Semangat Merawat dan Meruwat Warisan Lokomotif Hindia Belanda

By Mahandis Yoanata Thamrin, Minggu, 9 Agustus 2020 | 01:08 WIB
Acara Temu kangen Railfans dan Perawatan Lokomotif Tua dimotori oleh komunitas pecinta kereta Indonesian Railway Preservation Society. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Acara perawatan lokomotif koleksi Museum Transportasi dihadiri oleh anggota komunitas IRPS, Railfans Daop-1 (RD One), Komunitas Railfans Daop Empat (KRDE), dan Jejak Railfans. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

 

"Kami malu juga karena yang merawat justru dari teman-teman Railfans, bukan teman-teman pengelola museum.”

Tujuan acara perawatan lokomotif uap ini dilaksanakan untuk preservasi, mencegah dari dari karat dan menumbuhkan kecintaan terhadap kereta. Seorang peserta tengah melapisi badan lokomotif dengan minyak solar dan oli untuk menghindari tumbuhnya karat. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Bersamaan dengan acara perawatan lokomotif itu, beberapa pekerja tengah berupaya mengangkut lokomotif koleksi Museum Transportasi untuk dipindahkan ke Surakarta. Minggu sebelumnya, lokomotif lain telah berhasil dipindahkan ke Surakarta. Rencananya, kedua lokomotif tua itu akan dipulihkan kembali seperti sedia kala kemudian digunakan untuk mendukung wisata kota. “Pengambilan D14 dan D52 ini membuat kami senang dan sedih,” kata Danang. “Sedihnya, koleksi kita berkurang dua. Senangnya, D14 dan D52 hidup kembali sehingga cucu kita bisa melihat bagaimana proses mekanisme lokomotif uap.”

Saya menjumpai salah satu pendiri IRPS, Adhitya Hatmawan, yang baru saja kembali dari survei stasiun-stasiun yang berpotensi sebagai museum—Bandung, Semarang, Tegal, Bondowoso, dan Purworejo. Berkaitan acara perawatan lok tua ini, dia berharap banyak generasi muda yang turut melestarikan warisan lok-lok tua. Komunitasnya tidak hanya di Jakarta, tetapi juga hidup dan berkembang di kota-kota penting dalam sejarah kereta: Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang.

Setelah upacara selamatan beberapa minggu sebelumnya, para pekerja tengah berupaya memindahkan lokomotif tua ini. (Mahandis Yoanata Thamrin)

"Kegiatan perawatan lokomotif tua ini juga salah satu pelestarian," ujar Ketua IRPS Nova Prima. "Syukur-syukur seperti lokomotif uap yang dihidupkan."
 
Setelah upacara selamatan beberapa minggu sebelumnya, para pekerja tengah berupaya memindahkan lokomotif D14 dari Museum Transportasi ke Kota Surakarta. Lokomotif ini berasal dari pabrikan Hanomag, Hannover, Jerman pada 1922. Minggu sebelumnya, lokomotif D52 telah berhasil dipindahkan dengan selamat ke kota yang sama. Kedua lokomotif itu kelak kembali berdarma sebagai kereta wisata di Surakarta. Adhitya Hatmawan, salah seorang pendiri IRPS, mengungkapkan hal unik yang menjadi prasyarat "penunggunya": selama perjalanan ke tempat tujuan lok harus dibiarkan terbuka, dupa senantiasa menyala, dan bendera Republik Indonesia senantiasa berkibar.
 
“Stasiun Gerabag Merbabu masih kelihatan karena digunakan sebagai sekolah dasar sehingga terselamatkan. Kalau stasiun itu digunakan sebagai sarang burung walet, nasibnya akan hancur.”

“Semarang menjadi kota terpenting dalam sejarah perkeretaapian kita karena di sanalah cikal bakal pembangunan jalan kereta api,” ujar Adhitya. Beberapa minggu silam, IRPS Semarang menyelenggarakan napak tilas jalur kereta api dari Bedono sampai Gerabag Merbabu dalam rangka Hari Pahlawan. Mereka menyusuri jalur rel bergerigi non-aktif dan menjumpai salah satu bekas stasiunnya. “Stasiun Gerabag Merbabu masih kelihatan karena digunakan sebagai sekolah dasar sehingga terselamatkan. Kalau stasiun itu digunakan sebagai sarang burung walet, nasibnya akan hancur.”     

Indonesia termasuk negara yang memiliki koleksi lokomotif uap paling banyak. Setelah pemindahan lokomotif uap D52 dan D14 ke Surakarta, kini Museum Transportasi memiliki 25 lokomotif (23 unit lokomotif uap dan 2 unit lokomotif diesel) yang masing-masing memiliki jenis yang berbeda. Jumlah itu belum termasuk lokomotif di Museum Kereta Api Ambarawa, juga belum termasuk lokomotif yang tidak terhitung dan tercatat karena telanjur berakhir di pengepul besi rongsokan.

“Kita kurang perhatian pada aset kereta api,” kata Nova. “Padahal kalau itu dibuat heritage yang bisa berjalan, wah, itu keren banget!”

[Artikel ini terbit pertama kali pada 28 November 2016]