Kuliner Ekstrem: Bulu Babi hingga Gurita yang Dimakan Hidup-Hidup

By Utomo Priyambodo, Senin, 18 Oktober 2021 | 13:00 WIB
Sannakji, si sajian gurita hidup dari Korea. (tomcensani, flickr/National Geographic News)

3. Ikan

Di Jepang, kamu bisa makan ikizukuri, atau ikan fillet yang disajikan saat jantung ikan itu masih berdetak dan mulut ikan itu masih terengah-engah. Tubuh ikan yang hancur itu disusun di atas piring dengan kepalanya yang terlihat masih hidup digunakan sebagai hiasan. Untuk alasan etis, hidangan ini dilarang di banyak negara.

Ikizukuri, ikan fillet yang disajikan saat jantung ikan itu masih berdetak dan mulut ikan itu masih terengah-engah. (Wikimedia Commons)

Hidangan ikan hidup juga populer di Tiongkok. Hidangan ini disebut sebagai "ikan yin yang," di mana tubuh ikan digoreng dengan cepat dan disajikan saat kepalanya masih segar dan bergerak.

4. Udang

Odori Ebi adalah hidangan Jepang berupa sashimi yang berisi udang muda yang masih hidup dan masih bisa menggerakkan kaki dan antenanya saat dimakan. Makanannya disiapkan dengan cepat, dan sering kali udang dituang ke dalam sake sehingga membuat udang mabuk itu sebelum dimakan.

Baca Juga: Sedap! Santapan Favorit Diktator Dunia, Ada yang Aneh dan Sederhana

Hidangan (Flickr/Kwong Eats)

Hidangan "udang mabuk" juga populer di Tiongkok. Dalam hidangan ini, udang pertama kali disiram dengan minuman keras yang membuat krustasea kecil itu mabuk dan pingsan. Piring biasanya diletakkan di atas mangkuk tempat udang itu disiram dengan minuman keras untuk mencegah udang tersebut melompat keluar.

5. Gurita

Di Korea, sajian makanan berupa gurita yang masih hidup disebut sebagai sannakji. Dalam hidangan kuliner ini, gurita keci dipotong-potong dan disajikan saat masih hidup dan menggeliat, dan dianggap sebagai makanan lokal yang lezat.

Hidangan sannakji, gurita yang dimakan hidup-hidup. (Flickr/Lyu Slide)

Para penikmat Sannakji tak hanya menikmati rasa daging segar. Mereka juga sensasi tabung-tabung hisap yang masih aktif di lengan-lengan gurita saat menempel di mulut, bahkan di tenggorokan mereka. Para pemula yang baru mencoba makanan ini disarankan untuk mengunyah gurita tersebut hingga halus sepenuhnya sebelum menelannya untuk menghindari risiko tersedak.

Baca Juga: Kenapa Daging Perut Babi Begitu Digilai oleh Orang-orang Korea?