Lumbung Pangan Dunia

By National Geographic Indonesia, Jumat, 29 Mei 2020 | 22:55 WIB
Lautan rumah kaca mengelilingi rumah seorang petani di wilayah Westland di Belanda. Belanda menjadi negara terdepan di dunia dalam inovasi pertanian, yang merintis jalan baru untuk memerangi kelaparan. (Luca Locatelli.)

Apa tantangannya? Sejujurnya, cukup mengerikan, ujarnya, karena bumi harus menghasilkan “bahan pangan dalam empat dekade ke depan, lebih banyak daripada yang pernah dipanen oleh semua petani selama 8.000 tahun terakhir.”

 

Barisan cahaya buatan memancarkan aura dunia lain di Westland, ibu kota rumah kaca Belanda. Pertanian dengan iklim terkendali menumbuhkan tanaman setiap saat dan dalam segala kondisi cuaca. (Luca Locatelli.)

Menjelang 2050, bumi akan dihuni oleh sekitar 10 miliar manusia, meningkat dari jumlah 7,5 miliar pada saat ini. Jika tidak ada peningkatan besar dalam hasil pertanian, yang diiringi dengan penurunan besar dalam penggunaan air dan bahan bakar fosil, satu miliar orang atau lebih mungkin akan menghadapi risiko kelaparan. Kelaparan bisa jadi merupakan masalah tergenting abad ke-21, dan para visioner yang bekerja di Food Valley yakin telah menemukan solusi inovatif. Kemampuan yang dibutuhkan untuk mencegah bencana kelaparan sudah ada dalam jangkauan, tegas van den Ende. Optimismenya ini berasal dari data yang diperoleh dari lebih dari seribu proyek WUR di lebih dari 140 negara serta kerja sama resmi dengan sejumlah pemerintah dan universitas di enam benua untuk berbagi kemajuan dan kemudian menerapkannya.

Perbincangan dengan van den Ende ibarat perjalanan rollercoaster dalam deru curah pendapat, statistika, dan prediksi. Kekeringan di Afrika? “Masalah utamanya bukan air, melainkan kondisi tanah yang buruk,” ujarnya. “Ketiadaan nutrisi dapat ditangani dengan menanam tanaman yang bersimbiosis dengan bakteri tertentu sehingga menghasilkan pupuk sendiri.” Harga gabah untuk pakan ternak melambung tinggi? “Beri mereka makan belalang,” ujarnya.

 

Bagian dalam-ruang memberi kondisi pertumbuhan optimal untuk selada dan sayuran lain di Siberia B.V. Setiap hektare rumah kaca seluas sembilan hektare ini menghasilkan selada sepuluh hektare luar-ruang. Penggunaan bahan kimia berkurang hingga 97 persen. (Luca Locatelli.)

Perbincangan ini kemudian dilanjutkan dengan topik penggunaan lampu LED untuk budidaya 24 jam dalam rumah kaca dengan iklim yang terkendali secara presisi. Perbincangan lalu berlanjut dengan topik kesalahpahaman bahwa pertanian berkelanjutan berarti campur tangan minimal dari manusia.

“Lihatlah Pulau Bali!” serunya. Selama kurang lebih seribu tahun, petani Bali telah berternak bebek dan ikan di sawah yang sama dengan tempat mereka menanam padi. Ini adalah sistem makanan yang sepenuhnya mandiri, yang diairi oleh sistem irigasi rumit yang dibentuk oleh tangan manusia di sepanjang teras perbukitan. “Itulah model berkelanjutan,” ujarnya.

Di mana saja di Belanda, masa depan pertanian berkelanjutan mulai terbentuk—bukan di ruang rapat perusahaan besar, melainkan di ribuan pertanian keluarga sederhana. Kita dapat melihatnya dengan jelas di surga dunia milik Ted Duijvestijn dan tiga saudaranya—Peter, Ronald, dan Remco. Seperti para petani yang tinggal di Bali, Duijvestijn bersaudara membangun sistem makanan mandiri.

Di kompleks rumah kaca seluas 14,5 hektare milik Duijvestijn bersaudara di dekat kota tua Delft, pengunjung berjalan-jalan di antara jajaran tanaman tomat hijau tua yang merambat setinggi enam meter. Dengan mengakar di pintalan serat basal dan kapur, bukan di tanah, deretan tanaman ini dipenuhi tomat yang bergelayutan—semuanya ada 15 varietas—untuk memenuhi cita rasa para pecinta tomat. Pada 2015, juri internasional yang terdiri atas para ahli hortikultura menobatkan Duijvestijn bersaudara sebagai petani tomat paling inovatif di dunia.

 

Apakah tomat tumbuh paling baik saat disinari lampu LED dari atas, samping, atau kombinasinya? Ilmuwan botani Henk Kalkman mencari jawabannya di Delphy Improvement Center di Bleiswijk. Kerja sama akademisi dan pengusaha adalah pendorong utama inovasi Belanda. (Luca Locatelli.)

Sejak merelokasi dan merestrukturisasi lahan pertanian mereka yang sudah berusia 70 tahun, pada 2004 Duijvestijn bersaudara hampir sepenuhnya mandiri dalam segala hal. Pertanian mereka menghasilkan sendiri hampir semua energi dan pupuk yang diperlukan dan bahkan juga sebagian bahan kemasan yang diperlukan untuk distribusi dan penjualan hasil panen. Lingkungan untuk menumbuhkan tanaman dijaga pada suhu optimal sepanjang tahun oleh panas yang dihasilkan dari akuifer panas bumi yang mendidih setidaknya di bawah permukaan setengah wilayah Belanda.

Satu-satunya sumber pengairan adalah air hujan, ujar Ted, yang mengelola program budidaya. Dibandingkan dengan tanaman di ladang terbuka yang memerlukan air 60 liter, setiap kilogram tomat hanya memerlukan air kurang dari 14 liter. Beberapa hama yang berhasil masuk ke dalam rumah kaca Duijvestijn bersaudara akan disambut oleh pasukan pertahanan Phytoseiulus persimilis, yaitu sejenis tungau pemangsa yang rakus dan ganas pada tungau laba-laba yang merusak, namun sama sekali tidak tertarik pada tomat.