Bagaimana Hubungan Sains dan Agama?

By , Selasa, 29 Juli 2014 | 13:10 WIB
Wikipedia Commons
!break!

Bakteri muntah

Dalam masa berabad-abad yang memisahkan Newton dengan Darwin, banyak pemikir besar memandang ilmu pengetahuan meningkatkan bukti adanya Tuhan. Pandangan seperti itu mendukung pandangan bahwa insting lebah, keindahan anggrek dan konstruksi mata dan tangan manusia menunjukkan kekuasaan dan kebaikan Tuhan.

Sekarang pendukung gerakan Intelligent Design atau Disain Pintar menemukan bukti kekuasaan dan kebaikan Tuhan pada ekor berputar bakteri E. coli.

Sejumlah orang mungkin terkejut bahwa bakteri penyebab muntah adalah bukti paling jelas tentang kepintaran Tuhan.

Pandangan keagamaan tradisional jelas menghadapi tekanan dari kalangan ilmu pengetahuan dalam 400 tahun terakhir. Temuan astronomi modern, geologi dan biologi memastikan bahwa buku-buku Musa tidak dapat diterima secara ilmiah.

Tetapi tentu saja hal tersebut tidak perlu dilihat seperti itu. Galileo menyuarakan pandangan banyak orang saat mengatakan Injil menyatakan cara ke surga bukannya hilangnya surga.

Ilmu pengetahuan dan agama memiliki hubungan yang erat dan bermasalah, sama seperti antara saudara kandung atau bahkan suami istri. Keduanya mengagungkan kebesaran dunia, dan berkeinginan untuk mengetahui apa yang terjadi dibelakangnya.

Kehausan terhadap emosi dan intelektual akan berlangsung lebih lama daripada teori-M Profesor Hawking, dan orang-orang yang berkeinginan mengadopsi pandangan ilmu pengetahun murni dinasehatkan untuk mengikuti pendangan agnostik Thomas Huxley. Sebelum meninggal dia menulis "Bukankah lebih baik untuk tidak berkomentar tentang materi karena kata-kata tidak dapat menggambarkan hal ini; dengan berpuas diri pada kepastian hal-hal yang tidak diketahui yang terus terjadi?"