Peter Kürten, Pembunuh Berantai yang Meminum Darah Korban-korbannya

By Gita Laras Widyaningrum, Senin, 21 Oktober 2019 | 15:20 WIB
Peter Kürten (Wikipedia)

Nationalgeographic.co.id - Saking banyaknya kejahatan yang dilakukan Peter Kürten, para dokter sampai harus membedah kepala pria tersebut untuk mengetahui apa yang mendorong perilaku haus darahnya.

Namun, mereka tidak menemukan kejanggalan pada otak Peter Kürten. Peneliti tidak dapat menjelaskan mengapa pria yang memiliki julukan ‘Vampir dari Dusseldorf’ ini bisa dengan brutal membunuh sembilan orang dan meminum darah mereka.  

Pria kelahiran 26 Mei 1883 itu mengaku telah melakukan 70 jenis kejahatan – termasuk memerkosa, membunuh, serta membakar wanita dan anak-anak perempuan.

Baca Juga: Antara Stres dan Depresi, Bagaimana Cara Kita Membedakannya?

Kürten menyatakan bahwa ia mendapat kesenangan seksual yang kuat dari darah dan kematian. Kürten akan menggertak atau menikam korbannya hingga mencapai orgasme.

Pembunuhan pertamanya dilakukan pada anak perempuan berusia sembilan tahun, Christine Klein, pada 25 Mei 1913.  

Saat sedang merampok sebuah kedai di kota Mülheim am Rhein, Jerman, Kürten melihat Klein yang tertidur di kasurnya. Tanpa pikir panjang, ia pun mencekik dan mengiris leher Klein dengan pisau lipat.

Keesokan harinya, Kürten kembali ke kedai untuk mendengarkan kemarahan orang-orang terhadap pembunuhan keji tersebut. Ia bahkan mengunjungi makam gadis malang itu untuk menyenangkan dirinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, Kürten membunuh Gertrud Franken (17), dengan cara yang sama sebelum ia dipenjara karena serangkaian aksi perampokan dan pembakaran.

Setelah keluar dari penjara pada 1921, Kürten melanjutkan aksinya. Pria asal Jerman ini menikam, mencekik, dan membunuh korban-korbannya  dengan palu. Ia lalu mengirimkan surat ke polisi dengan menyertakan lokasi penguburan salah satu korbannya untuk mengejek mereka.

Kepala mumi Peter Kurten menjadi salah satu yang dipamerkan di Ripley's Believe It or Not. (Paul Huber)

Pada satu kesempatan, Kürten bertemu dengan kakak adik berusia lima dan 14 tahun. Kürten menyuruh sang kakak untuk membeli rokok, sementara ia mencekik dan mengiris tenggorok anak perempuan yang lebih kecil.

Ketika kakaknya kembali, Kürten langsung menusuk, menggigit dan menghisap darah dari lehernya.

Aksi pembunuhan Kürten berakhir ketika ia membuat kesalahan ceroboh saat menyerang seorang wanita pada 14 Mei 1930.

Maria Büdlick (20), sedang mencoba menghindari perhatian yang tidak diinginkan dari seorang pria yang mengikutinya setelah turun dari kereta. Di sinilah, Kürten canpur tangan. Setelah menyuruh pria itu pergi, Kürten membujuk Büdlick untuk makan di rumahnya, namun ia menolak.

Kürten pun menawarkan untuk mengantarnya ke hotel, tapi dia malah membawa Büdlick ke hutan dan memerkosa serta mencekik perempuan tersebut sebelum membiarkannya pergi.

Kürten melepaskan Büdlick karena wanita tersebut mengaku tidak mampu mengingat rumahnya sendiri. Büdlick berjanji tidak akan memberi tahu identitas Kürten kepada siapa pun.

Setelahnya, Büdlick yang mengalami trauma, tidak melaporkan kejadian itu kepada polisi. Namun, ia menulis surat kepada temannya. Tanpa sengaja, Büdlick mengirimkannya ke alamat yang salah dan tukang pos pun memberikan surat tersebut pada polisi.

Baca Juga: Fenomena Penyakit Mental di Industri Hiburan, Apa Penyebabnya?

Kürten ditangkap di bawah todongan senjata, sembilan hari setelah menyerang Büdlick. Meskipun mengakui semua kejahatan yang dilakukannya, namun Kürten memohon dinyatakan tidak bersalah dan mengaku gila.

Di pengadilan, ia merinci daftar korbannya dan menjelaskan mengenai hasrat seksualnya akan darah. Kürten juga mengaku tidak memiliki hati nurani dan penyesalan.

Juri membutuhkan waktu kurang dari dua jam untuk mendakwa Kürten atas sembilan pembunuhan dan tujuh percobaan pembunuhan. Pria Jerman ini dieksekusi mati pada 2 Juli 1931, setelah mengonsumsi makanan terakhirnya berupa sosis, kentang goreng, dan dua botol anggur.

“Katakanlah, setelah kepalaku dipotong, apakah aku masih bisa mendengar suara darah yang mengalir dari leherku? Jika iya, itu akan sangat menyenangkan,” kata Kürten saat dia berjalan menuju alat pemenggal kepala.