Tragedi Laut Aral

By , Kamis, 21 Mei 2015 | 17:57 WIB

Panen kapas masih bertahan hingga sekarang. Setiap musim gugur sekitar dua juta dari 29 juta warga Uzbekistan secara “sukarela” me­metik tiga miliar kilogram kapas negara itu. “Uzbekistan merupakan satu-satunya tempat di dunia yang pemerintahnya mengatur dan me­wajibkan kerja paksa, dan dipimpin langsung oleh presidennya,” kata Steve Swerdlow, direk­tur biro Asia Tengah LSM Human Rights Watch.

“Tidak terbayang,” kata Kamalov, sambil menoleh ke arah saya dari kursi depan Land Cruiser kami, “bahwa 40 tahun lalu tempat ini terendam air sedalam 30 meter.”

Sopir kami menunjuk ke depan, ke arah awan cokelat tebal yang bertiup melintasi padang pasir. Beberapa detik kemudian kami terbenam dalam debu berbahaya yang dengan cepat menyusup ke dalam kendaraan. Debu itu memerihkan mata, dan sangat terasa garamnya, yang langsung membuat saya mual.

!break!

Angin puyuh ini hanyalah salah satu dari banyak konsekuensi ekologi yang tidak diduga oleh para perencana Soviet. “Para ahli geo­kimia memperkirakan bahwa setelah laut kering, kerak natrium klorida yang keras akan ter­bentuk di permukaan dan tidak akan ada badai garam,” kata Micklin. “Mereka salah besar.”

Selain tingkat natrium klorida yang sangat tinggi, debu itu juga mengandung pestisida. Zat kimia itu sudah merasuk ke setiap tingkat piramida makanan. Kasus kanker kerongkongan yang terjadi di Karakalpakstan saat ini 25 kali lebih tinggi daripada rata-rata dunia. TB MDR, tuber­kulosis yang resistan terhadap banyak obat, me­njadi masalah utama, sementara penyakit pernapasan, kanker, cacat lahir, dan gangguan imunologi juga merebak.

Yang lebih menakutkan, ternyata Laut Aral dulu merupakan tempat fasilitas rahasia pengujian senjata biologi Soviet. Fasilitas di Pulau Vozrozhdeniya—yang dengan keringnya laut tidak lagi merupakan pulau—merupakan tempat pengujian utama bagi Grup Perang Mikrobiologi tentara Soviet. Ribuan hewan dikirim ke pulau ini, dijadikan kelinci percobaan terhadap antraks, cacar, pes, bruselosis, dan senjata biologi lainnya.

Departemen Luar Negeri AS mengirimkan tim pembersihan ke sana pada 2002. Sejak saat itu, tidak ditemukan mikroorganisme pembawa penyakit dalam debu, tetapi wilayah sekitarnya secara sporadis terjangkit wabah penyakit.

Dalam perjalanan menuju ke laut, kami melewati puluhan anjungan minyak dan gas alam yang bertaburan di gurun datar yang selebihnya berupa pasir terputihkan matahari. Menurut Kamalov, anjungan bermunculan tidak lama setelah laut mulai surut, dan bertambah setiap tahun. “Jelas ini menciptakan halangan besar bagi pemerintah untuk berupaya menaik­kan kembali permukaan lautnya,” katanya.

!break!

Selama berjam-jam, kami terpontang-panting di jalan tanah berlubang. Selain putih pasir dan biru langit, warna lain yang terlihat hanyalah hijau kusam semak saxaul dan sesekali merah dadu kembang tamariska.

Akhirnya tampaklah garis perak berkilau di cakrawala, yang kian bertambah besar sampai kami tiba di perkemahan orang Tiongkok yang terdiri atas beberapa yurt di tepi laut. Mereka berada di sini untuk memanen Artemia parthenogenetica, sejenis udang air laut yang merupakan satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di danau ini. Saat Aral masih sehat, airnya payau, dengan tingkat salinitas 10 gram per liter (rentang salinitas lautan di dunia 33-37 gram per liter). Sekarang salinitasnya melebihi 110 gram per liter, sehingga mematikan bagi semua jenis ikan. Pasir berlumpur di tepinya terasa basah, seperti pantai yang airnya sedang surut. Padahal, di Aral tidak ada pasang naik—yang terjadi adalah penyusutan laut yang benar-benar kasatmata.

“Pokoknya jangan berhenti,” teriak Kamalov, saat dia berjalan mengarungi pasir isap sedalam lutut dengan hanya bercelana dalam. Saya ikut di belakangnya, tertatih-tatih sampai mencapai kedalaman air selutut. Saya mencoba berenang, tetapi kaki saya selalu terapung, sehingga sulit untuk maju. “Sudah, berbaring saja,” kata Kamalov. Saya menurut, dan rasanya seperti sedang berbaring di atas pelampung. Saya tidur berbantalkan air. Hampir seluruh badan saya berada di atas permukaan.

Malam itu kami berkemah di dataran tinggi dan memasak makanan dengan api dari ranting saxaul mati. Sambil duduk di atas karpet Persia menghadap ke laut, Kamalov menuangkan vodka ke gelas.