Mendefinisikan 'Kecantikan', Mengapa Banyak Orang yang Memujanya?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Kamis, 6 Mei 2021 | 10:00 WIB
Mendefiniskan kecantikan. Venus adalah dewi cinta bagi kebudayaan Romawi kuno, yang dipuja ketika musim semi. Lukisan Sandro Botticelli bertajuk La nascita di Venere, kelahiran Venus. (Sandro Botticelli/Google Art Project)

 

Pada Gigi Hadid, skor golden ratio-nya mencapai 94,5 persen. Melansir Daily Mail, banyak perempuan yang rela operasi plastik dan menghabiskan uangnya demi menyerupai Gigi Hadid yang nyaris 100% memenuhi golden ratio.

Jika saja diadakan jejak pendapat, tentu tak semua orang mengamini bahwa Gigi Hadid dan Robert Pattinson sebagai yang tercantik dan tertampan di dunia. Sebab kita memiliki preferensi masing-masing akan definisi keindahan itu sendiri.

Meski dari itu, para ilmuwan dalam berbagai jurnal mengakui bahwa kecantikan atau ketampanan adalah keputusan utama mengapa seseorang dipilih untuk menjadi pasangan kita (Luo & Zhang, 2009; Kurzban & Weeden, 2005; Thao et al., 2010).

Hal serupa juga terjadi pada aplikasi kencan daring. Ada banyak yang menyukai seseorang karena keahlian, karakter, atau daya pintarnya. Namun, pada kenyataannya mereka—secara sadar maupun tidak sadar—lebih memilih yang tampangnya dianggap menarik, dan dari ras yang sama (Chopik & Johnson, 2021).

 

Baca Juga: Penelitian: Pria Lebih Tertarik dengan Wanita yang Tampil Secara Alami

Definisi kecantikan dan ketampanan sering disematkan sebagai orang yang memiliki kulit berwarna putih atau cerah. (TAGSTOCK1)

“Yang juga mengejutkan adalah betapa kecilnya perkara selain daya tarik dan ras yang penting untuk swipe—seolah kepribadian tampak tidak penting, seberapa terbuka terhadap hubungan tidak penting, gaya pendekatan hubungan, dan apakah hubungan jangka pendek atau panjang bukan persoalan,” terang mereka.

Melansir PsychologyToday, para psikolog menganggap keelokan sangat penting bagi kita sebagai gambaran kualitas positif seseorang. Kebiasaan ini terjadi secara luas dalam konteks budaya manapun, dengan definisi kecantikannya masing-masing.

Misal, lewat tampang yang cantik pada seseorang, diharapkan menjadi lebih bahagia dan memiliki hidup yang memuaskan dari pada individu yang dianggap tak menarik.

Anjan Chatterjee, profesor neurulogi Perelman School of Medicine at the University of Pennsylvania, berujar bahwa pemahaman tiap individu pada keelokan dipengaruhi pengalaman, pendidikan, struktur masyarakat sekitar.

Baca Juga: Studi: Wanita Cantik Cenderung Berteman dengan yang Cantik