Bayi Es

By , Selasa, 21 April 2009 | 16:19 WIB

DUKA SANG INDUKKawanan mamut mendekati sungai yang deras. Seekor anak mamut berjalan di dekat kaki induknya yang besar, sesekali menggesekkan belalai ke bulu kaki induknya yang panjang dan berkilau. Langit biru cerah dan angin kering berdesir melintasi rerumputan yang bergoyang laksana ombak laut di stepa selebar 18.000 km yang membentang di busur utara dunia Zaman Es. Musim dingin yang panjang telah berakhir; kicauan burung dan bau lempung basah memenuhi udara.

Mungkin kehangatan mentari membuat sang induk lengah dan untuk sesaat dia kehilangan jejak anaknya. Si bayi mamut mengeluyur ke sungai. Bayi betina itu terpeleset di tepi sungai yang licin dan meluncur ke dalam campuran lumpur, pasir, dan salju yang baru mencair. Si mamut kecil berjuang untuk melepaskan diri, tetapi setiap gerakan yang dibuat justru semakin menenggelamkannya. Lumpur memasuki mulut, belalai, dan matanya; Si kecil yang bingung itu megap-megap, tapi bukannya mendapat udara, malah lumpur yang memenuhi mulutnya. Anak mamut ini terbatuk-batuk, tersedak, dan dilanda kepanikan, lalu dia memekik nyaring ketakutan, sehingga induknya datang berlari. Karena mencoba mengisap udara sekuat tenaga, si bayi mamut menghirup lumpur jauh ke dalam trakea, menyumbat paru-parunya. Ketika induknya sampai ke tepi sungai, si bayi sudah setengah tenggelam dalam lumpur sedingin es dan meronta dengan sia-sia, mengalami gegar jiwa yang cepat. Sang induk menjerit dan berlari bolak-balik di tepi sungai yang lembek, sehingga seluruh kawanan berdatangan. Bledug itu menyaksikan anaknya tenggelam.

Malam turun. Kawanan itu melanjutkan perjalanan, tapi sang induk tinggal. Sinar bulan keemasan memetakan bayangan berpunuknya di lumpur yang berkilau. Bulan tenggelam, dan bintang berkelap-kelip di langit nan dingin. Menjelang fajar, untuk terakhir kalinya dia menatap tempat bumi menelan bayinya, lalu berpaling dan mengikuti kawanan mamut ke utara, menuju padang rumput musim panas.!break!

PENEMUANPada suatu pagi bulan Mei 2007 di Semenanjung Yamal, Siberia barat laut, seorang penggembala rusa kutub dari suku Nenets bernama Yuri Khudi berdiri di sebuah beting Sungai Yuribey bersama tiga putranya, bermusyawarah mengenai sesosok jasad kecil. Walau belum pernah melihat binatang seperti itu sebelumnya, mereka sangat mengenal jasad itu dari dongeng yang dinyanyikan orang Nenets di balai pertemuan pada malam musim dingin yang gelap. Ini bayi mamont, makhluk buas yang kata orang Nenets berkeliaran di dunia bawah yang gelap dan beku, digembalakan oleh para dewa neraka sama seperti Nenets menggembalakan rusa kutub di tundra. Khudi sudah sering melihat gading mamut, batang berpilin warna kuning madu setebal batang pohon yang ditemukan sukunya setiap musim panas. Namun, dia tak pernah melihat binatang yang utuh, apa lagi yang demikian awet bak mukzizat tersebut. Selain rambut dan kuku yang tak ada lagi, bagian tubuh yang lain masih utuh.

Khudi gelisah. Dia merasa ini penemuan penting yang harus diberitahukan kepada orang lain. Namun, dia tidak mau menyentuh binatang itu karena suku Nenets yakin mamut adalah pertanda malapetaka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa barangsiapa menemukan mamut akan mati muda. Khudi bersumpah akan menenangkan penguasa neraka dengan mengorbankan anak rusa kutub dan sesajen vodka. Tapi, Pertama, dia harus menempuh perjalanan 240 kilometer ke selatan, ke kota kecil Yar Sale untuk berkonsultasi dengan teman lamanya Kirill Serotetto yang lebih paham perihal dunia luar. Serotetto mendengarkan cerita temannya lalu bergegas membawanya menemui direktur museum lokal yang membujuk pemerintah setempat untuk menerbangkan Khudi dan Serotetto kembali ke Sungai Yuribey dengan helikopter.Sayang disayang, saat mereka tiba di beting itu, mamut tersebut telah hilang.!break!

NEGERI RAKSASAMamut adalah kelompok gajah bergenus Mammuthus yang telah punah dengan nenek moyang yang meninggalkan Afrika sekitar 3,5 juta tahun lalu dan menyebar ke seantero Eurasia, beradaptasi dengan lingkungan hutan, sabana, dan stepa. Yang paling terkenal di antara makhluk berbelalai ini adalah mamut berbulu tebal, Mammuthus primigenius, sepupu dekat gajah modern dengan ukuran tubuh yang kurang-lebih sama. Binatang ini pertama kali muncul pada pertengahan kala Pleistosen, lebih dari 400.000 tahun lalu, mungkin di Siberia timur laut. Mamut berbulu tebal beradaptasi sangat baik dengan cuaca dingin, berkat lapisan bulu pendek yang tebal rapat, bulu pelindung yang mencapai 90 sentimeter, serta kuping kecil yang ditutupi bulu. Gading besarnya yang melengkung punya fungsi utama untuk bertarung, mungkin juga berguna dalam mengais makanan yang terkubur salju. Karena mamut sering mati dan terkubur dalam endapan yang kemudian beku, banyak jasad binatang itu yang bertahan hingga masa modern, terutama di dalam lapisan tanah beku Siberia yang luas dan tebal.

Sesungguhnya, dongeng alam bawah Nenets benar adanya: tanah bagian dalam di Siberia penuh dengan mamut berbulu tebal. Saat es mencair setiap musim panas, ratusan gading, gigi, dan tulang muncul di tepi sungai, danau, serta di sepanjang pantai. Erosi membebaskan rangka-rangka itu dari tanah beku tempat tulang-tulang itu terbaring selama puluhan ribu tahun. Sejak ahli botani Mikhail Ivanovich Adams menemukan jasad mamut berbulu wol pertama di Siberia pada 1806, sekitar selusin spesimen jaringan lunak lainnya telah ditemukan, termasuk beberapa anak mamut mulai dari yang baru lahir hingga umur setahun. Namun, dari semua jasad berbagai umur itu, tak ada yang selengkap makhluk yang ditemukan Yuri Khudi—dan kini hilang—di Sungai Yuribey.

Pada masa mamut masih hidup, bentang alam di sebagian besar kawasan megafauna itu sangat berbeda dengan tanah lapang nan gersang serta tundra berpaya yang ada di sekeliling Sungai Yuribey masa kini. Saat itu udaranya lebih kering, awan sedikit, dan angin kencang melintasi langit yang sangat biru. Alih-alih tundra, terbentang padang rumput kering yang disebut ahli paleobiologi R Dale Guthrie sebagai stepa mamut. Stepa ini membentang dari Irlandia ke Kamchatka dan menyeberangi jembatan darat Bering ke Alaska, Yukon, dan sebagian besar Amerika Utara. Rerumputan, semak berdaun lebar, dan belukar stepa yang pendek menyediakan makanan bergizi bagi mamut serta berbagai megafauna raksasa yang berbulu lebat—badak berbulu tebal, bison bertanduk panjang bertubuh raksasa, dan berang-berang sebesar beruang, di samping karnivora menyeramkan yang memburu binatang-binatang itu: macan gigi pedang, dubuk gua, serta beruang muka pesek raksasa.

Kemudian, antara 14.000 hingga 10.000 tahun lalu, mamut menghilang dari sebagian besar wilayahnya, bersamaan dengan hilangnya sebagian besar spesies mamalia besar di Belahan Bumi Utara—di beberapa daerah kepunahan ini bahkan mencapai 70 persen. Kepunahan ini demikian meluas, sehingga ada bermacam-macam bencana yang diduga para ilmuwan menyebabkannya—tabrakan meteor, kemarau dan kebakaran, serta penyakit-hiper mematikan yang menyebar antarspesies. Namun, karena kepunahan ini bersamaan waktunya dengan akhir zaman es terakhir, banyak peneliti yakin bahwa penyebab utama kematian massal itu adalah kenaikan suhu yang tajam, yang secara drastis mengubah tetumbuhan. Simulasi komputer baru-baru ini tentang perubahan lanskap pada kala Pleistosen akhir menunjukkan bahwa 90 persen habitat mamut menghilang. “Kami punya bukti kuat bahwa perubahan iklim memainkan peran penting dalam kepunahan mamut,” ujar Adrian Lister, seorang paleontolog dan pakar mamut di Natural History Museum di London. “Di Eurasia, kedua kejadian itu terjadi pada waktu berdekatan.”!break!

Namun, kepunahan itu juga bersamaan waktunya dengan datangnya kekuatan pengubah ekologi yang lain. Manusia modern muncul di Afrika sekitar 195.000 tahun lalu dan menyebar ke Eurasia utara sekitar 40.000 tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, populasi manusia yang bertambah besar semakin menekan spesies mangsa. Di samping memanfaatkan mamut sebagai makanan—jantan besar yang dibunuh pada musim gugur dapat menunjang kehidupan kawanan pemburu lapar melewati hari-hari paceklik di musim dingin—mereka menggunakan tulang dan gadingnya untuk membuat senjata, perkakas, patung, dan bahkan tempat tinggal. Beberapa ilmuwan percaya bahwa di samping perubahan iklim, para manusia pemburu yang menggunakan lembing lempar bermata batu runcing ini sama bertanggung jawabnya atas kematian massal tersebut. Beberapa beranggapan, manusialah penyebabnya. Perdebatan mengenai kepunahan megafauna adalah salah satu debat tersengit dalam paleontologi masa kini dan kemungkinan perdebatan itu tidak akan dituntaskan oleh satu spesimen, selengkap apa pun jasadnya. Akan tetapi, Khudi benar bahwa bayi yang sekarang hilang itu—daging, organ dalam, isi perut, tulang, gigi susu, dan gadingnya, semuanya utuh—pasti sangat menarik bagi dunia luar.

Khudi juga curiga bahwa orang yang mau menangani benda semacam itu mungkin akan mendapat untung besar—pedagang gading secara berkala mengunjungi wilayah itu untuk membeli gading mamut dan entah berapa yang akan mereka bayar untuk mamut utuh? Kecurigaan Khudi segera jatuh kepada salah seorang sepupunya yang oleh beberapa orang Nenets dilihat ada di beting itu dan kemudian terlihat pergi naik kereta rusa-kutubnya ke arah kota Novyy Port.

Khudi dan Serotetto bergegas mengejar dengan mobil salju. Setibanya, mereka melihat mamut kecil itu disandarkan di tembok sebuah toko. Orang-orang memotretnya dengan kamera ponsel. Si pemilik toko telah membeli jasad itu dari sepupu Khudi seharga dua mobil salju dan makanan untuk setahun. Walau tidak lagi sempurna—anjing geladak telah menggerogoti sebagian ekor dan telinga kanannya—berkat bantuan beberapa polisi lokal, Khudi dan Serotetto berhasil memperoleh kembali bayi itu. Jasad itu lalu dibungkus dan dikirim dengan helikopter untuk disimpan dengan aman di Museum Shemanovsky di Salekhard, ibu kota wilayah itu.

“Untungnya berakhir bahagia,” ujar Alexei Tikhonov, direktur Museum Zoologi St. Petersburg dan salah seorang ilmuwan pertama yang melihat bayi yang ternyata betina itu. “Yuri Khudi menyelamatkan mamut paling awet yang kita peroleh dari Zaman Es.”