Dewi Sri, Sosok Perempuan Sebagai Penjaga Kemakmuran Alam Semesta

By Fikri Muhammad, Selasa, 24 Agustus 2021 | 16:00 WIB
Munjinah menikmati kesehariannya sebagai petani padi di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedari duduk di bangku SD, Munjinah telah akrab dan menghabiskan waktu bermainnya di sawah. (Donny Fernando/National Geographic Indonesia)

Upacara yang masih dilaksanakan di Bali seperti tumpek wariga atau acara untuk pepohonan (eka Pramana) dan tumpek kandang (uye) upacara untuk binatang (dwi pramana). 

Suburnya pepohonan adalah sebagai wujud budaya peladang. Di mana gunung dan ladang terawat, di sana terdeia polo bungkah-polo gantung (tetumbuhan maupun pepohonan) hidup sebagai bukti kedaulatan pangan dan bentuk implementasi pelestarian alam.

Dewi Sri dipuja di masyarakat agraris dan pesisir. Wujudnya sama tapi nama-namanya saja yang berbeda.

"Tergantung sekto yang mana, kalo agraris dewi sri yang diagungkan tanpa mengecilkan yang lain. Walaupun kita berkiblat di India, ketika di indonesia ada akulturasinya," ucap Wayan.

"Tinggal sebutan di masyarakat setempat. Di Lombok disebut Malandika. Masyarakat menghormatinya dengan turun ke laut untuk mengambil cacing antara Februari dan Maret," tambahnya.

Di Magelang ada seni pertunjukan Wayang Wong Sakral oleh Cipto Budoyo di Dusun Tutup Ngisor. Melalui pertunjukan wayang wong ini diceritakan pertemuan Dewi Sri dan Dewa Wishnu pada kisah tentang kemakmuran dan ditampilkan tiga kali setahun. 

Baca Juga: Apa Kabar, Dewi-dewi Nusantara Penjaga Kemakmuran Alam Semesta?

Dewi Sri, patung dari kuningan asal Jawa. (ROUTES GALLERY)

Mereka juga melakukan arak-arakan kesenian tradisional dengan mengelilingi Dusun Tutup Ngisor Magelang sebagai rangkaian aktivitas Pemuliaan Dewi Sri. 

Sementara di Bali, aktivitas pemujaan Dewi Sri ada dalam tradisi Budaya Subak (organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi). Mereka melakukan proses penanaman hingga padi disimpang di lumbung.

Kegiatannya meliputi: Mapag Toya (menjemput air), Nuwasen Mewinih (menabur bibit padi), Ngendag Amacul (mulai mengolah tanah), Nandur (menanam), Ngerainan (padi berumur 1,5 bulan), Ngiseh (awal bulir padi tumbuh), Mabyekukung (padi mulai menguning), Nyangket (perujudan Ratu Nini/Dewi Sri), Mantenin (menyimpan padi Lumbung).

"Pemujaan dan pemuliaan kepada Dewi Sri setelah panen padi atau gabah di bawa ke rumah kemudian di simpan di lumbung sebagai bentuk persediaan pangan dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari," kata Wayan.

Baca Juga: Penemuan Patung Hygieia, Dewi Kesehatan Dalam Mitologi Yunani di Turki

Arca Dewi Sri, sekitar 1920-1930. Foto oleh Georg Friedrich Johannes Bley. (TROPENMUSEUM)

 

Di Jawa Barat, ada upacara saren taun Sunda Wiwitan. Menempatkan padi sebagai alat atau media utama sejak awal hingga akhir pertunjukan mempertemukan padi lanag wadon sebagai benih  pertanian.

Pertunjukan ritual juga dilakukan sebagai bentuk ucapan rasa sykur dan hormat kepada Nyi Pohaci Sang Hyang Sri.

Bumi, dipercaya sebagai lambang ibu pertiwi, penghasil berbagai tanaman kehidupan. Adanya kisah Dewi ini menjadi refleksi kita untuk kehidupan sehari-hari. 

"Di mana perempuan dihormati, di situ ada kemakmuran," kata Wayan. 

 Baca Juga: Cinta Sejati dan Berharga Panji Kudawaningpati Bersama Dewi Angreni