Basoeki Abdullah: Menyirat Nilai Budaya dan Kemanusiaan dalam Lukisan
"Itulah ladang kemanusiaan Pak Bas, dan memiliki kecondongan mengusung perjuangan kelas proletar, yang berbau Marxisme. Ia elit, mapan, terhormat, beliau punya ruang yang mobile untuk menampung emosinya untuk mengartikluasi nilai-nilai dan aspirasi kemanusiaan, dan potret-potret jelata," terangnya.
"Emosinya bergerak karena berkembang cepat imajinasinya pada perjuangan. Saya berasumsi ini dikembangkan dari situasi peristiwa yang dilihat pak Bas tentang perjuangan dan kemanusiaan."
Emosi dan nilai itu dikembangkan dalam teknis pelukisannya. Contoh seperti pengungkapan pewarnaan yang diterapkan di lukisan gambar sawah dan petani yang membajak dengan cakrawala nan luas, dan bernuansa subuh hari.
Menurut Puguh, itu merupakan penggambaran emosional dari model atau apa pun yang dilukis Basoeki Abdullah yang dihayati lewat narasi seni.
Baca Juga: Seniman Ciptakan Lukisan dari Kisah-Kisah dan Berita COVID-19
Kemampuan Basoeki Abdullah menyampaikan pesan-pesan, Puguh menyebutnya sebagai proses komunikasi publik yang diaplikasikan secara visual yang sangat jelas. Dalam prosesnya yang mempercantik nuansa untuk dinikmati, mengartikulasi nilai-nilai yang dimiliki untuk disampaikan ke masyarakat.
"Jadi dalam riset kuratorial, saya menemukan lukisan Basuki Abdullah yang bisa dikaji secara makna dan visual. Ia membuat [juga] konsep [nilai] relijiusitas, dia bisa terlihat dengan model untuk narasi seperti ibu dan anak, perawan suci dibuat modelnya sebagai tandingan dengan yang di Eropa," Mikke Susanto menambahkan.