Kisah Dua Kota

By , Kamis, 26 Februari 2015 | 11:22 WIB

Berlin dan Athena mungkin menjadi simbol dua kutub Eropa—yang pertama di utara, kelabu, dibatasi oleh daratan, kaya raya; yang kedua di pesisir Aegea, dengan aneka rumpun bugenvil di taman dan pepohonan jeruk sarat buah di sepanjang jalan.

Tetapi, keduanya sama-sama kurang sesuai dengan gambaran tersebut. Berlin sebagai ibu kota Teutonik berkobar dengan semangat kemerdekaan pascakomunisme, menikmati reputasinya sebagai ibu kota pesta pora Eropa. Sementara, ibu kota tua Yunani, gemerlap ditimpa sinar matahari Aegea, belum sepenuhnya bangkit dari krisis euro beberapa tahun silam—atau memulihkan diri dari kondisi yang memicunya. Matahari bersinar di Berlin; awan kegelisahan masih menaungi Athena.

Dalam banyak hal, kedua ibu kota ini memang mencerminkan keterbalikan: Athena, sklerotik, tegang, buntu, bermasa depan suram; Berlin, santai, pascaotoritarian, paling terbuka dan hangat di antara kota-kota besar Eropa lainnya, dan dengan kesuksesan sebagai satu-satunya masalah.

Keduanya adalah alfa dan omega Eropa modern. Kini mereka terikat nasib yang sama. Proyek besar Uni Eropa ini dirancang untuk memperbaiki kerusakan akibat genosida Hitler dan perang. Proyek ini melibatkan gerakan enam dekade menuju integrasi dan pemekaran. Tetapi, ada sebuah ketidaksesuaian di antara ke-19 negara di zona euro. Semuanya memiliki mata uang yang sama—euro—tetapi masing-masing negara menerapkan sistem perpajakan dan pengelolaan finansial publik yang berbeda.

Di Athena, masalah yang ada saat ini men­desak untuk segera diselesaikan. Amalia Zepou, antropolog dan pembuat film, mengungkapkan tentang “kekecewaan menyeluruh terhadap sistem politik sebagai sebuah keutuhan, perasaan tidak berdaya akibat keputusan yang diambil begitu jauh dari tempat Anda tinggal, dari diri Anda. Untuk apa Anda memilih? Untuk apa?”

!break!

Manipulasi pemilihan merupakan hal biasa di Athena. Kandidat-kandidat anggota dewan kota atau parlemen hanya bisa menang jika berkongkalikong dengan para pejabat dari jaringan pengendali-pemilihan tidak resmi. Kesepakatan dibuat. Para pendeta menawarkan jemaat mereka. Orang-orang yang mengendalikan pasar-pasar terbuka menghimpun suara para pemilik kios. Sejumlah besar kertas suara sudah ditandai sebelumnya untuk kandidat terpilih.

“Memang selalu begitu di Yunani,” Zepou menjelaskan. “Ini sistem kekeluargaan di desa, dan sangat manusiawi. Inilah cara kerja Yunani sejak dahulu—mengenal seseorang. Karena Anda akan selalu membutuhkan seseorang.”

Ada banyak cerita tentang krisis dan korupsi di Yunani, tentang tingginya tingkat pengemplangan pajak, tentang dokter-dokter yang tertangkap basah menilap jasa kesehatan nasional hingga 35 persen dari anggaran resep. Di bawah budaya korupsi ini terdapat residu jejaring pribadi, keyakinan tentang nilai luhur hubungan manusia yang jauh melampaui wewenang institusi. Orang Yunani kurang memercayai kemampuan birokrasi dalam memberikan keadilan.

“Di Berlin,” penyair dan jurnalis Kostas Kanavouris mengungkapkan, saat kami mengobrol di sebuah kafe di Athena, “semua orang merasa sebagai orang Berlin—siapa pun mereka, dari mana pun asal mereka, seberapa lama pun mereka di sana. Di Athena, tidak seorang pun pernah merasa sebagai orang Athena. Itulah perbedaannya. Di Berlin semua orang merasa berada di tempatnya. Di Athena semua orang memikirkan desa asal mereka. Dan bagaimana mereka bisa bertahan di kota jika mereka tidak kerasan.” Itulah yang menjadikan kedua kota ini kutub yang berlawanan: kota otoritas yang menyambut semua orang; kota jejaring-pribadi tempat kecemasan terlihat di setiap ruas jalan.

 !break!

Dalam krisis finansial global yang dimulai pada 2008, kerapuhan Eropa, perbedaan mendalam di bidang ekonomi dan budaya antara utara dan selatan, mulai terlihat. Jerman, yang memiliki penghasilan rata-rata 50 persen di atas Yunani, dengan produk domestik bruto (PDB) sepuluh kali lipatnya, sewajarnya berdiri di jajaran pemimpin, sementara krisis memunculkan berbagai masalah yang telah berpuluh-puluh tahun terpendam di Yunani.

Pada 2009, pemerintah Athena meng­ungkapkan bahwa angka defisit nasional mereka bukan 6,7 persen dari GDP, sebagaimana yang telah disampaikan oleh pemerintah sebelumnya, melainkan 12,5 persen, dengan utang nasional mencapai $400 miliar. Bank-bank Yunani menolak memberikan pinjaman, dan para investor memindahkan uang mereka dari Athena, sebagian besarnya ke Jerman yang aman. Pinjaman terbesar dalam sejarah ketika itu diberikan kepada pemerintah Athena: $146 miliar pada Mei 2010 dan $162,7 miliar pada Maret 2012. Namun, syaratnya berat. Penduduk Yunani harus mengubah gaya hidup, memotong pengeluaran, menggalakkan pajak, merampingkan sistem pensiun, menegakkan undang-undang, dan menerima pengawasan atas semua ini dari trio International Mone­tary Fund, European Central Bank, dan Berlin­dominated European Commission.

Dampak sosial di Yunani sangat besar. Pengangguran meningkat hingga 27 persen, dan belum turun hingga kini. Di Athena, penganggur berusia antara 15 dan 24 tahun hampir mencapai 62 persen. Selama enam tahun terakhir, ekonomi Yunani turun hingga 30 persen. Kota Athena porak-poranda akibat kerusuhan. Kekerasan terhadap imigran me­lonjak. Tetapi, tidak heran jika aura masalah dan kejemuan masih menyelimuti ibu kota Yunani.