Tata Surya Kedatangan Komet Terbesar dalam Sejarah Temuan Astronomi

By Eric Taher, Senin, 5 Juli 2021 | 19:00 WIB
Ilustrasi dari komet Bernardinelli-Bernstein, komet terbesar yang pernah ditemukan. (NOIRLab/NSF/AURA/J. da Silva)

Nationalgeographic.co.id—Pada 23 Juni 2021, astronom mengumumkan keberadaan komet terbesar yang pernah mereka temukan. Dilansir dari Space, komet ini berukuran masif, dengan lebar mencapai 100-200 kilometer, sepuluh kali lebih lebar dibandingkan komet biasa.

Komet tersebut dinamai Bernardinelli-Bernstein, sesuai dengan nama astronom yang menemukannya, Pedro Bernardinelli dan Gary Bernstein. Keduanya merupakan astronom asal University of Pennsylvania. Oleh mereka pula, komet ini secara formal dinamai C/2014 UN271.

Komet ini pertama kali diidentifikasi sebagai planet minor dari sebuah gambar yang diambil oleh proyek Dark Energy Survey (DES) pada 20 Oktober 2014. Proyek ini dilakukan melalui Dark Energy Camera (DECam) yang terpasang pada teleskop Victor M. Blanco di Cerro Tololo Inter-American Observatory, Chile.

Akan tetapi, penelitian lebih jauh selama enam tahun mengungkapkan keberadaan ekor debu. Penemuan inilah yang membuat objek ini akhirnya diidentifikasi sebagai komet oleh Bernardinelli dan Bernstein, seperti disadur dari New Scientist.

 

Komet ini diperkirakan berasal dari Awan Oort. Awan ini terdiri dari serpihan-serpihan debu dan es yang mengelilingi tata surya. Awan ini diperkirakan menjadi asal dari banyak komet dengan orbit yang sangat jauh, seperti komet Bernardinelli-Bernstein.

Bernardinelli-Bernstein sendiri mempunyai periode revolusi yang sangat lama. Ia membutuhkan tiga juta tahun untuk menyelesaikan satu periode revolusinya, seperti dilansir dari The New York Times

Dilansir dari Tech Explorist, komet Bernardinelli-Bernstein saat ini berada di orbit Uranus, sekitar 3 miliar kilometer dari matahari kita. Sayangnya, ia hanya akan mencapai orbit Saturnus pada tahun 2031, sekitar 1,5 miliar kilometer dari matahari. Artinya, komet ini tidak akan melintasi Bumi dan tidak akan terlihat dengan mata telanjang.

Baca Juga: Baru Ditemukan 5 Bulan Lalu, Komet Ini Hancur Saat Mendekati Bumi

Komet ini pertama kali diidentifikasi sebagai planet minor dari sebuah gambar yang diambil oleh proyek Dark Energy Survey (DES) pada 20 Oktober 2014. (Dark Energy Survey/DOE/FNAL/DECa)

 

Pengiriman wahana nirawak tersebut juga tidak memungkinkan. "Wahana kami menggunakan energi matahari, dan tidak bisa beroperasi pada jarak tersebut," cuit akun Twitter Comet Interceptor, sebuah misi yang akan diluncurkan European Space Agency (ESA) pada tahun 2029. "Selain itu, wahana Comet Interceptor tidak mampu membawa bahan bakar yang cukup untuk sampai ke sana," tambahnya.

Meskipun demikian, sejumlah teleskop besar diperkirakan akan mampu menangkap rupa dari sang komet. Selain itu, sepuluh tahun merupakan waktu yang cukup panjang untuk membangun teleskop-teleskop baru untuk melihat komet raksasa ini secara lebih detail.

Baca Juga: Terungkap Alasan Orang Amerika Minta NASA Lupakan Misi ke Bulan

Orbit dari Komet Bernardinelli-Bernstein (putih). Diperkirakan ia membutuhkan waktu tiga juta tahun untuk mengelilingi matahari. (NASA)

 

"Kami mempunyai sekitar 20 tahun untuk mempelajarinya," kata Peter Veres. Ia adalah astronom di Center of Astrophysics Harvard & Smithsonian dan juga Minor Planet Center. Ia menambahkan, bahwa ini akan "menjadi kesempatan yang menarik".

Namun, para astronom tidak hanya puas sampai situ saja. Penemuan dari Bernardinelli-Bernstein tidak menutup kemungkinan akan penemuan komet yang lebih besar. Dilansir dari Forbes, saat ini sedang dibangun Vera C. Rubin Observatory di Gunung Cerro Pachon, Chile. Dengan kamera berukuran 3.200 megapixel, observatorium baru ini akan membuka jalan baru bagi pengamatan antariksa, termasuk penemuan komet-komet raksasa lainnya. 

Baca Juga: Astronom Berhasil Menemukan Jejak Oksigen Tertua di Alam Semesta