Mengungkap Kisah di Balik Lukisan Modigliani Tentang Mantan Kekasihnya

By Fadhil Ramadhan, Kamis, 24 Juni 2021 | 21:00 WIB
Lukisan karya Amedeo Modigliani berjudul 'Wanita dengan Pita Beludru '. (Nicolas)

Nationalgeographic.co.id—Sebagian dari lukisan tersembunyi karya Amedeo Modigliani (1917) ditemukan dan direkonstruksi oleh dua ilmuwan. Dalam kasus "Potret Seorang Gadis" karya Modigliani, terdapat sebuah lukisan cat minyak bergambarkan seorang wanita. Rambutnya berwarna cokelat, wajahnya cemberut, sedang dalam posisi duduk. 

Studi sinar-X dari kanvas yang dilakukan oleh museum pada tahun 2018, mengungkapkan bahwa lukisan tersebut awalnya adalah lukisan bergambarkan wanita lain; seorang ramping berambut pirang. 

Sebagian dari lukisan tersembunyi tersebut—sekarang dipajang di Galeri Lebenson di London—ditemukan dan direkonstruksi oleh dua ilmuwan menggunakan kombinasi pencitraan stereoskopik, teknologi kecerdasan buatan, dan pencetakan 3D.

Ahli saraf Anthony Bourached, dan fisikawan George Cann, bergabung di London pada Januari 2019 untuk menemukan Oxia Palus, sebuah proyek ilmiah yang menggunakan mesin. Fungsi mesin tersebut yaitu untuk merekonstruksi, apa yang mereka sebutkan sebagai "NeoMasters", atau karya seni yang sebelumnya tersembunyi di balik lapisan lukisan tersebut. 

Amedeo Clemente Modigliani (12 Juli 1884 - 24 Januari 1920), sekitar 1912. Dia adalah seorang pelukis dan pematung Yahudi Italia yang bekerja di Prancis. Ia dikenal karena potret dan telanjang dalam gaya modern yang ditandai aspek surealis dari wajah, leher. (ARTSY)

 

 

Upaya mereka berhasil menemukan lukisan Periode Biru oleh Picasso, Madonna oleh Leonardo da Vinci, dan lukisan pemandangan oleh Santiago Rusiñol yang kemudian dilukis oleh Picasso dan timya. 

Untuk menemukan karya 'hilang' ini, Bourached dan Cann menerapkan algoritma transfer gaya saraf ke arah sinar-X lukisan, yang diduga memiliki karya seni lain yang tersembunyi di bawah permukaannya. Teknologi ini memanfaatkan gambar dari pemindaian, serta informasi dari karya seniman lainnya, dalam mereproduksi warna, polesan kuas, dan fitur pembeda lainnya.

Bourached adalah peneliti ilmu saraf dengan minat pada kesenian dan sejarah. “Menggunakan AI untuk menganalisis seni, adalah langkah selanjutnya yang tak terhindarkan untuk memahami masa lalu kita dengan lebih baik,” kata Bourached.

Baca Juga: Lukisan Van Gogh Dicuri Saat Museum Belanda Tutup Karena COVID-19

 

"Gambar Tersembunyi" Beatrice Hastings oleh Amedeo Modigliani yang dibuat oleh Oxia Palus menggunakan teknologi AI. (Mark Heathcote and Abbie Soanes)

Lalu, siapakah wanita yang ditemukan di balik lukisan tersebut? Ternyata wanita tersebut adalah mantan kekasih dari Modigliani. Dia adalah penyair, penulis, dan kritikus sastra Inggris bernama Beatrice Hastings. Saat ini lukisan yang ternyata begambarkan Hastings, disimpan dalam koleksi Tate.

Meskipun tercatat bahwa Hastings “terlihat jelek, ganas, (dan) serakah”, setelah pertama kali bertemu Modigliani di kafe Paris pada musim panas 1914, Hastings segera jatuh cinta padanya. 

Sudah dua tahun pasangan tersebut berbagi apartemen di Montparnasse untuk agenda produksi kreatif. Hastings diterbitkan secara produktif, dan diketahui, dia telah berpose untuk setidaknya 14 lukisan Modigliani. 

Baca Juga: Pusparagam Cycloop: Pulau Asei, Hunian Seniman Lukis Tradisi Sentani

"Gambar Tersembunyi" Beatrice Hastings oleh Amedeo Modigliani yang dibuat oleh Oxia Palus menggunakan teknologi AI. (Oxia Palus and Lebenson Gallery London)

Namun, hubungan mereka juga terganggu oleh kecanduan alkohol, kepribadian yang meledak-ledak, dan konfrontasi kekerasan. “Bahkan dalam lingkungan bohemian Paris pada tahun 1910-an, Hastings dan Modigliani menjadi pasangan yang nakal dan kasar,” tulis Chloe Aridjis, kurator pameran Modigliani Tate pada 2017–2018.

Mungkin secara simbolis, Modigliani mencemooh mantan kekasihnya dengan melukis Hastings pada tahun 1917. Namun, berkat dua ilmuwan London, Hastings telah menemukan cara untuk 'melihat cahaya' lagi; untuk terbebas. Seperti yang Hastings tuliskan pada tahun 1937, “Wanita beradab menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar menjadi 'alat' bagi kehidupan seorang pria. Dia ingin hidup sendiri.”