Warganya Tolak Punya Anak, Tingkat Populasi di 6 Negara Ini Tak Stabil

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 14 November 2019 | 11:41 WIB
Lautan manusia. (LanceB/Getty Images/iStockphoto)

Spanyol

Spanyol memiliki jumlah kematian yang lebih banyak dibanding kelahiran. Beberapa kota bahkan sudah tidak memiliki anak muda.

Wanita Spanyol cenderung melahirkan di umur tua. Rata-rata, angka kelahirannya 1,5 anak.

Pada 2017, populasi di Spanyol memang meningkat. Namun, ini karena kedatangan imigran dari negara-negara konflik, bukan karena kelahiran bayi baru.

Tahun lalu, pemerintah Spanyol telah memperkerjakan komisaris khusus untuk membalik keadaaan dan meningkatkan angka kelahiran.

Korea Selatan

Tidak stabilnya kondisi finansial menjadi alasan utama warga Korea Selatan menolak punya anak.

Tingkat kelahirannya rata-rata hanya 1,2 anak per wanita–terlalu rendah untuk menstabilkan populasi.

Pemerintah telah menawarkan insentif uang tunai kepada penduduk yang memiliki lebih dari satu anak dalam upayanya meningkatkan angka kelahiran. Namun, cara ini belum berhasil.

Para ahli demografi mengatakan, tingkat kesuburan yang rendah di Korea Selatan juga berkaitan dengan wanita yang memilih punya anak di usia yang semakin tua. Pada 2017, umur rata-rata wanita Korea saat melahirkan anak pertama adalah di atas 31 tahun.  

Jepang

Para peneliti sangat khawatir dengan bom waktu demografis di Jepang karena jumlah kelahirannya paling rendah sepanjang sejarah. Rata-rata hanya mencapai 1,4.