Makaka Pendaulat Takhta, Kisah Sosial Politik Yaki di Sulawesi Utara

By Titania Febrianti, Sabtu, 27 Maret 2021 | 16:00 WIB
Memperhatikan dengan penuh keingintahuan, yaki yang buntung tangan kanannya akibat terkena jerat sewaktu kecil ini ditandai oleh para peneliti dengan nama Kacang. Jerat satwa, perburuan, serta kerusakan habitat adalah ancaman bagi yaki. (Zika Zakiya)

Nationalgeographic.co.id—Awan putih memayungi tajuk hutan Taman Wisata Alam (TWA) Batu­putih, Sulawesi Utara. Di tengah sua­sana hutan yang hening, pohon-pohon rao (Dracontomelon dao) yang kokoh dengan akarnya yang pipih meroket angkuh ke langit. Tiba-tiba teriakan monyet hitam sula­wesi­—penduduk lokal menyebutnya kera hitam atau yaki—memenuhi hutan.

Detik itu juga, puluhan yaki berhamburan ke arah pantai dengan panik. Yaki kecil meloncat ke pelukan induk sembari berlari, sementara yaki muda berlomba-lomba menjadi yang ter­depan. Di baris­an paling akhir, pemandangan unik tampil menutup adegan: seekor yaki muda berlari limbung menggunakan dua kakinya, berhati-hati menjaga agar mangga ranum yang sedang ia nikmati tak terlepas dari tangannya.

Tak lama kemudian, di belakang mereka mun­cul seorang lelaki dari balik pepohonan. Ia mengenakan baju kutung, memperlihatkan lengan­­nya yang kekar. Tangan kirinya meng­geng­­gam katapel dengan karet pelontar ber­­warna jingga mencolok mata. Sambil me­ngatapel­kan batu ke arah tanah dan batang pohon, ia tertawa saat melihat saya. Ya, seperti biasa, Ferdy Martin Dalentang, lelaki itu, ber­hasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Peran Ferdy sehari-hari memang menghalau para primata penyandang nama latin Macaca nigra, yang tergabung dalam sebuah ke­lompok bernama Rambo II. Kelompok ini terdiri dari 60 individu: 7 jantan dewasa, 18 betina dewasa, dan sisanya adalah anak-anak berusia hingga sekitar empat tahun. Wilayah jelajah hari­an mereka dan permukiman penduduk yang terletak di bagian barat TWA hanya dibatasi oleh sungai kecil yang bermuara di Laut Maluku.

Di bawah penugasan Macaca Nigra Project, se­buah proyek kerja sama antara German Primate Centre, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Sam Ratulangi, Ferdy menjaga kelompok ini agar tidak menyambangi kebun penduduk.