Jejak Jalur Rempah, Legenda Kebun Gambir di Persimpangan Selat Malaka

By Agni Malagina, Minggu, 13 Juni 2021 | 16:00 WIB
Klenteng Tien Shang Miao atau Vihara Akar. Diba­ngun pada tahun 1811 oleh kapitan Senggarang Chiao Chen sebagai tempat tinggalnya. Senggarang pada abad 18-19 merupakan pusat penanaman gambir dan lada di Kepulauan Riau. (Titania Febrianti/National Geographic Indonesia)

Nationalgeographic.co.id—Gambir dikenal dunia sebagai tanaman endemik Sumatra. Pohon ini pernah dibudidayakan di Kepulauan Riau mulai 1730-an. Mengapa rempah ini begitu populer?

Pada akhir abad ke-18, permintaan pasar akan gambir sangat tinggi. Gambir digunakan sebagai cairan penyamak produk kulit, penambah ramuan kesehatan atau pengobatan yang hebat. Manfaat terbesarnya digunakan sebagai pewarna atau penguat warna batik di Pulau Jawa.

Tanaman ini menjadi bagian dari tradisi pinang sirih Nusantara. Batavia menjadi tempat kapal-kapal pembawa gambir berlabuh untuk dibawa ke sentra batik Jawa dan Madura.

Tak heran, kita memiliki sejumlah tempat yang memiliki toponimi seperti Pasar Gambir di Batavia. Toponimi “Gambiran” muncul di wilayah sentra batik—seperti di Cirebon, Semarang, Kudus, Pati, Rembang, Lasem, Bangkalan, Banyuwangi, Solo, dan Yogyakarta. Biasanya, Desa Gambiran terletak di wilayah permukiman masyarakat Cina Jawa dan sentra batik. Toponimi Gambiran disebut-sebut sebagai tempat pe­­ngumpulan gambir dari Sumatra sebelum digunakan untuk keperluan penyamakan kulit dan pewarnaan batik.