Gunung Berapi di Indonesia Hampir Aktif Bersamaan, Ini Penjelasannya

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Minggu, 12 April 2020 | 20:21 WIB
Aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau terus meningkat. Statusnya menjadi siaga (Level III). (Ricky Martin/National Geographic Indonesia)

Nationalgeographic.co.id - Sampai bulan April 2020, tercatat beberapa gunung aktif di Indonesia mengalami kenaikan aktivitas vulkanik. Beberapa di antaranya seperti Merapi, Semeru, Kerinci, dan Anak Krakatau yang baru-baru ini mengalami erupsi.

Berdasarkan laporan dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), bahwa Gunung Anak Krakatau berada pada tingkat aktivitas waspada pada Gunung Krakatau sejak 25 Maret 2019 dengan letusan terakhir pada 10 April 2020 serta kolom erupsi 500 meter ke atas puncak.

Gunung ini mengakibatkan 2 kali gempa letusan diiringi tremor letusan, 5 kali tremor harmonik, 8 kali low frekuensi, dan tremor kecil yang menerus dengan amplitudo 0.5 - 22 mm.

Sedangkan Gunung Merapi mengalami letusan terakhir pada 29 Maret 2020 dengan tinggi kolom erupsi setinggi 1500 meter di atas puncak. Berdasarkan catatan seismograf pada Jumat (10/04/2020) mengalami gempa letusan, beberapa gempa hembusan, gempa berfrekuensi rendah, gempa hybrid, gempa vulkanik, dan gempa tektonik lokal.

Baca Juga: Koala Korban Kebakaran Hutan Australia Dikembalikan Ke Habitatnya

Gunung Kerinci juga berada pada tingkat waspada, dan berdasarkan rekaman seismograf pada Jumat (10/04/2020) tercatat adanya 105 kali gempa hembusan dan tremor menerus dengan amplitudo 0,5-1 mm. Gunung itu tercatat mengalami letusan terakhir pada 30 Maret 2019.

Kementerian ESDM juga memberikan tingkat aktivitas waspada pada Gunung Semeru sedang berstatus waspada dengan asap kawah putihnya membumbung hingga 400 meter ke arah utara dan mengalami banyak gempa vulkanik, tektonik, maupun gempa letusan. 

Mengenai peristiwa gunung berapi yang aktif di waktu yang hampir bersamaan, Awang Satyana, ahli geologi, mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi secara kebetulan.

“Gunung-gunung (meningkat aktivitasnya) sebenarnya kebetulan saja, karena sebenarnya terpisah-pisah pada daerahnya,” jelasnya saat diwawancarai National Geographic Indonesia.

Satyana menjelaskan bahwa peristiwa ini diakibatkan aktivitas rutin lempeng Hindia ke dalam lempeng Eurasia di perairan Indonesia.

Pergerakan ini mengakibatkan beberapa air samudera masuk dan mengencerkan magma yang keras sehingga kemudian dengan mudah mengisi beberapa kantong magma beberapa gunung di Indonesia.

“Dan ketika kantong magma sudah terisi, tekanannya cukup kuat untuk mengeluarkannya ke permukaan,” terangnya.

Peristiwa gunung berapi meletus juga sebenarnya adalah hal yang lumrah, karena menurutnya, setiap saat juga ada aktivitas pergeseran lempeng yang mengakibatkan magma bergerak ke kantong magma.

Nyala api di area kawah gunung berapi. (Claudio Almarza)

Mengenai suara yang terjadi selama erupsi, terutama yang terdengar pada Jumat (10/04/2020) pukul 03.00 WIB, Satyana yakin bahwa suara tersebut bukanlah dari aktivitas vulkanik yang diduga masyarakat Jabodetabek saat Anak Krakatau aktif.

“Suara yang diciptakan saat letusan gunung berapi itu bukan dentuman, suaranya pun hanya bisa terekam di seismograf. Suaranya lebih ke infrasonik, di bawah range frekuensi pendengaran manusia,” terangnya.

Selain itu jika dikaitkan dengan letusan Anak Krakatau, sangat kecil rasanya bila terdengar di Jabodetabek, mengingat ketinggian kolom erupsinya hanya setinggi 500 meter saja.

Berdasarkan amatan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di Pasauran, Banten tidak merekam adanya suara letusan dari Gunung Anak Krakatau.