Pemanasan Global Membuat Virus Sulit Dibunuh dan Bertahan Lebih Lama

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 10 September 2020 | 11:34 WIB
ilustrasi pemanasan global (Ekaterina_Simonova)

 

Nationalgeographic.co.id – Pemanasan global akan meningkatkan ancaman penyakit menular karena membuat virus-virus lebih susah dibunuh.

Sebuah studi dari para peneliti di Swiss mengungkapkan bahwa virus yang ditularkan melalui air telah beradaptasi dengan lingkungan yang lebih hangat sehingga dapat bertahan lebih lama dan resistan terhadap disinfektan seperti klorin.

"Ini menyiratkan bahwa kualitas air mungkin akan lebih buruk di wilayah hangat. Risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh virus pun akan lebih besar," papar Tamar Kohn, profesor kimia lingkungan dari Swiss Federal Institute of Technology, dikutip dari The Independent.

Baca Juga: Pandemi COVID-19, Sampah Masker dan APD Banyak Ditemukan di Pantai

Sinar matahari, suhu tinggi, dan mikrob lainnya dapat menonaktifkan virus yang berada di permukaan air—mengurangi kemampuan virus untuk menyebarkan penyakit. Meski begitu, para ilmuwan memperkirakan, cara virus bereaksi dengan lingkungannya akan berkembang sebagai respons terhadap perubahan iklim.

Studi Swiss ini meneliti bagaimana enterovirus, keluarga virus yang dapat menyebabkan berbagai infeksi, termasuk pilek, polio serta penyakit kaki dan mulut lainnya, dapat beradaptasi dengan perubahan kondisi. Enterovirus biasanya ditularkan melalui feses dan masuk ke lingkungan melalui limbah, air, dan sanitasi yang buruk.

Tim menciptakan empat populasi berbeda dari enterovirus pada manusia dengan menginkubasinya di sampel air danau pada suhu 10°C dan 30°C, dengan dan tanpa paparan sinar matahari. Mereka kemudian mengekspos sampel ke suhu panas dan disinfektan.

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Enviromental Science and Technology, menemukan bahwa virus yang beradaptasi dengan suhu hangat lebih tahan lama daripada yang diinkubasi dalam air dingin.

Baca Juga: Plastik yang Dimakan Burung Laut Lepaskan Bahan Kimia Beracun ke Pencernaannya

Bahkan ketika dipindahkan ke air dingin, virus yang bertahan pada suhu hangat tadi tetap aktif lebih lama ketika terpapar klorin.

“Virus yang tahan di perairan lebih hangat akan menularkan penyakit dalam waktu lama dan resistan terhadap disinfektan,” tambah Kohn.

Ini berarti pemanasan global dapat membuat orang lebih berisiko terinfeksi virus saat melakukan kontak dengan air yang terkontaminasi. Kenaikan suhu yang disertai cuaca ekstrem dapat membawa ancaman penyakit yang tinggi, terutama di negara-negara yang lebih panas.

“Kami khawatir dengan gelombang panas ekstrem yang lebih sering terjadi dan durasi yang lebih lama. Itu dapat menyebabkan pemanasan yang signifikan pada perairan di sekitarnya,” pungkas Kohn.