Bincang Redaksi-31: Gagasan Bung Karno Demi Daulat Pangan Indonesia

By Mahandis Yoanata Thamrin, Sabtu, 31 Juli 2021 | 13:40 WIB
Bung Karno memiliki gagasan untuk pangan mandiri, beragam, dan berkelanjutan. Apakah gagasannya masih aktual untuk kita? (Beeld Hollandse Hoogte/Spaarnestad P )

Nationalgeographic.co.id—“Kepada orang yang lapar tidak bisa diberikan kepadanya pemikiran revolusi,” kata Bung Karno. Sang Raksasa Muda, julukan Indonesia pada 1950-an, berdiri di atas fondasi pangan yang rapuh.

Bung Karno menyadari krisis pangan pada tahun-tahun awal kemerdekaan. Dia berupaya membangkitkan cita rasa daerah-daerah di penjuru Indonesia sebagai identitas dan siasat di meja makan kenegaraan sampai pelipur lapar-lara.

Pada masa 1950-1960-an tercatat banyak musisi yang menyambut seruan Bung Karno untuk menaikan derajat dan mencintai makanan lokal. Seruan yang ingin menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki banyak ragam makanan, dan karena itu tidak akan kelaparan.

Sampul majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2021, yang mengangkat isu pangan nasional visi Bung Karno: Gagasan Daulat Pangan. (National Geographic Indonesia)

Para seniman mengekspresikan dalam lagu-lagu irama keroncong sampai pop. Dari Soto Bandung, Semanggi Suroboyo, Gado-Gado Betawi, Dondong Apa Salak, sampai Genjer-genjer.

Menjawab tantangan krisis pangan saat itu, Bung Karno menegaskan kembali sikapnya dalam pidato 17 Agustus 1963. Dia menyerukan untuk tidak meminta-minta kepada asing.

“Jika kita tak sanggup menyediakan sandang pangan di negara kita yang kaya ini, ini menunjukkan kita bodoh, kita benar-benar bodoh,” imbuhnya. “Lebih baik tetap makan gaplek, daripada makan enak karena bantuan asing tapi kemudian tetap diperbudak!”

Baca Juga: Sekerat Hikayat Menu Babi Nusantara sampai Resep Warisan Bung Karno

Bung Karno memainkan jemarinya di sepiring nasi dalam sebuah jamuan prasmanan resmi. (ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA)

Impian makanan enak dan sehat untuk bangsanya ini dituangkan dalam proyek buku masak Mustikarasa. Ketika buku ini terbit pada 1967, tampak Bung Karno tak ingin orang Indonesia hanya makan nasi beras. Ada 1.600 resep, sebagian besar adalah resep daerah. Akan tetapi, ada pula resep dari mancanegara—Meksiko, Eropa, Tiongkok, dan Arab yang disesuaikan dengan cita rasa Indonesia.

Bung Karno memiliki visi yang membawa pemahaman pangan cita rasa Indonesia dalam perspektif budaya dan geografis yang berkelanjutan. Saat itu pangan hadir sebagai siasat diplomasi di meja makan sampai pelipur lapar-lara.

Baca Juga: Bung Karno dan Sate Sebagai Penyambung Lidah Rakyat Asia-Afrika

(National Geographic Indonesia)

Akankah gagasannya mewujudkan pangan yang mandiri, beragam, berkelimpahan, dan berkelanjutan terwujud? Bagaimana peran generasi digital untuk kemandirian lidah lokal?

"Revolusi belumlah selesai," ujar Bung KArno pada akhir kuasanya. Simak pembahasannya di Bincang Redaksi-31 bertajuk “Gagasan Bung Besar Demi Daulat Pangan” bersama:

Ary Budiyanto—Penyuka cita rasa Nusantara, Antropolog Universitas Brawijaya di Malang

Mahandis Yoanata Thamrin—Tuan Rumah Bincang Redaksi, Managing Editor National Geographic Indonesia

Mengudara pada Sabtu, 7 Agustus 2021 pukul 15.30 – 16.30 WIB. Silakan mendaftar via pranala bit.ly/bincangredaksi-31

 

Wajah Indonesia sekitar Januari-Februari 1947. Deretan perempuan yang sedang menunggu di depan pintu masuk untuk membeli makanan. (Cas Oorthuys/Nederlands Fotomuseum)

Baca Juga: Tan Hong Boen dari Tegal, Penulis Pertama Riwayat Hidup Bung Karno