Hawaii Sejati

By , Kamis, 16 April 2015 | 18:04 WIB
!break!

“Yokes” dianggap sebagai tempat pecahnya ombak terberat di West Side. Ombak besar dan kuat menggulung di daerah terumbu dangkal. Tetapi tanpa ragu-ragu Paishon bergabung dengan belasan peselancar yang sudah berada di air, dan sejenak kemudian dia mendominasi lapangan. Dia berselancar dengan keanggunan dan keberanian yang jarang saya lihat di video-video selancar profesional. Setengah jam kemudian dia mematahkan papannya menjadi dua bagian dan berenang kembali ke pantai.

Seorang penjaga pantai yang melihat aksinya berkata, “Jangan pernah menilai seekor ikan dengan kemampuannya memanjat pohon.”

Pernyataan yang kedengarannya misterius, tetapi bagi siapa pun yang mengenal Paishon dan sejarahnya, ini sangat masuk akal: Hanya segelintir peselancar di West Side yang menunjukkan bakat sebesar itu di air walaupun kehidupan mereka di darat penuh kesusahan. Ada kesamaan jelas antara kisah Paishon dan Buffalo Keaulana. Keduanya dibesarkan di tengah kemiskinan dan ketunawismaan, dan keduanya menemukan gairah hidup di laut. Tetapi, kalau Keaulana membawa talenta manusia airnya menuju ketenaran dan kehidupan yang nyaman, Paishon masih berjuang untuk menemukan tempatnya di dunia, memimpikan karier selancar profesional namun tidak melihat jalan menuju ke sana.

!break!

Seperti banyak orang di West Side, Paishon berasal dari beraneka ragam keturunan etnis. Ibunya, Sharon, adalah haole dari New Jersey. Ayahnya yang berbahasa pijin, Don, adalah keturunan imigran Portugis yang tiba di kepulauan itu lebih dari seabad silam—bersama orang-orang Tiongkok, Jepang, dan Filipina—untuk bekerja di perkebunan tebu. Garis pemisah antara penduduk asli dan pendatang sudah lama kabur, dan Don Paishon berasumsi bahwa dia dan putranya memiliki sekelumit darah Hawaii, walaupun tidak bisa memastikannya. Kendati begitu, ketika saya menanyakan apakah dia menganggap dirinya orang Hawaii, Sheldon mengangguk empatik. “Di sini,” katanya sambil menepuk dada. “Di hati.”

Walau Paishon membanggakan identitas Hawaii-nya, dia menghadapi banyak tantangan di West Side, sebagai salah satu lingkungan termiskin.

Ketika dia berusia 12, orangtuanya yang pengangguran tidak mampu lagi membayar apartemen mereka. Selama beberapa tahun berikutnya, keluarganya tinggal di sebuah tenda di utara Makaha, perkemahan tunawisma terbesar di Hawaii ketika itu. Sharon menderita depresi, dan Don mengisap “es”, sebutan populer untuk metamfetamin. “Saya menyukai sensasi suntikan energi dan mabuknya,” Don memberi tahu saya.

Bagi anak-anak mereka, bagaikan kamping di neraka yang diperpanjang waktunya. “Menjijikkan, bau, hujan, dingin, dan menakutkan,” Paishon mengenang. “Kaki seribu berukuran besar-besar merayap di dalam tenda. Banyak pasir di ranjang. Ini berbeda dari yang orang-orang kira.” Sebuah ember dijadikan toilet, dan menu makan malam biasanya daging babi dan kacang-kacangan yang dipanaskan di atas api unggun.

!break!

Seperti Keaulana, Paishon memperoleh kedamaian di laut. Dia memiliki bakat alam dalam olah raga ini, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menarik perhatian seorang paman. Mereka membantunya dengan memberi lebih banyak papan selancar selain makanan, pakaian, dan petuah—simpangan modern dari sistem hānai di Hawaii, di mana keluarga secara informal mengadopsi anak-anak teman atau kerabat dan membesarkan mereka selayaknya anak mereka sendiri. “Kamilah keluarganya yang sesungguhnya di sini,” kata salah seorang paman.

Saat Paishon berusia awal remaja, dia rutin mengikuti kejuaraan selancar junior Oahu yang sangat kompetitif. Para saingannya datang di antar orangtua mereka, membawa kanopi pantai, kamera video, boks pendingin, dan papan selancar yang ditempeli logo-logo sponsor. Paishon tidak punya sponsor dan sudah beruntung kalau ibunya mau datang membawa handuk pantai.

Lain cerita di sekolah, tempat Paishon berjuang menaklukkan matematika dasar dan membaca, dan diejek oleh teman-teman sekelasnya gara-gara baju-bajunya berjamur. “Semua orang mengolok-olok saya karena mereka tahu bahwa saya gelandangan,” katanya. “Mereka menjuluki saya peselancar kumuh.” Dia mulai membolos demi selancar. Ketika dia masuk, para guru memarahinya karena dia membaca majalah selancar di dalam kelas. Dia berhenti dalam upaya menyelesaikan kelas sembilan.

Sepasang suami istri yang anaknya berkompetisi melawan Paishon di kejuaraan junior menawarinya tinggal di rumah mereka dan membiayainya mengikuti kejuaraan-kejuaraan selancar di Calfornia dan tempat-tempat lainnya. Namun, ibu Paishon menolak menandatangani surat kuasa pengacara. “Padahal mungkin itu lebih baik,” kata Paishon. “Mungkin saat ini saya sudah menjadi juara dunia.”

!break!

Beberapa luka dibuat sendiri. Paishon mengakui bahwa dia sempat bergaul dengan orang-orang yang salah dan mengisap pakalolo—mariyuana—yang kadang-kadang dia bayar dengan menjual salah satu papan selancar pemberian orang lain.  “Saya pernah menempeleng kepalanya,” kata salah seorang paman. “Saya bilang kepadanya, ‘Kamu menyia-nyiakan bakat, satu lagi bakat yang terbuang di daerah Waianae, satu lagi jiwa yang melayang.”

Cobaan terberat datang ketika Paishon dituduh mencuri $1.200 dari pacar seorang penyelenggara kejuaraan. Paishon tidak pernah dihukum, tetapi reputasinya hancur. Sponsor-sponsor potensial berpaling darinya.

Pada suatu larut malam di musim semi, saya bermobil dengannya melewati Waianae High School, saat upacara wisuda angkatan 2013—angkatan Paishon, seandainya dia masih sekolah—sedang berlangsung. Paishon membisu menyaksikan para lulusan dengan gembira membanjiri jalan bersama orangtua dan saudara-saudara mereka. Akhirnya dia berkata, “Seandainya saya lulus.”

Enam bulan kemudian saya mendengar bahwa Paishon sudah mendapatkan pekerjaan. Seorang teman menyuruhnya mencuci mobil. “Semua orang memandang saya dengan cara berbeda sekarang karena saya sudah bekerja,” katanya. “Ini langkah maju saya.” Dia berencana memanfaatkan gajinya untuk membiayai perjalanan selancar ke Indonesia, kemudian pulang ke Hawaii untuk mengikuti putaran kejuaraan baru yang diharapkannya akan menarik perhatian sponsor. “Sebelumnya saya tidak mengetahui apa yang saya inginkan,” katanya. “Sekarang saya tahu. Menjadi peselancar profesional. Itulah impian saya.”

!break!

Setelah kegagalan pertama saya berselancar di Makaha, saya menemui Bruce DeSoto, anggota salah satu keluarga paling terpandang di Makaha. Saya meminta nasihat darinya. Dia menjawab, “Ketika ada orang baru memasuki antrian, kami berharap mereka memperkenalkan diri dan paling tidak menyapa.” Dia melanjutkan, “Yang paling mendasar adalah rasa hormat. Kalau Anda menunjukkan rasa hormat, Anda akan disambut baik, dan sesudah itu Anda bisa berselancar di tempat kami kapan pun Anda mau. Tetapi, kalau Anda tidak menunjukkan rasa hormat, berarti Anda punya masalah.”

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan nasihat ini. Gelombang besar datang, dan ombak-ombak yang muncul lebih besar daripada yang sudah-sudah. Saya mendayung dan mengobrol dengan seorang pria Hawaii tegap berusia awal 40-an. Ternyata dia penjaga pantai di Makaha yang bekerja sampingan membentuk papan selancar. Dia bercerita dengan bangga tentang ketiga anaknya dan rencana mereka mengikuti kejuaraan selancar di Honolulu.

Kemudian kami berdua melihat ombak tinggi. Saya menatapnya. Untuk saya? Anggukan tegasnya seolah-olah berkekuatan telepati. Saya mendayung sekuat tenaga dan menjatuhkan diri ke ombak itu, tembok air biru kobalt besar berketinggian 2,5 meter yang membaya saya melewati karang.

---

John Lancaster menulis profil ibu kota Kazakhstan, Astana, di edisi Februari 2012. Karya terbaru fotografer Paul Nicklen adalah “Yukon: Canada’s Wild West” untuk edisi Februari 2014.