjaga toko beroperasi mulai jam 9 pagi hingga jam 9 malam. 

“Ya kami segini saja. Di belakang ada tiga orang yang membuat roti sejak jaman dulu. Di depan ada saya dan mbak Sri yang melayani. Emak biasanya datang jam 2 sore. Gantian sama aku,”ujar Widowati yang juga menceritakan bahwa Engkong Tan Ing Hwat semasa hidupnya gemar sekali mengutak atik resep. Ya, tak heran, saya menemukan buku harian yang ditulis dalam bahasa Mandarin dan terselip catatan yang diberi judul Resep Cake Tan Ing Hwat!

Widowati menunjukkan cagayan resep Cake Tan Ing Hwat. Widowati mengaku terkejut menemukan resep tersebut. Ia bermaksud akan mencoba mengolah resep roti karya sang ayah. (Sigit Pamungkas)

 Obrolan saya dengan Emak dan Mbak Widowati semakin seru. Bermacam cerita tentang perkembangan Ketandan Malioboro pun muncul dari ingatan Emak dan putrinya. “Kami ya begini-begini saja. Kalau ada kejadian bencana di kota seperti ketika kampung Kantil kebakaran ya kami cuma bisa nyumbang roti. Waktu Sultan wafat dulu pun kami cuma bisa nyumbang roti. Waktu Engkong dan papine Engkong meninggal ya Sultan datang melayat,”kenang Emak.

“Pelanggan toko Djoen ini ya orang-orang kuno atau turunannya, sekarang ya begini ini. Mesin ya listriknya habis besar, tenaga yang bikin ya tinggal sedikit, kami bisanya begini,”ujar Widowati yang berencana memanbah meja di sudut tokonya agar pelanggan atau tamunya dapat bersantai makan roti sambil menikmati minuman rasa rootbeer khas Yogyakarta bermerk Sarparella.

Siang itu, seorang pakar kuliner di Indonesia singgah berkunjung ke Toko Djoen. Tendi Nuralam seorang pengusaha kuliner pun memberikan saran kepada suksesor Toko Djoen. "Toko Djoen sudah punya nama besar, tur di toko roti ini bisa menarik sambil makan roti, sambil melihat proses pembuatannya dan mendengar cerita sejarah toko serta Yogyakarta," ujar Tendi.

Tendi Nuralam (kanan) dan koleganya tengah berdiskusi dengan cucu pemilik Toko Djoen mengenai pengembangan dan kekuatan wisata kuliner. (Sigit Pamungkas)

"Dibuat storytellingnya, rotinya dikemas tanpa plastik, bisa juga ada kafe sederhana dengan kreasi roti tawar Djoen dengan isian dan lainnya. Mesin dan tungku jadulnya pun menarik, itu sejarah. Kuat nilai historisnya, layak dikunjungi wisatawan,"ujar Tendi yang juga Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah Religi Seni Tradisi dan Budaya, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang juga menyarankan beberapa hal terkait efesiensi produksi.

"Mesin dan tungku yang sekarang itu makan energi besar. Bisa memakai mesin kecil dan bisa membuat roti beberapa kali produksi sehingga segar terus sampai malam, lebih efesien,"ujarnya diamini oleh Widowati yang memang ingin memulai langkah efesiensi. 

"Butuh bahan bakar banyak untuk tungku itu,"ujar Widowati. 

Ya, dapur Toko Djoen istimewa! Mesin lawas import, tungku pembakaran raksasa, cetakan kuno yang bertahan selama lebih dari 5 dekade, pekerja yang hafal resep  tanpa catatan menjadi salah satu keistimewaan kisah Toko Djoen.

Toko Djoen terletak di pusat keramaian Jalan Malioboro. (Sigit Pamungkas)

Tak lama, seorang pelanggan masuk. Ia langsung memesan roti pisang beberapa bungkus dan sebungkus roti tawar. Namanya Agus, rupanya ia dan orangtuanya adalah pelanggan tetap roti Djoen. “Saya kenal Djoen ya sejak kecil, favorit saya ya roti pisang,”ujar Agus yang juga menantu keluarga pemilik sebuah restoran lawas termana, Mahkota – restoran di Jalan Pajeksan yang terkenal dengan menu Mi Kakap. “Ya beberapa kuliner di Ketandan dan Pajeksan yang kuno-kuno masih ada. Djoen, Mahkota, mi Ketandan. Oiya, ada Li Djiong juga di dekat klenteng Gondomanan,”ujar Agus sambil menambahkan kenangan masa kecilnya tentang Ketandan, pecinan Yogyakarta yang termasuk menjadi bagian kota tua dengan aset bangunan kunonya yang melimpah walau beberapa diantaranya telah direvitalisasi dan bahkan berganti wajah.  

Ketandan Yogyakarta memang menyimpan aneka kisah ingatan masa lalu dari warganya. Ketandan pun menjadi bagian penting dari perkembangan kota Yogyakarta di kawasan teramai Kota Pelajar dan Kota Batik itu. Semoga Ketandan tetap lestari!