Amba Warloka, Sebuah Cawan Peleburan Pusparagam Bangsa di Flores Barat

By National Geographic Indonesia, Sabtu, 5 Desember 2020 | 23:51 WIB
Suasana di Amba Warloka. Para penjual menunggu pembeli yang hendak menawarkan barter. (Boe Berkelana)

Cerita dan foto oleh Boe Berkelana

Nationalgeographic.co.id—Berjarak sekitar 30 kilometer arah barat daya Kota Labuan Bajo, sebuah pasar tradisional merawat jejak dari masa lalu. Di pasar ini, bukan hanya ikan yang masih setia bisa ditukar dengan daun singkong, tetapi juga orang-orang lintas kawasan saling bertemu dan bertukar kabar.

Nama pasarnya, Amba Warloka. Kata "amba" berarti pasar, yang diambil dari bahasa Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Padahal, lokasi pasarnya di wilayah Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Saya dan tiga teman  tiba di mulut Kampung Warloka ketika gelap telah pergi dengan sempurna. Akses jalan raya dari Labuan Bajo menuju Warloka belum seluruhnya beraspal. Bersama dua sepeda motor matic yang kami kendarai, perjalanan menjadi sedikit lebih lambat dan pelan. Sesekali, kawan pembonceng mesti turun dan berjalan kaki ketika hendak melewati jalan mendaki dan turunan tajam. Betapa tidak? Lubang-lubang di beberapa ruas jalan menganga dan itu sungguh berbahaya.

Kampung Warloka bersuasana perkampungan khas pesisir. Rumah-rumah panggung berdiri di atas pasir, beberapa yang lainnya rumah batu. Jalan raya lurus menembus tepi laut. Dari atas bukit yang letaknya persis di mulut kampung, kita bisa menyaksikan suasana pasar.

Baca Juga: Go Laba, Soliditas Orang-orang Bajawa Membangun Kebersamaan

penjual sayur di Amba Warloka. Bila pasar akan berakhir, sayur-sayur ini akan dibarter dengan ikan. (Boe Berkelana)

Beberapa sepeda motor lainnya menderu memasuki kampung. Membawa barang dagangan yang diikat di jok sepeda motor. Setelah melewati mulut kampung, dua ekor kerbau berdiri di pinggir jalan. Di rerumputan tampak beberapa wosa, anyaman daun lontar untuk mengangkut barang bawaan). Dua pelana yang terbuat dari anyaman pandan juga tergolek di rerumputan.

Kami datang pada Selasa, hari pasar Amba Warloka. Ini kali kedua saya ke Warloka. Berbeda dengan kali ini melalui jalur darat, kesempatan sebelumnya kami ke Warloka melalui jalur laut. Dengan perahu, Labuan Bajo ke Warloka ditempuh sekitar dua jam.

Saya mendengar Amba Warloka dari cerita-cerita orang tua ketika saya masih bersekolah dasar. Kampung saya berada di balik gunung dari Warloka. Dahulu, orang-orang kampung berjalan berhari-hari ke Warloka, membawa hasi bumi. Pulangnya, mereka membawa ikan dan barang kebutuhan sehari-hari.

Dahulu, kampung ini adalah pelabuhan laut lintas bangsa. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional,  pernah melakukan penelitian di Warloka pada 1981. Mereka menemukan menhir, dolmen, alat batu, gerabah, hingga keramik. Penemuan itu tersebar di beberapa titik di sekitar kampung. Belakangan, beberapa mahasiswa Arkeologi Universitas Gadjah Mada juga melakukan ekskavasi. Hasilnya, beberapa jenis gerabah yang diduga dari Tiongkok.

 Baca Juga: Simbol Perempuan di Kampung Tua Wologai

Batu Meja dan Batu Balok di Bukit Warloka, beberapa peninggalan purbakala yang masih bisa kita jumpai di Kampung Warloka. (Boe Berkelana )

Pagi itu suasana pasar mulai ramai. Pedagang-pedagang beras berbaris sejajar. Mereka mengisi sisi kiri dan kanan jalan yang menuju tepian laut. Berikutnya, berderet pedagang sayur-sayuran dan hasil kebun lainnya, diikuti para penjual ikan. Orang-orang yang menjual baju menempati gedung pasar yang tak berdinding.

Tak jauh dari lokasi pasar, dermaga Warloka memanjang ke tengah lautan. Membelah teluk kecil yang teduh tanpa gelombang. Orang-orang dari pulau turun dari kapal, naik ke dermaga, berjalan menuju pasar.

Mereka membawa ikan kering juga ikan-ikan besar hasil mancing. Tak jauh di seberang dermaga, rumah-rumah orang kampung Rinca terlihat jelas. Juga beberapa pulau di sekitarnya.

Di pasar, orang-orang bukan hanya bertransaksi. Mereka juga saling bertemu dan bertukar kabar. Saling menawarkan barang jualan dengan menggunakan lebih dari satu bahasa; Manggarai, Bima, Bajo, dan bahasa Indonesia.

Bahasa Manggarai diucapkan orang-orang suku Manggarai yang berasal dari beberapa anak kampung sekitar Warloka. Bahasa Bajo diucapkan oleh orang-orang Suku Bajo yang berasal dari Pulau Rinca, Pulau Mesa, dan Pulau Papagarang. Bahasa Bima diucapkan oleh orang-orang suku Bima yang menetap di pesisir Manggarai dan pulau-pulau sekitar.

Orang-orang pesisir Warloka dan kepulauan adalah poliglot. Mereka bisa berbicara dengan menggunakan lebih dari satu bahasa daerah. Saya tertarik menyaksikan bagaimana mereka melakukan alih kode dan campur kode—berpindah dari bahasa satu ke bahasa lainnya sepanjang percakapan. Pasar Warloka merupakan tempat menyaksikan fenomena dan peristiwa berbahasa dan kebahasaan. Kita bisa menyaksikan bagaimana hubungan masyarakat dan bahasa. Inilah salah satu tempat yang menarik untuk studi sosiolinguistik.

Ibrahim Sabir (45 tahun), salah satu tokoh masyarakat Warloka, mengatakan bahwa sampai awal dekade pertama abad ini, Amba Warloka menjadi pasar utama untuk beberapa wilayah barat Manggarai dan kepulauan.

Baca Juga: Singkap Labuan Bajo: Jejak Perkembangan Kota dan Tradisi Multikultur

Oto Kol, dump truck yang dimodifikasi menjadi mobil penumpang. Setiap Selasa kendaraan ini mengantar penumpang pasar Amba Warloka ke kampung-kampung tetangga. (Boe Berkelana )

Dia memaparkan bahwa orang Manggarai pegunungan turun ke Warloka sembari membawa banyak hasil bumi. Sedangkan, orang-orang kepulauan membawa banyak hasil laut. Pasar ini bukan hanya menjadi tempat perjumpaan suku Manggarai-Bajo-Bima, tetapi juga suku Bugis yang menetap di pesisir Labuan Bajo dan orang-orang Komodo dari Pulau Komodo.

“Amba Warloka ini menjadi pasar yang sangat penting zaman dulu”, kata Ibrahim.

Sekitar pukul delapan, aktivitas pasar selesai. Jelang pasar berakhir, beberapa penjual sayur akan berjalan menuju penjual ikan. Mereka menenteng sayur-mayur—daun singkong, bunga pepaya, juga kadang buah-buahan seperti jambu biji. Di depan penjual-penjual ikan, mereka menawarkan sayur. Bila kesepakatan bertemu, ikan-ikan ditukar dengan sayur. Penjual ikan dapat sayur, penjual sayur dapat ikan.

Tradisi barter adalah salah satu jejak masa lalu yang masih terawat hingga kini. Meskipun, zaman terus berkembang dan transaksi jual beli menggunakan uang adalah sebuah keniscayaan.

Ibrahim bercerita, orang-orang dari pegunungan biasanya membeli ikan setelah dagangan hasil bumi terjual. Orang-orang dari pulau biasanya membeli sayur setelah ikan-ikan terjual. Namun terkadang, hingga pasar selesai, ada hasil bumi dan ikan yang belum laku. Apes.

"Daripada saling menunggu untuk dibeli, ya saling ditukar saja", ujarnya.

Irfan Sulaiman, salah satu orang muda Warloka yang berjumpa di Amba Warloka juga bercerita bahwa beberapa bulan terakhir, ia dan kawan-kawannya telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Melalui kelompok ini, kekayaan alam dan budaya kampung Warloka akan dipetakan yang selanjutnya akan dikelola untuk kebaikan bersama.

Amba Warloka dan Kampung Warloka. Walau sudah tak seramai dulu, tempat ini senantiasa merawat jejak masa silam. Ia senantiasa menjadi ruang temu nan bersahaja. Tak jauh dari Warloka, Labuan Bajo tumbuh dan berkembang menjadi tempat berlabuh bagi banyak bangsa.

UNTOLD FLORES EXPEDITION merupakan perjalanan untuk menyingkap sejarah, budaya, alam, dan cerita manusia di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tujuannya, membangkitkan gairah perjalanan wisata berbasiskan narasi tentang sebuah tempat, sekaligus membangun kesadaran warga dan pejalan tentang pentingnya memuliakan nilai-nilai kampung halaman. Perjalanan ini merupakan bagian penugasan National Geographic Indonesia,yang didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.