Ong Kho Sioe: Rumah Candu dan Sejarah Becak Pertama di Yogyakarta

By Agni Malagina, Rabu, 28 April 2021 | 21:14 WIB
Ketandan merupakan pecinan tertua di Malioboro, Yogyakarta. Pecinan ini menyimpan banyak sejarah. Seperti salah satu rumah kuno di Ketandan yang difungsikan sebagai kios ini. Jangkar di dinding diduga sebagai lambang keagamaan. Namun, beberapa rumah yang memiliki bentuk jangkar besi sejatinya merupa (Dwi Oblo)

 

Rumah kongsi OKS itu bergaya kolonial, yang masih tampak pada fasad aslinya kendati kini tersekat menjadi dua bagian. Pemiliknya masih terhitung cucu sang filantrop.

“Engkong itu salah satu pionir orang Ketandan yang buka usaha pakai branding namanya, OKS,” ujar Alberta Gunawan kepada National Geographic Indonesia. Dia merupakan cucu Ong Kho Sioe, yang akrab disapa Berta, kelahiran 1962.

“Engkong menghidupi orang-orang dari Cina yang datang ke Ketandan dengan usaha becak dan beras itu. Setiap hari sejak zaman papa sampai zaman saya kecil itu Engkong Emak masak bubur dengan taburan ubi,” ujar Berta. “Setiap hari, ya ngasi makan orang-orang itu sampai orang itu bisa usaha sendiri.” Kemudian dia menyebutkan salah satu nama alumni rumah kongsi OKS adalah generasi pertama pemilik Toko Ramai di Malioboro saat ini.

“Ceritanya, awal merakit becak itu engkong merakit sendiri, punya bengkel. Ngumpulin dari toko besi ada ruji, rangka, lalu slebor dan terpal sama Pak Sami. Dulu para pembecaknya ngumpul di Mergangsan,” ujar Berta.

 

Baca Juga: Sisik Melik Makna di Balik Toponimi 'Jalan Malioboro' di Yogyakarta

Rumah Kongsi, sebutan untuk rumah milik Ong Kho Sioe. Rumah ini kerap juga disebut Rumah Candu. Sejarah becak di Yogyakarta bermula di Pecinan Ketandan. (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

Dia menceritakan bahwa salah satu alasan OKS membuat becak adalah untuk mengantar isterinya mengirim beras ke konsumennya, beberapa kawan-kawan OKS, dan tamu-tamu dari Cina. Pada masa perjuangan kemerdekaan baik melawan Jepang maupun Belanda, becak-becak itupun menjadi kurir logistik serta candu!

Berta masih teringat bagaimana dia turut meracik candu. “Aku itu masak candu. Dari bentuk balok besar dimasak dibuat jadi butir-butir kecil. Baunya seperti aspal kebakar itu lho. Kalau aku tak kasih madu biar manis,” kata Berta menggambarkan proses pembuatan pil nyeret—ungkapan untuk butiran candu.

Candu-candu yang beredar di Jawa diimpor dari mancanegara karena candu tidak tumbuh di Jawa. Candu yang beredar di Yogyakarta didatangkan dari Semarang dengan kurirnya asal Blora.

“Orang-orang datang, nanti nyeret pakai alat cangklong panjang itu lo, didulit ditaro dicangklong, dibakar, dihisap, ya ndak sampai dua menit habis itu. Engkong tinggal ngitung perorang habis berapa butir. Itu dulu biasanya mulai pada nyeret jam empat sore sampai jam 6.30 malam lah bubarnya,” katanya.