Alfa hingga Delta: Bagaimana Bisa Virus Corona Memiliki Banyak Varian?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Senin, 21 Juni 2021 | 20:30 WIB
Ilustrasi virus corona. ()

Tetapi para ilmuwan di seluruh dunia, khususnya Indonesia harus tetap mengamati apakah sebuah varian baru menjadi dominasi penyebaran atau tidak. 

"Kalau misalnya suatu ketika—mudah-mudahan tidak terjadi—variannya mendominasi, tidak bisa vaksinnya mengcover varian tadi, kecuali ada kajian [terhadap varian]" kata Amin.

Amin menyimpulkan, risiko terhadap orang yang telah divaksinasi terkena Covid-19 masih tetap ada. Meskipun kekebalan sudah dimiliki, risiko virus bermutasi untuk menjadi lebih ganas terhadap kekebalannya akan berisiko lebih tinggi.

Baca Juga: Setahun Pagebluk Covid-19. Apa saja yang Bisa Kita Pelajari?

 

"Maka, kemungkinan [virus] itu mengatasi kekebalan yang sudah dimiliki bisa terjadi."

"Jadi protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan cuci tangan harus tetap dilakukan. 5M dilakukan masyarakat, dan 3T harus dilakukan pemerintah. Untuk varian manapun, vaksinasi harus berdampingan," pungkasnya.

Amin mengungkapkan ada empat sifat yang harus diwaspadai dari varian baru Covid-19 ini. Pertama, penyebarannya lebih cepat. Kedua, sulit didiagnosis. Ketiga, kasus yang menjadi lebih berat. "Dan keempat adalah menyebabkan vaksin menjadi tidak efektif,” ungkapnya.