Berdebar-debar, Jelajahi Angkasa Bogor Bersama Sibar Bermotor

By Mahandis Yoanata Thamrin, Senin, 27 Februari 2023 | 10:00 WIB
Terbang di atas hamparan awan yang mirip bentangan kapas. Trike merupakan pesawat microlight, gantole bermesin. (Bambang R Darya Atmaka)

Nationalgeographic.co.id—“Kita tidak jadi terbang!” ujar Edgar Ekaputra yang berkepala plontos dan bertubuh gempal. “Anginnya terlalu kencang. Kita coba lagi minggu depan.”

Sebuah pernyataan yang membuat saya kecewa lantaran saya telah berkorban menanti selama tiga jam sejak pukul enam pagi di Solowings Flight Club, Lido. Pagi di lembah barat Pangrango belumlah berakhir, namun keinginan saya untuk terbang perdana dengan wahana trike pupuslah sudah. Edgar merupakan seorang atlet gantole kawakan sekaligus orang Indonesia pertama yang menerbangkan trike sejak lebih dari 30 tahun silam—dialah Sang Legenda!

Bagi yang berhobi layang gantung, trike—pesawat microlight—adalah bentuk modifikasinya: gantole bermesin. Istilah “gantole” berasal dari bahasa Bugis untuk menyebut sibar atau capung. Entah, kenapa dijuluki capung. Padahal menurut saya bentuk sayap dan dengungannya tampak lebih mirip, katakanlah, lalat hijau.

Edgar Ekaputra di depan trike kesayangannya PKS-077 di Lido Airfield. Untuk kenyamanan dan keamanan selama terbang Edgar membekali diri dan pesawatnya dengan piranti tambahan. Memang harga piranti tersebut tidaklah murah, namun apalah arti harga dibandingkan dengan keselamatan penerbang? (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)
Baginya, untuk layak terbang dengan wahana ini, kecepatan angin haruslah tak melebihi 20 kilometer per jam. Melanggar pedoman ini berarti maut. Walaupun tak memberikan batasan ruang, dirgantara tidak memberi ampunan sekecil apapun kekhilafan kita.

Dia menunjuk deretan kata di atas papan tulis ruang pengarahan sembari berkata, “Sky has no limit, but there's no room for error!”

Setiap orang mungkin punya mimpi untuk terbang. Peradaban terdahulu telah menorehkan impian-impian terbangnya meski dengan karya belum sempurna. Salah satunya Leonardo da Vinci yang dikenal orang sebagai pendesain mesin terbang pengangkut manusia pada abad pertengahan. Seperti da Vinci, saya pun punya impian suatu saat bisa menerbangkan pesawat sendiri.

Pemandangan panil navigasi dan komunikasi di kabin pesawat trike, si sibar bermotor. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)
SEMINGGU KEMUDIAN, HARI YANG DINANTI PUN TIBA. Sekawanan anggota klub masih merangkai sayap-sayap trike. Saya bersama Edgar, yang siap dengan jaket dan sarung tangan, berjejak di rerumputan landasan perintis Lido yang basah karena sisa hujan semalam.

Kami menuju trike yang tengah diuji kelengkapannya. Setiap unit trike memiliki logbook, catatan pemakaian dan perbaikan. “Anda tahan dingin ngga? Kalau tidak tahan, pakailah ini.” Kemudian dia memberikan balaclava dan manset hitam untuk melindungi muka dan lengan saya.

Setelah memakai busana tambahan itu, tampaknya kami lebih mirip ibu-ibu berhijab yang berduyun ke pengajian ketimbang sosok lelaki penerbang kawakan.

Pesawat kami melintasi kawasan lapangan golf Rancamaya. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)
Kokpit trike seperti kabin pesawat tempur—sempit. Saya melangkahkan kaki dan duduk di kokpit belakang, sementara Edgar sebagai pilot menyusul dan duduk di kokpit depan.

Saya menyaksikan panel instrumen navigasi dan kecepatan mesin. Pesawat trike milik Edgar ini juga dilengkapi dengan peranti darurat.

Balistic Paraschute System, parasut yang dikembangkan untuk kondisi darurat, dan Personal Beacon, transmisi darurat yang terhubung dengan satelit internasional.

“Semua saya beli untuk berjaga-jaga,” ujarnya sembari mesem. “Semoga saja tidak pernah dipakai.”Saya mengamini ucapan Edgar itu. Mesin berbaling-baling yang berada tepat dibelakang tempat saya bersandar mulai menderu. Kami saling mengecek perangkat radio yang tersemat di helm masing-masing dan menunggu perintah pemandu lalu lintas udara Lido.