Perubahan Iklim Sebabkan Hilangnya Keanekaragaman Hayati Secara Mendadak
Misalnya, ekosistem laut di kawasan Indo-Pasifik, Karibia, dan pantai barat Afrika berisiko besar untuk mengalami perubahan mendadak pada awal 2030-an.
Ratusan juta orang di sepanjang wilayah ini bergantung pada hasil tangkapan ikan sebagai sumber makanan utama. Selain itu, pendapatan ekowisata dari terumbu karang juga menjadi sumber pendapatan utama.
Di Amerika Latin, Asia, dan Afrika, dan sebagian besar hutan di Andes, Amazon, Indonesia, dan Kongo diprediksikan akan berada dalam bahaya mulai tahun 2050 berdasarkan skenario kenaikan emisi tinggi.
Hilangnya kumpulan satwa secara tiba-tiba berdampak negatif terhadap ketahanan pangan masyarakat suatu wilayah.
Lebih lanjut, ada penurunan kemampuan tanaman tropis untuk menyimpan karbon apabila burung dan mamalia penting yang berperan kepada penyebaran biji tiba-tiba hilang.
Langkah mendesak selanjutnya
Temuan-temuan ini menyoroti betapa mendesaknya mitigasi perubahan iklim.Mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cepat pada dekade ini akan mencegah ribuan spesies dari kepunahan dan melindungi manfaat yang mereka berikan pada manusia.
Menjaga pemanasan global di bawah 2°C akan meratakan kurva risiko perubahan iklim terhadap biodiversitas.
Hal ini dilakukan dengan cara mengurangi jumlah spesies yang rentan terhadap bahaya iklim secara masif dan memberi lebih banyak waktu bagi spesies dan ekosistem untuk beradaptasi dengan iklim yang berubah –baik dengan mencari habitat baru, mengubah tingkah laku, atau dengan bantuan konservasi dari manusia.
Ada juga urgensi untuk meningkatkan upaya untuk membantu orang-orang di daerah berisiko tinggi menyesuaikan mata pencaharian mereka karena perubahan iklim yang mengubah ekosistem lokal.
Bila kita mampu memproyeksikan di mana dan kapan spesies akan terpapar bahaya iklim sepanjang abad, kita dapat membuat semacam sistem peringatan dini yang mengidentifikasi area rentan terhadap perubahan ekologi mendadak.