Taman Kota

By , Kamis, 24 Maret 2016 | 18:00 WIB

Saya berada di dekat hilir Cheonggyecheon ketika mendengar seorang penyanyi.Saya mengikuti suaranya menuju panggung kecil di bawah jembatan.Kelompok musik tengah memainkan lagu—dengan cengkok khas Korea.

Saya duduk di bangku, di pinggir sekumpulan pensiunan dan mendengarkan. Seorang wanita dengan senyum manis bersikeras mengajak saya berdansa. Kami menari bersama musik, berpegangan tangan, berpadu bagaikan kota dan taman yang membelahnya.

“Di sinilah semuanya dimulai,” ujar Amy Meyer ketika kami memasuki halaman Fort Miley, bagian dari Area Rekreasi Taman Nasional Golden Gate, di ujung barat laut San Francisco. Seekor coyote berdiri di tengah jalan dan memandang kami, sepertinya tak hendak bergegas pergi. Walaupun National Park Service bertahun-tahun hadir di berbagai kota, pembangunan Golden Gate dianggap sebagai titik balik dalam gerakan taman kota.

Meyer kini berusia 82. Dia berprofesi sebagai ibu rumah tangga pada 1969, saat mendengar rencana pembangunan pusat arsip di Fort Miley, benteng besar yang lama terbengkalai, beberapa blok dari rumahnya. Dia mulai mengorganisir massa untuk menyelamatkan lokasi itu agar dibiarkan menjadi ruang terbuka, dan akhirnya bergabung dengan aktivis di seberang Jembatan Golden Gate yang khawatir, bahwa meluasnya suburban akan menghancurkan kecantikan menawan daerah Marin Headlands.

Golden Gate, bersama Area Rekreasi Taman Nasional Gateway di New York dan New Jersey, didirikan pada 1972. Taman-taman baru ini melambangkan gerakan Park Service untuk melebarkan sayap mereka dari taman alam liar ke tempat yang lebih mudah diakses dan lebih dekat dengan kota besar Amerika. Sebagaimana yang dikatakan oleh Walter Hickel, sekretaris dalam negeri dan mantan gubernur Alaska, “Kita harus membawa alam ke tengah manusia, bukan membiarkan mereka tinggal di lingkungan yang terkungkung beton.”

Masyarakat jelas mendukung Golden Gate, salah satu tempat yang terbanyak dikunjungi dalam sistem taman nasional, menyedot sekitar 15 juta pengunjung setiap tahun. Taman ini membentang di kedua sisi pintu masuk menuju Teluk San Francisco, dengan pantai, tebing menjulang, pepohonan redwood, dan sisa instalasi militer. Ada pula Alcatraz, tempat 4.000 turis per hari turun dari kapal feri untuk mengikuti tur bekas penjara federal.

Taman ini amat meriah: Penduduk setempat berjalan pagi melewati turis, permainan Frisbee dan pesta di lapangan pada akhir pekan, dan anjing yang diikat maupun dilepas di mana-mana. Kebanyakan pengunjung tidak menyadari, mereka berada di dalam taman nasional. Itu bisa dimengerti.Tidak ada gerbang megah. Hal yang lebih membingungkan, San Francisco juga memiliki Taman Nasional Golden Gate, bersebelahan dengan taman nasional dekat laut.

Semua ini menghasilkan ragam hal yang mencengangkan, dari pelayang gantung dan politisi, hingga peselancar dan komuter. Perdebatan mengenai cara terbaik untuk mengelola sumber daya di sana, bisa memanas.

!break!

“Kita hidup di negara demokrasi, dan demokrasi bisa berantakan,” ujar Chris Lehnertz, Superintenden Golden Gate.

Lehnertz bekerja sama dengan pemerintah setempat, menjalankan strategi pendampingan tunawisma, masalah di banyak taman kota. “Saya memandang tunawisma yang bermalam di sini sebagai pengunjung,” katanya, “seperti jika saya melihat orang yang membawa anjing mereka berjalan-jalan di jalur yang tertata rapi.”

Di suatu pagi, saya mengendarai mobil sekitar delapan kilometer di selatan San Francisco menuju Gigir Milagra, bagian terpencil taman nasional yang menyajikan pemandangan menawan Samudra Pasifik. Pada puncak Perang Dingin, tempat ini menjadi basis misil, dengan kawat berduri dan anjing penjaga.Gigir ini masuk ke dalam Golden Gate. Menjulang di atas lautan perumahan, ia menjadi pulau yang tenteram dan tangguh, suaka bagi spesies terancam seperti katak kaki merah california.

Tahun lalu, untuk merayakan ulang tahun ke-100, National Park Service meluncurkan Agenda Urban.Ini merupakan kelanjutan, walaupun lebih mendesak, dari panggilan aksi yang telah ada dan dimulai pada 1970-an. Laporan menjelaskan bahwa hal ini adalah bisnis yang baik.Dan dengan demografi Amerika yang berubah dengan cepat, ini juga politik yang baik untuk menjadikan instansi lebih relevan saat Amerika semakin urban dan beragam.