Riwayat Wayang Orang yang Melampaui Zaman: Tragedi atau Prestasi?

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 25 Juni 2020 | 14:44 WIB
Anak-anak berbusana tokoh-tokoh dalam wayang orang pada akhir abad ke-19. Kassian Cephas memotretnya di Yogyakarta sekitar 1890. (Kassian Chepas/Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde)

Kenthus terus mengikuti perkembangan zaman demi mempertahankan wayang orang. Ia menyajikan wayang orang tanpa dalang, kemudian ditambah paduan suara, hingga membuat cerita dalam bahasa Indonesia agar lebih dimengerti dan diterima banyak orang.

“Kami tetap memegang pakem, hanya cara penyampaiannya yang harus diubah. Saya memikirkan kelanggengan wayang orang. Saya ingin kesenian ini bertahan sampai akhir zaman,” tambahnya.

Sebuah pementasan wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta, Jawa Tengah. Keberadaan (Daniel Susilo Wibowo/Fotokita.net)

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ninok Leksono—jurnalis, pemerhati budaya, dan Rektor Universitas Multimedia Nusantara. Menurutnya, tragedi dalam perkembangan wayang orang adalah karena kelambanan dan ‘kekakuannya’. Ada beberapa pihak yang sulit beradaptasi, padahal ini menjadi kunci utama jika ingin bertahan.

“Dari sisi budaya, wayang orang tetap cocok bagi masyarakat Indonesia karena kita memiliki viewing culture yang tinggi. Ada pasarnya, tapi mungkin butuh penyesuaian,” ungkap Ninok.

Ia menambahkan, cerita wayang orang bisa dibuat lebih lucu, menarik, dan modern, dengan waktu yang lebih singkat. Penyelenggaraannya pun bisa dilakukan akhir pekan dan tidak terlalu malam.

“Wayang orang masih memiliki harapan untuk bertahan dan mendapat tempat di hati masyarakat perkotaan. Namun, manajemennya perlu ditangani dengan jiwa modern sehingga keberlangsungannya terjamin,” pungkas Ninok.

Wayang orang bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Itulah prestasi yang membuat seni pertunjukan ini tetap hidup karena menyampaikan teladan atau moral cerita di setiap lakonnya. Harus ada kreativitas yang membuat kesenian ini menjadi bagian dari zaman. Dan, kreativitas membutuhkan keberanian. Kreativitas yang dimaksud bukan mengubah pakem atau tatanan klasik, melainkan mengubah cara komunikasi dan pemanfaatan teknologi informasi dalam wayang orang.

Kini, di tengah pandemi, para seniman wayang orang pun harus beradaptasi dan lebih kreatif lagi. Gedung pementasan yang ditutup untuk mencegah penularan virus corona, membuat kegiatan mereka terhenti. Salah satu upaya agar tetap bisa tampil adalah dengan melakukan pementasan secara daring.

Oleh sebab itu, National Geographic Indonesia akan menggelar Wayang Orang Daring Pertama di Indonesia bertajuk "SIRNANING PAGEBLUG" yang dalam bahasa Indonesia bermakna “Hilangnya Pandemi”, pada Sabtu 27 Juni 2020, pukul 19.30-20.30 WIB

National Geographic Indonesia dan seniman wayang orang Bharata bersama Pertamina sebagai mitra dalam program pelestarian budaya mencoba mencari solusi untuk pentas kesenian pada tatanan “kenormalan baru” agar kesenian ini tetap lestari.  

Baca Juga: Kisah Perjuangan Penjaga Tradisi Wayang Cecak di Pulau Penyengat

 

Siaran Langsung via ZOOM, Wayang Orang Daring Pertama di Indonesia: Sirnaning Pageblug. Bersama sederet seniman wayang orang yang berpentas dari rumah masing-masing. (National Geographic Indonesia)

Pertunjukan ini ditayangkan langsung via ZOOM yang dipentaskan dari masing-masing rumah seniman wayang orang.

Kenthus menyampaikan bahwa seni itu hidup, penyampaiannya kepada penonton pasti mengalami perubahan mengikuti zaman. Selama pagebluk, ia mengaku, kreativitas para seniman wayang orang semakin ditantang—bagaimana bisa menggelar wayang orang sesuai pakem dan tatanan baru saat ini.

“Tadinya tidak pernah tahu ZOOM itu apa, tapi ya harus cari tahu dan saling bekerjasama. Perubahan pementasan dengan cara seperti ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tapi harus dilakukan agar bisa bertahan dan berkarya di masa pandemi,” papar Kenthus.

Pentas pertunjukan wayang orang dari pertama di Indonesia ini juga sekaligus menggerakkan empati warga untuk kepedulian kepada seni dan seniman pada masa pagebluk. Apapun yang terjadi kepada kita pada saat ini, kehidupan berkesenian dan berkebudayaan harus tetap berjalan dan diperjuangkan. 

Jika ingin turut membantu para seniman wayang orang, Sahabat dapat berpartisipasi dalam pementasan ini dan ikut berdonasi setulus hati melalui BCA 5230316009 a/n Paguyuban Seniman Wayang Orang Bharata. Hasil donasi dari pementasan akan diberikan pada para seniman wayang orang yang aktivitasnya terhenti selama pagebluk COVID-19.

Silakan, Sahabat mendaftar via bit.ly/NGI_wayangorang untuk menyaksikan pertunjukan bersejarah ketika tradisi bersinergi dengan teknologi.